Posted by: Indonesian Children | May 17, 2009

SUSU HIPOALERGENIK PARSIAL BUKAN UNTUK PENDERITA ALERGI SUSU SAPI

SAAT INI BAIK ORANG TUA ATAU KLINISI MASIH BANYAK YANG  MENGANGGAP BAHWA SUSU HIPOALERGINIK  SEPERTI SUSU NAN HA, ENFAMIL HA DAN NUTRILON HA ADALAH SUSU UNTUK PENDERITA ALERGI SUSU SAPI, PENDAPAT TERSEBUT SEBENARNYA ADALAH TIDAK BENAR

YANG BENAR :

SUSU HIPOALERGENIK PARSIAL TERSEBUT BUKAN UNTUK PENDERITA ALERGI SUSU SAPI TETAPI UNTUK PENCEGAHAN ALERGI.

  • REKOMENDASI PEMBERIAN SUSU PROTEIN HIDROLISAT SEMPURNA (NEOCATE, PEPTI JUNIOR, PREGESTIMIL ) ATAU SUSU SOYA ADALAH UNTUK PENDERITA ALERGI SUSU SAPI YANG SUDAH MENDAPATKAN GEJALA ALERGI
  • SUSU HIDROLISAT SEBAGIAN ATAU PARSIAL SEPERTI NAN HA, ENFA HA DAN NUTRILION HA ADALAH UNTUK PENCEGAHAN ALERGI BUKAN UNTUK PENDERITA ALERGI SUSU SAPI. Pencegahan alergi artinya bayi yang sudah terpapar protein susu sapi tapi belum mengalami manifestasialergi kembali diberi ASI atau ganti mengonsumsi susu hipoalergenik. Di usia batita, anak perlu diperkenalkan dengan susu sapi agar sistem metabolisme tubuhnya mengenal protein susu sapi dan secara perlahan toleran terhadap susu sapi formula biasa.
  • MINUM SUSU HIPOLERGENIK PARSIAL BUKN BERARTI ALERGI SUSU SAPI

Latar Belakang

  • Dalam beberapa dekade belakangan ini prevalensi dan perhatian terhadap alergi susu sapi semakin meningkat. Susu sapi sering dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada anak yang paling sering Beberapa penelitian di beberapa negara di dunia prevalensi alergi susu sapi pada anak dalam tahun pertama kehidupan sekitar 2%. Sekitar 1-7% bayi pada umumnya menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sedangkan sekitar 80% susu formula bayi yang beredar di pasaran ternyata menggunakan bahan dasar susu sapi.
  • Susu sapi dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada anak yang paling sering dan paling awal dijumpai dalam kehidupannya. Alergi susu sapi adalah suatu penyakit yang berdasarkan reaksi imunologis yang timbul sebagai akibat pemberian susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi.
  • Deteksi dan pencegahan alergi susu sapi harus dilakukan dengan cermat sejak dini. Pitfall diagnosis alergi susu sapi sering dialami karena gejalanya mirip gejala reaksi simpang  komponen susu sapi formula dan pengaruh diet ibu saat pemberian ASI.
  • Saat ini seringkali didapatkan setiap anak mengalami gejala alergi dianggap mengalami alergi susu sapi dan diganti dengan susu hipoalergenik parsial

PENCEGAHAN ALERGI SUSU SAPI

  • Pencegahan terjadinya alergi susu sapi harus dilakukan sejak dini. Hal ini terjadi saat sebelum timbul sensitisasi terhadap protein susu sapi, yaitu sejak intrauterin. Penghindaran harus dilakukan dengan pemberian susu sapi hipoalergenik yaitu susu sapi yang dihidrolisis parsial untuk merangsang timbulnya toleransi susu sapi di kemudian hari. Bila sudah terjadi sensitisasi terhadap protein susu sapi atau sudah terjadi manifestasi penyakit alergi, maka harus diberikan susu sapi yang dihidrolisis sempurna atau pengganti susu sapi misalnya susu kacang kedele.
  • Alergi susu sapi yang sering timbul dapat memudahkan terjadinya alergi makanan lain di kemudian hari bila sudah terjadi kerusakan saluran cerna yang menetap. Pencegahan dan penanganan yang baik dan berkesinambungan  sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya alergi makanan yang lebih berta dikemudian hari..Tindakan pencegahan alergi susu sapi juga hampir sama seperti yang dilakukan pada alergi lainnya. Secara umum tindakan pencegahan alergi susu sapi dilakukan dalam 3 tahap yaitu:
  • Pemberian ASI ekslusif terbukti dapat mengurangi resiko alergi, tetapi harus diperhatikan diet ibu saat menyusui Selain itu juga disertai tindakan lain misalnya pemberian imunomodulator, Th1-immunoajuvants, probiotik. Tindakan ini bertujuan mengurangi dominasi sel limfosit Th2, diharapkan dapat terjadi dalam waktu 6 bulan.
  • Pemberian susu sapi yang dihidrolisis sempurna atau pengganti susu sapi. Pemberian obat pencegahan seperti setirizin, imunoterapi, imunomodulator tidak direkomendasikan karena secara klinis belum terbukti bermanfaat.
  • Penghindaran susu sapi harus dikerjakan sampai terjadi toleransi sekitar usia 2-3 tahun sehingga harus diberikan susu pengganti formula soya atau susu sapi hidrolisat sempurna dan makanan padat bebas susu sapi dan produk susu sapi
  • Pemberian susu adalah merupakan masalah yang tersendiri pada penderita alergi susu sapi. Untuk menentukan penderita alergi susu sapi pilihan utama adalah susu ektensif hidrolisat. Tetapi beberapa penderita juga bisa toleran terhadap susu soya. Beberapa bayi dengan gejala alergi yang ringan dapat mengkonsumsi susu hodrolisat parsial. Meskipun sebenarnya susu ini untuk pencegahan alergi bukan untuk pengobatan.

Pencegahan primer

  • Dilakukan sebelum terjadi sensitisasi. Saat penghindaran dilakukan sejak pranatal pada janin dari keluarga yang mempunyai bakat atopik. Penghindaran susu sapi berupa pemberian susu sapi hipoalergenik, yaitu susu sapi yang dihidrolisis secara parsial, supaya dapat merangsang timbulnya toleransi susu sapi di kemudian hari karena masihmengandung sedikit partikel susu sapi, misalnya dengan merangsang timbulnya IgG blocking agent. Tindakan pencegahan ini juga dilakukan terhadap makanan penyebab alergi lain serta penghindaran asap rokok. Meskipun demikian AAAI hanya merekomendasikan penghondaran [pemberian kacang-kacangan selama kehamilan.

Pencegahan sekunder

  • Dilakukan setelah terjadi sensitisasi tetapi belum timbul manifestasi penyakit alergi. Keadaan sensitisasi diketahui dengan cara pemeriksaan IgE spesifik dalam serum atau darah talipusat, atau dengan uji kulit. Saat tindakan yang optimal adalah usia 0 sampai 3 tahun. Penghindaran susu sapi dengan cara pemberian susu sapi non alergenik, yaitu susu sapi yang dihidrolisis sempurna, atau pengganti susu sapi misalnya susu kedele supaya tidak terjadi sensitisasi lebih lanjut hingga terjadi manifestasi penyakit alergi..
  • Pemberian ASI ekslusif terbukti dapat mengurangi resiko alergi, tetapi harus diperhatikan diet ibu saat menyusui Selain itu juga disertai tindakan lain misalnya pemberian imunomodulator, Th1-immunoajuvants, probiotik. Tindakan ini bertujuan mengurangi dominasi sel limfosit Th2, diharapkan dapat terjadi dalam waktu 6 bulan.

Pencegahan tersier

  • Dilakukan pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjukkan manifestasi penyakit alergi yang masih dini misalnya dermatitis atopik atau rinitis tetapi belum menunjukkan gejala alergi yang lebih berat seperti asma. Saat tindakan yang optimal adalah pada usia 6 bulan sampai 4 tahun.

 

 

Daftar Pustaka

  • Flinterman AE, Knulst AC, Meijer Y, et al. Acute allergic reactions in children with AEDS after prolonged cows’ milk elimination diets. Allergy 2006; 61: 370–4.[CrossRef][Medline]
  • Hill DJ, Firer MA, Shelton MJ, et al. Manifestations of milk allergy in infancy: clinical and immunologic findings. J Pediatr 1986; 109: 270–6.[CrossRef][Medline]
  • Ewing WM, Allen PJ. The diagnosis and management of cow milk protein intolerance in the primary care setting. Pediatr Nurs 2005; 31: 486–93.[Medline]
  • de Boissieu D, Dupont C. Allergy to extensively hydrolysed cows’ milk proteins in infants: safety and duration of amino acid-based formula. J Pediatr 2002; 141: 271–3.[CrossRef][Medline]
  • Bahna SL. Cows’ milk allergy versus cow milk intolerance. Ann Allergy Asthma Immunol 2002; 89(Suppl 1): 56–60.[Medline]
  • Sicherer SH, Noone SA, Koerner CB, et al. Hypoallergenicity and efficacy of an amino acid-based formula in children with cows’ milk and multiple food hypersensitivities. J Pediatr 2001; 138: 688–93.[CrossRef][Medline]
  • Restani P, Gaiaschi A, Plebani A, et al. Cross-reactivity between milk proteins from different animal species. Clin Exp Allergy 1999; 29: 997–1004.[CrossRef][Medline]
  • Spuergin P, Walter M, Schiltz E, et al. Allergenicity of alpha-caseins from cow, sheep, and goat. Allergy 1997; 52: 293–8.[CrossRef][Medline]
  • Agostoni C, Axelsson I, Goulet O, et al. Soy protein infant formulae and follow-on formulae: a commentary by the ESPGHAN Committee on Nutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2006; 42: 352–61.[CrossRef][Medline]
  • Nowak-Wegrzyn A, Sampson HA, Wood RA, et al. Food protein-induced enterocolitis syndrome caused by solid food proteins. Pediatrics 2003; 111: 829–35.[Abstract/Free Full Text]
  • Host A. Frequency of cow’s milk allergy in childhood. Ann Allergy Immunol 2002; 89(Suppl 1): 33–7.[Medline]
  • Klemola T, Vanto T, Juntunen-Backman K, et al. Allergy to soy formula and to extensively hydrolyzed whey formula in infants with cows’ milk allergy: a prospective, randomized study with a follow-up to the age of 2 years. J Pediatr 2002; 140: 219–24.[CrossRef][Medline]
  • Vanto T, Juntunen-Backman K, Kalimo K, et al. The patch test, skin prick test, and serum milk-specific IgE as diagnostic tools in cows’ milk allergy in infants. Allergy 1999; 54: 837–42.[CrossRef][Medline]
  • Shek LP, Soderstrom L, Ahlstedt S, et al. Determination of food specific IgE levels over time can predict the development of tolerance in cows’ milk and hen’s egg allergy. J Allergy Clin Immunol 2004; 114: 387–91.[CrossRef][Medline]
  • Saarinen KM, Pelkonen AS, Makela MJ, et al. Clinical course and prognosis of cows’ milk allergy are dependent on milk-specific IgE status. J Allergy Clin Immunol 2005; 116: 869–75.[CrossRef][Medline]
  • Host A, Koletzko B, Dreborg S, et al. Dietary products used in infants for treatment and prevention of food allergy. Arch Dis Child 1999; 81: 80–4.[Free Full Text]
  • American Academy of Pediatrics Committee on Nutrition. Hypoallergenic infant formulas. Pediatrics 2000; 106: 346–9.[Abstract/Free Full Text]
  • Isolauri E, Tahvanainen A, Peltola T, et al. Breast-feeding of allergic infants. J Pediatr 1999; 134: 27–32.[CrossRef][Medline]
  • Isolauri E, Sutas Y, Salo MK, et al. Elimination diet in cows’ milk allergy: risk for impaired growth in young children. J Pediatr 1998; 132: 1004–9.[CrossRef][Medline]
  • and unhomogenized milk. Clin Exp Allergy 1990; 20: 383–7.[CrossRef][Medline]
  • Giampietro PG, Kjellman NIM, Oldaeus G, et al. Hypoallergenicity of an extensively hydrolyzed whey formula. Pediatr Allergy Immunol 2001; 12: 83–6.[CrossRef][Medline]
  • Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr 1997; 131: 658–60.[Medline]

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email :  judarwanto@gmail.com\

htpp://www.childrenallergyclinic.wordpress.com/

 

 

 

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Responses

  1. Dokter yg baik……saya pasangan muda dan sudah punya bayi usia 3,5 bln, dari mulai lahir bayi saya dikasih ASI tapi karna gak cukup dibantu dgn susu nutrilo royal 1 tetapi setelah 3 bln bayi saya mengalami diare stlh dibawa ke Doter anak menurut Dokter anak dtempat saya, bayi saya tsb mengalami alergi protein susu sapi sejak umur 3 bln, ciri-cirinya BAB nya kadang encer berwarna biru bnyk lendir bau dan bercampur darah…disaranin Dokter tsb ganti susu nya dengan Emfamil HA, sejak diganti BABnya gak bercampur darah lg tetapi masih berlendir dan bau nya gak enak….
    gmna ya dok apa betul bayi saya alergi protein susu sapi….?
    atau ada penyakit lain, soalnya BAB nya ber lendir campur darah….?
    mohon jawban dokter dan terimakasih……

  2. Dokter yg baik……saya pasangan muda dan sudah punya bayi yg skarang sdh usia 8 bln, dari mulai lahir bayi saya dikasih ASI tapi pemberian hanya sampai usia 3 bulan kemudian disambung dgn susu nutrilo royal 1 tetapi setelah usia 4 bulan berjalan bayi saya mengalami diare dan bintik2 merah stlh dibawa ke Doter anak menurut Dokter anak dtempat saya, bayi saya tsb mengalami alergi protein susu sapi sejak umur 3 bln, ciri-cirinya BAB nya kadang encer berwarna kuning bnyk lendir bau dan sering…disaranin Dokter tsb ganti susu nya dengan Enfamil HA, sejak diganti BABnya bagus dan berubah, tetapi skrng timbul batuk berlendir, kemerahan dimata
    gmna ya dok apa betul bayi saya alergi protein susu sapi….? bagaimana untuk pengobatan dan susu apa yg dokter rekomendasikan, karna saya skrng sedang mencoba susu Vitalac BL

    mohon jawban dan bantuan dari Dokter dan sblumnya terimakasih banyak.

    • Kesulitan paling besar penanganan alergi makanan adalah mencari penyebabnya karena tes alergi akurasinya tidak tinggi untuk memastikan penyebab alergi makanan. Alergi susu sapi memang adalah alergi paling awal yang terjadi pada bayi. tetapi setiap gejala alergi tidak harus disebabkan karena makanan. ternyata infeksi virus atau makanan lain seperti makanan ibunya lewat ASi dan makanan tambahan lain dapat menyebabkan memperberat gejala alergi. Infeksi virus yang terjadi pada bayi sulit dibedakan dengan alergi karena infeksi juga dapat memperberat alergi. Infeksi virus pada bayi bisa tanpa panas atau hanya badan hangat di telapak tangan, sering bersin (tidak mengeluarkan ingus) atau nafas bunyi grok-grok dan batuk hanya sekali-sekali tidak sering. Hal ini akan lkebih sering terjadi bila dirumah ada yang sering mengalami infeksi dengan gejala sering masuk angin, kecapekan atau pilek. Penyebab lain adalah infeks virus. Baca juga Infeksi Virus Memicu Terjadinya Manifestasi Alergi http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2010/10/21/infeksi-memicu-terjadinya-manifestasi-alergi/.

      Kalau melihat riwayat anak ibu tampaknya sangat mungkin bukan alergi susu sapi karena saat minum susu nutrilon royal dalam satu bulan tidak ada masalah. Gejala timbul setelah 1 bulan minum susu sapi. Hal ini berarti penyebabnya bisa karena infeksi virus diare atau makanan tambahan lainnya. Bila gangguan kulitnya banyak dan parah biasanya bukan karena makanan tetapi alergi yang dipicu infeksi. Pada anak ibu kalaupun alaupun terjadi ketidakkcocokan suus terjadi gejala yang ringan. Setelah vitalac BL boleh dilakukan trial and error dengan SGM ata chilmil non platinum. kalau menggantu susu baru harus pas sehat tidak ada keluhan. Kalau minum susu dalam 1-2 minggu tidak ada keluhan kemudian berikutnya terjadi keluhan penyebabnya bukan susu tetapi karena makanan atau infeksi virus. Makanan tambahan lain juga harus diperhatikan.

      Coba baca Pencegahan Alergi Sejak Dini : Kenali Gejala dan Tanda Alergi sejak Lahir. http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/08/17/pencegahan-alergi-sejak-dini-kenali-gejala-dan-tanda-alergi-sejak-lahir/. Bila terdapat beberapa tanda dan gejala gangguan saluran cerna maka sangat mungkin semua keluhan yang ada berkaitan dengan alergi makanan atau hipersensitif makanan. Penyebab lain adalah infeks virus. Baca juga Infeksi Virus Memicu Terjadinya Manifestasi Alergi http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2010/10/21/infeksi-memicu-terjadinya-manifestasi-alergi/

      Lakukan eliminasi provokasi makanan selama 3 minggu dan amati berbagai gejala yang timbul seperti daftar di atas. Coba lakukan eliminasi provokasi makanan selama 3 minggu makan makanan di daftar basic elimination dan step one, makann dalam daftar step two dan high risk dihindari dulu. Kalau minum ASI sementara ibu menghindari daftar makan golongan high risk intervention. Nanti daftar makanan akan dikirim lewat email.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers

%d bloggers like this: