Posted by: Indonesian Children | January 9, 2009

Biduran, Giduan, Urtikaria Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa

Urtikaria  

Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa

 Widodo Judarwanto. Children Allergy Center Jakarta Indonesia.

Urtikaria atau biduran adalah penyakit alergi yang sangat mengganggu dan membuat penderita atau dokter kadang frustasi. Frustasi karena pada keadaan tertentu gangguan ini sering hilang timbul tanpa dapat diketahui secara pasti penyebabnya. Kesulitan mencari penyebab ini terjadi karena faktor yang berpengaruh sangat banyak dan sulit dipastikan. Secara umum yang mendasari utama biasanya adalah penderita memang punya bakat alergi kulit yang didasari oleh alergi makanan dan dipicu oleh hilang timbulnya infeksi virus dalam tubuh (gejalanya demam, sumeng atau tanpa demam, pilek, badan pegal  (sering dikira kecapekan), batuk atau gangguan saluran cerna).

Bila dalam keadaan sehat pengaruh alergi makanan sangat ringan atau bila tidak cermat seperti tanpa gejala. Tetapi hal yang ringan bila tidak dikenali ditambah berbagai faktor resiko dan bila terjadi infeksi virus maka urtikaria baru akan timbul. Sayangnya alergi makanan sebagai penyakit mendasari ini tidak bisa dipastikan dengan tes alergi, karena tes alergi spesifitasnya rendah bila untuk mencari penyebab alergi makanan. Hal inilah yang membuat penanganan urtikaria lebih sulit lagi, khususnya dalam mencari penyebabnya. Pemberian obat jangka panjang adalah bentuk kegagalan mencari penyebabnya. Bila urtikaria ini sudah terjadi jangka panjang maka bila penderita mengalami serangan flu atau infeksi virus ringan saja akan dapat memicu kekambuhannya.

Urtikaria

  • Urtikaria merupakan penyakit yang sering ditemukan, diperkirakan 3,2-12,8% dari populasi pernah mengalami urtikaria.  
  • Urtikaria adalah erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal. Urtikaria dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang.  
  • Urtikaria akut biasanya berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari (kurang dari 6 minggu) dan umumnya penyebabnya dapat diketahui. Urtikaria kronik, yaitu urtikaria yang berlangsung lebih dari 6 minggu, dan urtikaria berulang biasanya tidak diketahui pencetusnya dan dapat berlangsung sampai beberapa tahun. Urtikaria kronik umumnya ditemukan pada orang dewasa.  
  • Urtikaria juga dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, yaitu imunologi, anafilaktoid dan penyebab fisik. Reaksi imunologi dapat diperantarai melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, tipe II atau III. Sedangkan reaksi anafilaktoid dapat disebabkan oleh angioedema herediter, aspirin, zat yang menyebabkan lepasnya histamin seperti zat kontras, opiat, pelemas otot, obat vasoaktif dan makanan (putih telur, tomat, lobster). Secara fisik, urtikaria dapat berupa dermatografia, cold urticaria, heat urticaria, solar urticaria, pressure urticaria, vibratory angioedema, urtikaria akuagenik dan urtikaria kolinergik.

 

Urticaria pada penderita dengan infeksi virus 

Urticaria 

 

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT  

  • Pada gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sel perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sel mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan.
  • Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal.
  • Bila pembuluh darah yang terangsang adalah pembuluh darah jaringan subkutan, biasanya jaringan subkutan longgar, maka edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak gatal karena jaringan subkutan mengandung sedikit ujung saraf perifer, dinamakan angioedema. Daerah yang terkena biasanya muka (periorbita dan perioral).
    Urtikaria disebabkan karena adanya degranulasi sel mast yang dapat terjadi melalui mekanisme imun atau nonimun.
  • Degranulasi sel mast dikatakan melalui mekanisme imun bila terdapat antigen (alergen) dengan pembentukan antibodi atau sel yang tersensitisasi. Degranulasi sel mast melalui mekanisme imun dapat melalui reaksi hipersensitivitas tipe I atau melalui aktivasi komplemen jalur klasik.
  • Faktor infeksi pada tubuh diantaranya infeksi viru (demam, batuk dan pilek) merupakan faktor pemicu pada urtikaria yang paling sering terjadi namun sering diabaikan
  • Beberapa macam obat, makanan, atau zat kimia dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast. Zat ini dinamakan liberator histamin, contohnya kodein, morfin, polimiksin, zat kimia, tiamin, buah murbei, tomat, dan lain-lain. Masih belum jelas mengapa zat tersebut hanya merangsang degranulasi sel mast pada sebagian orang saja, tidak pada semua orang.
  • Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin), gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran (vibrasi) dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast.
  • Latihan jasmani (exercise) pada seseorang dapat pula menimbulkan urtikaria yang dinamakan juga urtikaria kolinergik. Bentuknya khas, kecil-kecil dengan diameter 1-3 mm dan sekitarnya berwarna merah, terdapat di tempat yang berkeringat. Diperkirakan yang memegang peranan adalah asetilkolin yang terbentuk, yang bersifat langsung dapat menginduksi degranulasi sel mast.
  • Faktor psikis atau stres pada seseorang dapat juga menimbulkan urtikaria. Bagaimana mekanismenya belum jelas.

MANIFESTASI KLINIS 

  • Klinis tampak bentol (plaques edemateus) multipel yang berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat pula berwarna putih di tengah yang dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Ukuran tiap lesi bervariasi dari diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).
  • Tiap lesi akan menghilang setelah 1 sampai 48 jam, tetapi dapat timbul lesi baru.
  • Pada dermografisme lesi sering berbentuk linear, pada urtikaria solar lesi terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Pada urtikaria dingin dan panas lesi akan terlihat pada daerah yang terkena dingin atau panas. Lesi urtikaria kolinergik adalah kecil-kecil dengan diameter 1-3 milimeter dikelilingi daerah warna merah dan terdapat di daerah yang berkeringat. Secara klinis urtikaria kadang-kadang disertai angioedema yaitu pembengkakan difus yang tidak gatal dan tidak pitting dengan predileksi di muka, daerah periorbita dan perioral, kadang-kadang di genitalia. Kadang-kadang pembengkakan dapat juga terjadi di faring atau laring sehingga dapat mengancam jiwa.

Udara dingin dan debu bukan penyebab

Selama ini penderita menganggap bahwa penyebab urtikaria adalah udara dingin dan debu. Padahal udara dingin hanya sebagai faktor yang memperberat. Sedangkan debu bisa mengganggu kulit dengan bentuk yang berbeda, bila penyebabnya debu hanya timbul 2-6 jam setelah itu menghilang. Debu sebagai penyebab hanya dalam jumlah banyak seperti   rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, bila bongkar-bongkar kamar, bila terdapat karpet tebal yang permanen, bila masuk gudang, boneka atau baju yang lama disimpan dallam gudang atau lemari.

Faktor Resiko Yang memperberat Urtikaria :

  • INFEKSI (panas, batuk, pilek)
  • AKTIFITAS MENINGKAT (menangis, berlari, tertawa keras)
  • UDARA DINGIN
  • UDARA PANAS
  • STRES
  • GANGGUAN HORMONAL: (kehamilan, menstruasi)

Faktor pemicu tidak akan berpengaruh bila penyebab utama alergi tidak ada. Artinya, bila penyebabnya alergi makanan tidak ada atau dikendalikan maka udara dingin, udara panas, stres, infeksi virus,  dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh. Jadi, udara dingin dan faktor pemicu lainnya hanya memperberat bukan penyebab utama.

DIAGNOSIS 

  • Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan inspeksi kulit yaitu adanya lesi khas berupa bentol berwarna merah, berbatas tegas, gatal, memutih bila ditekan. Yang sulit adalah mencari etiologinya.
    Untuk menemukan etiologi perlu dilakukan anamnesis yang teliti dan terinci serta pemeriksaan fisis lengkap. Anamnesis terhadap faktor lingkungan seperti debu, tungau debu rumah, binatang peliharaan, tumbuh-tumbuhan, karpet, sengatan binatang, serta faktor makanan termasuk zat warna, zat pengawet, obat-obatan, faktor fisik seperti dingin, panas, cahaya dan sebagainya perlu ditelusuri.
    Pemeriksaan fisis yang menunjukkan bentuk khas dapat diduga penyebabnya seperti lesi linear, lesi kecil-kecil di daerah berkeringat, dan lesi hanya pada bagian tubuh yang terbuka. Bila dari anamnesis dan pemeriksaan fisis belum dapat ditegakkan etiologinya, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang.

Bagaimana mendeteksi bahwa Makanan berperanan dalam urtikaria

Alergi makanan dapat dicurigai ikut berperanan dalam gangguan urtikaria bila terdapat gangguan saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :

  • Pada Bayi :  bayi mengalami Gastrooesepageal Refluks,  Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada Anak dan dewasa : Keluhan muntah sejak bayi berkurang tetapi masih ada. Pada usia dewasa masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. MUAL pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering NYERI PERUT. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”.

DIAGNOSIS BANDING 

  • Angioedema herediter Kelainan ini merupakan kelainan yang jarang tidak disertai urtikaria. Pada kelainan ini terdapat edema subkutan atau submukosa periodik disertai rasa sakit dan terkadang disertai edema laring. Edema biasanya mengenai ekstremitas dan mukosa gastrointestinalis yang sembuh setelah 1 sampai 4 hari. Pada keluarga terdapat riwayat penyakit yang serupa. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan kadar komplemen C4 dan C2 yang menurun dan tidak adanya inhibitor C1-esterase dalam serum.
  • Sengatan serangga multipel Pada sengatan serangga akan terlihat titik di tengah bentol, yang merupakan bekas sengatan serangga.

  

Pressure urticaria 

 

Urticaria pigmentosa (Darier sign). 

Urticaria pigmentosa. 

Urticaria pigmentosa.

Urticaria pigmentosa.Urticaria pigmentosa. 

Urticaria pigmentosa.

PENGOBATAN 

  • Pengobatan yang palin utama adalah ditujukan pada penghindaran faktor penyebab dan pengobatan simtomatik.
  • Pada urtikaria akut generalisata dan disertai gejala distres pernafasan, asma atau edema laring, mula-mula diberi larutan adrenalin 1% dengan dosis 0,01 ml/kgBB subkutan (maksimum 0,3 ml), dilanjutkan dengan pemberian antihistamin penghambat H1 (lihat bab tentang medikamentosa). Bila belum memadai dapat ditambahkan kortikosteroid.
  • Pada urtikaria akut lokalisata cukup dengan antihistamin penghambat H1.
  • Urtikaria kronik biasanya lebih sukar diatasi. Idealnya adalah tetap identifikasi dan menghilangkan faktor penyebab, namun hal ini juga sulit dilakukan. Untuk ini selain antihistamin penghambat H1 dapat dicoba menambahkan antihistamin penghambat H2. Kombinasi lain yang dapat diberikan adalah antihistamin penghambat H1 non sedasi dan sedasi (pada malam hari) atau antihistamin penghambat H1 dengan antidepresan trisiklik. Pada kasus berat dapat diberikan antihistamin penghambat H1 dengan kortikosteroid jangka pendek.
  • Bila pada penderita terjadi gangguan saluran cerna (seperti gejala yang tersebut di atas) maka sangat mungkin alergi makanan ikut berperanan memperberat gangguan urtikaria yang ada.  Untuk menanganinya lakukan eliminasi makanan beresiko (lihat topik mencari penyebab alergi makanan)  dalam waktu 3 minggu secara ketat dan dilakukan evaluasi
PROGNOSIS 
  • Pada umumnya prognosis urtikaria adalah baik, dapat sembuh spontan atau dengan obat.
  • Tetapi karena urtikaria merupakan bentuk kutan anafilaksis sistemik, dapat saja terjadi obstruksi jalan nafas karena adanya edema laring atau jaringan sekitarnya, atau anafilaksis sistemik yang dapat mengancam jiwa.

 DAFTAR PUSTAKA

  • Zuberbier T, Maurer M. Urticaria: current opinions about etiology, diagnosis and therapy. Acta Derm Venereol. 2007;87(3):196-205.
  • Irinyi B, Szeles G, Gyimesi E, Tumpek J, Heredi E, Dimitrios G, et al. Clinical and laboratory examinations in the subgroups of chronic urticaria. Int Arch Allergy Immunol. 2007;144(3):217-25.
  • Chang S, Carr W. Urticarial vasculitis. Allergy Asthma Proc. Jan-Feb 2007;28(1):97-100.
  • Guldbakke KK, Khachemoune A. Etiology, classification, and treatment of urticaria. Cutis. Jan 2007;79(1):41-9.
  • Smith PF, Corelli RL. Doxepin in the management of pruritus associated with allergic cutaneous reactions. Ann Pharmacother. May 1997;31(5):633-5.
  • Beltrani VS. Urticaria: reassessed. Allergy Asthma Proc. May-Jun 2004;25(3):143-9.
  • Pollack CV Jr, Romano TJ. Outpatient management of acute urticaria: the role of prednisone. Ann Emerg Med. Nov 1995;26(5):547-51.
  • Powell RJ, Du Toit GL, Siddique N, Leech SC, Dixon TA, Clark AT, et al. BSACI guidelines for the management of chronic urticaria and angio-oedema. Clin Exp Allergy. May 2007;37(5):631-50.
  • Kulthanan K, Jiamton S, Thumpimukvatana N, Pinkaew S. Chronic idiopathic urticaria: prevalence and clinical course. J Dermatol. May 2007;34(5):294-301.
  • Brown NA, Carter JD. Urticarial vasculitis. Curr Rheumatol Rep. Aug 2007;9(4):312-9.
  • Zuberbier T, Bindslev-Jensen C, Canonica W, Grattan CE, Greaves MW, Henz BM, et al. EAACI/GA2LEN/EDF guideline: management of urticaria. Allergy. Mar 2006;61(3):321-31.
  • Lin RY, Curry A, Pesola GR, Knight RJ, Lee HS, Bakalchuk L, et al. Improved outcomes in patients with acute allergic syndromes who are treated with combined H1 and H2 antagonists. Ann Emerg Med. Nov 2000;36(5):462-8.
  • Jáuregui I, Ferrer M, Montoro J, Dávila I, Bartra J, del Cuvillo A, et al. Antihistamines in the treatment of chronic urticaria. J Investig Allergol Clin Immunol. 2007;17 Suppl 2:41-52.
 KUMPULAN ARTIKEL PENTING TENTANG ALERGI MAKANAN 
 

 

 
 

  

 
 
 


Provided by
dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician
Children’s Allergy Center Online
Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak

Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/   

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.   

   

   

   

Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved 

 

About these ads

Responses

  1. wah membantu banget infonya,kebetulan saya sepertinya kena urtikaria kronik soalnya sudah berjalan selama 3 bulan setiap malam sampai pagi hari.saya sudah konsultasi ke 2 dokter dirumah sakit terkemuka di bandung tetapi selama minum obat memang berkurang tapi setelah berhenti ada lagi.bagaimana cara mengatasinya ya dan apa obat yang paling ampuh???
    terima kasih….

  2. selamat sore Dok .maaf saya sharing aja pak.saya punya anak dari usia 4 bulan dan sekarang sudah usia 2.1/2 tahun diagnosa ulticaria pigmentosa.saya sudah berobat rutin ke Dr kulit .sampai sekarang kok timbul atau bercaknya semakin banyak ya..
    bgm mengatasinya..dan apakah bekas hitam di seluruh tubuhnya bisa senbuh. mohon saran dari Dokter..
    Sebelumya saya ucapkan terima kasih.

    • Ibu Sri Wulandari. memang urticaria ini relatif sulit mengatasinya karena sulit mencari penyebab. Hal ini terjadi karena faktor yang berpengaruh tidak sedikit. Pada putra ibu yang berusia 4 bulan faktor yang sangat berpengaruh adalah infeksi dan alergi makanan keduanya harus dicermati. Infeksi virus pada bayi kadangkala sulit dikenali walaupun oleh dokter, kadang gejalanya hanya sering bersin, badan sedikit sumeng (tidak demam), batuk sekali-sekali (tidak sering), napas bunyi grok-grok). Biasanya ini terjadi karena di rumah ada yang sering flu (sering dianggap alergi, alergi dfan flu kadang sulit dibedakan. Penderita alergi biasanya sering mengalami flu), atau masuk angin sering badan pegal (sering dianggap kecapekan).
      Alergi makanan berkaitan dengan pemberian makanan pada ibu bila minum ASI atau pemberian susu formula yang tidak tepat.
      Dua hal ini perlu dicermati secara jeli. Pemakaian obat jangka panjang menunjukkan kegagalan mencari penyebabnya.

  3. saya sepertinya juga kena urtikaria, kalau pas lagi mumcul sampai berbulan bulan, ini sudah terjadi sejak saya umur 7 tahun tapi sampai sekarang belum sembuh juga? kalau lagi muncul bentol bentol sekujur tubuh,gatal banget, digaruk garuk sepertinya tidak ngefek, saya pernah dengar urtikaria tidak bisa sembuh, apa benar..? saya berharap ada obatnya dan bisa sembuh…, tolong bantu saya, trima kasih banyak……..

    • Urtikaria lebih dari 4 minggu sering disebut urtikaria kronik. Urticaria kronik sangat sulit mengatasinya karena sulit mencari penyebab. Hal ini terjadi karena faktor yang berpengaruh sangat banyak. Dua faktor utama yang berpengaruh biasanya adalah infeksi virus dan makanan. Infeksi virus pada kadangkala sulit dikenali walaupun oleh dokter, kadang gejalanya hanya sering bersin, badan sedikit sumeng (tidak demam), batuk, napas bunyi grok-grok). Penderita alergi biasanya sering mengalami flu, atau tampak dengan gejala masuk angin sering badan pegal (sering dianggap kecapekan) atau meriang.
      Alergi makanan sering mendasari gangguan ini. Pengaruh alergi makanan biasanya tidak secara langsung. Alergi makanan tidak bisa di tes melalui tes alergi atau tes alergi tidak bisa memastikan penyebab alergi makanan karena untuk beberpa makanan sensitifitasnya rendah. Artinya bila hasil tes negatif belum tentu tidak alergi makanan. Hal inilah yang sering mengacaukan atau membingungkan dokter atau penderita. Bila dalam keadaan tidak serangan makanan tadi hanya berpengaruh ringan seperti gatal di lipatan tangan dan kaki bagian dalam. bisulan, bintitan pada mata, kulit kering, sering kulit gatal seperti digigit nyamuk. Bila hal yang ringan ini tidak diperbaiki maka bila timbul infeksi virus di tubuh maka gejala urtikaria ini akan memberat, Makanya biasanya urtikaria ini hilang timbul kadang ringan kadang berat. Saat berat inilah biasanya sedang timbul infeksi virus dalam tubuh (seperti demam, sumeng. flu, batuk pilek)
      Dua hal ini perlu dicermati secara jeli. Pemakaian obat jangka panjang menunjukkan kegagalan mencari penyebabnya.

  4. I want to share this link on Facebook, how to do it? can you give me advice?
    thank you..

  5. [...] Biduran, Giduan, Urtikaria Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa [...]

  6. [...]  Biduran, Giduan, Urtikaria Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa [...]

  7. [...]  Biduran, Giduan, Urtikaria Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa [...]

  8. [...] Biduran, Giduan, Urtikaria Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers

%d bloggers like this: