Posted by: Indonesian Children | July 20, 2009

DIET GOLONGAN DARAH ATAU ALERGI MAKANAN

BENARKAH DIET GOLONGAN DARAH BERMANFAAT ? 

 

 

 

Dalam pertemuan arisan keluarga seorang ibu dengan yakinnya memuji penemu diet golongan darah. Setelah mengikuti diet golongan darah A berbagai gangguan yang selama ini timbul berangsur membaik. Belum sampai ceritanya terputus, seorang ibu lainnya menyanggah dengan cepat, ‘apa diet golongan darah, yang ada cuman lapar tetapi penyakit tetap “nongol” terus”.

Diet golongan darah ternyata sudah menjadi fenomena besar di Indonesia, bahkan di dunia internasional. Fenomena ini telah ramai dibicarakan di negara Amerika sepuluh tahun lalu. Dalam lima tahun belakangan ini Indonesia juga terkena imbasnya. Bayangkan, dengan temuan diet golongan darah tersebut ternyata, ternyata mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Buku terbitan diet golongan darah laris bak kacang goreng. Pebisnis di bidang kuliner juga tak menyia-nyikan kesempatan ini. Muncul rumah makan dengan menu golongan darah, ice cream golongan darah, jus golongan darah. Benarkah diet golongan darah bermanfaat, atau memang malah merugikan?
 

 

 

Temuan besar tentang diet golongan darah ini sampai saat ini masih menjadi kontroversi di dunia kedokteran. Secara medis temuan tersebut tidak berdasarkan evidence base medicine atau kejadian medis berbasis bukti. Dalam era modern dunia kedokteran, setiap tindakan dan terapi medis harus berdasarkan penelitian secara ilmiah. Bila tidak terbukti maka pendapat dan teori tersebut belum layak digunakan dalam masyarakat.

 

Teori Dr. Peter J. D’Adamo.
Dr. Peter J. D’Adamo sekitar tahun 1996 di Amerika memperkenalkan cara baru diet dengan mendasarkan pada golongan darah manusia. D’Adamo adalah seorang naturopatis dari Stamford, Connecticut Amerika. Meskipun seorang dokter tetapi dalam kehidupan professional sehari-hari bergerak di bidang terapi alternatif atau non medis.
Dalam bukunya berjudul “Eat Right For Your Type”, Dr. D’Adamo menyebutkan bahwa manusia yang memiliki tipe darah berbeda pasti memiliki respon atau tanggapan terhadap makanan yang berbeda pula. Gagasan ini berakar pada sejarah evolusi, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan golongan darah (O, A, B, dan AB).



Teori evolusi yang dianutnya adalah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang dimiliki manusialah yang menyebabkan terjadinya perubahan tipe darah. Adaptasi yang terkait dengan makanan dikonsumsi, diyakini menjadi kunci sehat nenek moyang kita.


Penelitian selama bertahun-tahun atas tipe darah yang dilakukannya menunjukkan bahwa ada efek fisiologis yang muncul akibat lektin yang masuk dalam tubuh. Lektin adalah protein yang terdapat pada umumnya makanan, khususnya biji-bijian dari tanaman polong-polongan. Setiap protein yang terserap tubuh lewat makanan yang kita asup, menurutnya, masing-masing hanya cocok dengan tipe darah tertentu. Kalau makanan tersebut lektinnya tidak cocok dengan tipe darah, akan terjadi bahaya.

Bahaya itu berupa menggumpalnya sel darah merah. Proses yang disebut aglutinasi yang dilakukan lektin inilah yang mengakibatkan munculnya banyak keluhan kesehatan.
Dalam penelitian tersebut telah dikategorikan 16 kategori makanan. Terdiri dari: daging dan unggas; hasil laut; susu dan telur; minyak dan lemak; kacang dan biji-bijian; buncis dan polong-polongan; sereal; roti dan aneka kue; padi-padian dan pasta; sayur-sayuran; buah-buahan; jus dan segala macam cairan; rempah-rempah dan bumbu; teh-teh herbal; dan bermacam-macam minuman. Makanan-makanan ini masih dimasukkan dalam golongan sangat baik, netral, atau harus dihindari sesuai tipe darah. Golongan sangat baik bisa diartikan bahwa makanan itu bekerja bagaikan obat. Golongan netral berarti makanan tersebut bekerja sebagaimana yang pengaruhnya kecil bagi tubuh. Golongan dihindari berarti makanan bertindak bagaikan racun bagi tubuh.


Namun sayangnya teori dan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Dr. Peter J. D’Adamo, tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran dan tidak termasuk penelitian yang memenuhi kelayakan ilmiah. Sampai saat ini, belum dijumpai hasil penelitian golongan darah dalam pubmed online atau publikasi penelitian ilmiah online yang diakui dunia medis internasional. Penelitian yang diterima secara ilmiah harus memenuhi berbagai kelayakan penelitian, seperti uji klinis kasus control (double blind study), metodologi penelitian dan sebagainya.

Telaah di bidang medis

 

Meskipun dunia kedokteran menentang teori ini, tetapi tidak boleh menutup mata. Logika umum mengatakan, bahwa mungkin saja ada kelebihan dibalik teori ini. Buktinya teori dan pendapat ini menjadi “booming” di mana-mana, baik di dunia internasional ataupun di Indonesia.

Di bidang kedokteran memang telah diakui adanya reaksi simpang makanan yang dialami oleh banyak individu manusia. Reaksi simpang makanan adalah reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh paparan terhadap makanan. Berbagai organ tubuh yang terganggu, dapat berupa diare, nyeri perut, konstipasi (sulit berak), asma, nyeri tulang, berat badan sulit naik, sakit kepala, badan lemas. Bahkan berbagai temuan ilmiah menyebutkan bahwa makanan tersebut ternyata dapat menganggau otak dan perilaku manusia, seperti sakit kepala, migrain, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, agresifitas mengikat, gangyuan tidur dan gangguan perilaku lainnya. Bahkan berbagai penelitian biomolekular tentang penghindaran makanan terhadap penderita autism dan ADHD, yang ternyata menghasilkan perbaikan gejala yang bermakna.

Reaksi simpang makanan tersebut bisa karena alergi makanan, intoleransi makan,celiac (ketidak cocokan terhadap gluten atau terigu) dan lain-lain. Alergi makanan adalah reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe 1. Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi laktase, maltase atau respon idiosinkrasi pada pejamu. Sebenarnya di bidang kedokteran sering terjadi beda pendapat tentang hal ini. Karena, untuk memastikan makanan penyebab alergi dan intoleransi sangat sulit. Mencari penyebab makanan yang mengganggu tersebut bukan berdasarkan tes alergi, tes darah atau berbagai tes lainnya. Untuk memastikannya, harus berdasarkan eliminasi provokasi atau trial and errors. Dalam 3 minggu makanan yang dicurigai dihindari kemudian setelah keluhan membaik dilakukan provokasi tiap jenis makanan yanbg dicurugai sambil diamati gejala yang timbul.


Keberhasilan yang terjadi pada penganut diet golongan darah tampaknya karena sebagian besar makanan yang harus dihindari adalah penyebab intoleransi dan alergi makanan, seperti ikan laut, kacang, telor, buah, susu dan tepung terigu. Bila makanan tersebut dihindari pada penderita alergi atau intoleransi makanan akan memperbaiki berbagai keluhan. Tetapi ini tidak akan terjadi pada orang yang tidak menderita alergi atau intoleransi makanan. Penderita alergi dan intoleransi makanan bukan berdasarkan golongan darah, tetapi bersifat genetik, keturunan, imaturitas (ketidakmatangan saluran cerna) dan gangguan fungsi saluran cerna lainnya. Belum tentu semua penderita golongan darah O adalah penderita alergi. Bisa saja seseorang berbeda golongan darah tetapi punya alergi atau ketidakcocokan dengan makanan yang sama. Bagi penderita alergi atau intoleransi makanan yang kebetulan menghindari jenis makanan tertentu akan membaik. Tetapi akan membuat dampak kesehatan yang besar bila makanan yang tidak cocok dipaksakan.


Bagaimana menyikapinya
Bila terapi kedokteran dipertemukan dengan terapi alternatif, maka yang timbul adalah kontroversi yang berkepanjangan. Teori kedokteran harus berlandaskan pengalaman klinis dan berdasarkan imunopatobiologi imu kedokteran. Tetapi, terapi alternatif, berdasarkan pengalaman nenek moyang, turun temurun atau berdasarkan rekaan dan pendapat pribadi yang diyakini tanpa berdasarkan pengetahuan ilmiah yang lazim.



Berdasarkan hal itu maka terapi diet golongan darah adalah salah satu terapi alternatif, meskipun penemunya adalah dokter. Saat ini di berbagai penjuru dunia banyak klinisi professional atau dokter juga melakukan profesinya di jalur terapi alternatif. Memang harus diakui bahwa mungkin saja terdapat terapi alternatif yang bermanfaat. Sebaliknya masyarakat harus hati-hati, karena jumlah ketidakberhasilan, efek samping dan dampak bahaya terhadap kesehatan belum diketahui secara pasti.
Sikap logis yang bisa dilakukan adalah bagi penganut diet golongan darah bila berhasil boleh saja menghindari makanan tersebut. Tetapi harus diingat bahwa belum tentu makanan yang dihindari tersebut mengganggunya. Bila makanan tersebut tidak mengganggu alangkah malangnya nasibnya, karena harus menghindari makan enak dan bergizi yang belum tentu mengganggu tubuhnya. Tetapi bila ada pengalaman dengan makanan tertentu yang berulang dengan gangguan yang sama sebaiknya dihindari. Bila menghindari makanan tertentu harus dicari makanan penggantinya agar tidak kekurangan gizi, misalnya ikan laut diganti gurame, telor diganti daging dan seterusnya. Kalau hal itu masih ragu, sebaiknya harus berkonsultasi dengan ahlinya.


Daftar Pustaka

 

1. Peter J D’Adamo, Catherine W. Read Eat Right For Your Type.
2. Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.
3. Walker-Smith JA, Ford RP, Phillips AD. The spectrum of gastrointestinal allergies to food. Ann Allergy 1984;53:629-36.
4. Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.
5. Carter, C M et al. Effects of a few foods diet in attention deficit disorder. Archives of Disease in Childhood (69) 1993; 564-8
6. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
7. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
8. Judarwanto W. Dietery Intervention as Therapy for behaviour problem in Children with Gastrointestinal Allergy. Presented at World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology Nutrition, Paris, Juli 2004.
9. Vaughan TR. The role of food in the pathogenesis of migraine headache. Clin Rev Allergy 1994;12:167-180.
10. Allergy induced Behaviour Problems in children. Htpp://www.allergies/wkm/behaviour:
11. Brain allergic in Children.Htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC 

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646 

email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/ 

 

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: