Posted by: Indonesian Children | July 20, 2009

UJI DIAGNOSTIK ALERGI OBAT

CARA PEMERIKSAAN/DIAGNOSIS

 

Diagnosis alergi obat sering sulit dibuktikan walaupun dugaan sudah kuat. Dasar diagnosis obat yang terpenting adalah anamnesis rinci tentang berbagai hal penting. Gejala klinis umumnya tidak khas, kecuali beberapa bentuk erupsi  kulit seperti pruritus generalisata, urtikaria, erupsi fikstum, atau reaksi anafilaksis yang memenuhi kriteria anamnesis di atas. Beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk kelengkapan diagnosis, berupa uji in vivo dan in vitro terdapat obat atau metabolitnya. Uji in vivo berupa uji kulit dan uji provokasi. Uji in vitro terbata sebagai sarana penelitian dan bukan merupakan prosedur rutin.

 

Kesulitan yang terbesar dalam membuat diagnosis adalah untuk mengetahui apakah benar ada hubungan antara manifestasi klinis dengan pemberian obat dan apakah gejala klinis tersebut bukan merupakan bagian dari perjalanan penyakitnya sendiri yang sedang diobati. Diagnosis alergi obat berdasarkan klinis dan uji laboratoris. Secara klinis yang terpenting adalah anamnesa rinci tentang berbagai hal penting yaitu bahwa reaksi yang timbul bukan merupakan efek farmakologi obat, biasanya terjadi beberapa hari setelah pemberian obat (kecuali jika telah terpapar sebelumnya). Gejala klinis akan menghilang beberapa waktu setelah penggantian obat dan gejala yang sama akan timbul dengan pemberian ulang obat yang sama atau dengan struktur obat yang sama (Tabel 2). Gambaran fisik terutama erupsi kulit ada pola gambaran tertentu untuk masing-masing obat

Beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk kelengkapan diagnosis, berupa uji in vivo dan in vitro terhadap obat atau metabolitnya.

Uji in vivo                

 Uji kulit yang tepat dilakukan memakai bahan yang bersifat imunogenik yaitu determinan antigen dari obat atau metabolitnya. Bahan uji kulit harus bersifat non iritatif untuk menghindari positif palsu. Uji ini manfaatnya sangat terbatas karena baru sedikit sekali determinan antigen obat yang sudah diketahui dan tersedia untuk uji kulit. Dengan uji kulit hanya dapat diidentifikasi alergi terhadap makro molekul: insulin, antisera, ekstrak organ, sedang untuk mikromolekul sejauh ini hanya dapat diidentifikasi alergi terhadap penisilin saja.

Untuk konfirmasi diagnosis alergi obat dapat dilakukan uji in vivo berupa uji kulit dan uji provokasi.

  1. Uji tusuk kulit (skin prick test) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi adanya reaksi tipe I, dengan adanya deteksi kompleks antigen-IgE spesifik. Uji kulit dapat dilakukan dengan memakai bahan yang bersifat imunogenik, yaitu determinan antigen dari obat atau metabolitnya. Bahan untuk uji kulit harus bersifat noniritatif untuk menghindarkan positif palsu. Uji kulit sebetulnya merupakan cara yang efektif untuk diagnosis penyakit atopik, tetapi manfaatnya terbatas untuk alergi obat karena pada saat ini baru sedikit sekali determinan antigen obat yang sudah diketahui. Dengan uji kulit hanya dapat diidentifikasi alergi terhadap makromolekul (insulin, antisera, ekstrak organ), sedangkan untuk mikromolekul sejauh ini hanya dapat mengidentifikasi alergi terhadap penisilin saja. Hasil negatif hanya berarti pada uji kulit penisilin.
  2. Uji provokasi dapat memastikan diagnosis alergi obat tetapi merupakan prosedur diagnostik terbatas karena mengandung risiko yang berbahaya yaitu terjadinya reaksi anafilaksis sehingga hanya dianjurkan untuk dilakukan di tempat yang memiliki fasilitas serta tenaga yang cukup. Oleh karena itu, uji provokasi merupakan indikasi kontra untuk alergi obat berat, misalnya reaksi anafilaksis, dermatitis eksfoliatif, kelainan hematologik, dan eritema vesikobulosa. Uji provokasi ini dilakukan setelah prosedur eliminasi yang lamanya tergantung dari waktu paruh setiap jenis obat, dengan pemberian kembali obat yang dicurigai (obat dengan nama dagang dan kemasan yang sama dengan obat terdahulu). Pada reaksi tipe IV dapat dilakukan patch testing. Adanya eritema, indurasi dan ruam vesikopapular pruritik menujang diagnosis reaksi tipe IV.

Uji in vitro

Uji in vitro untuk alergi obat umumnya terbatas sebagai sarana penelitian dan bukan merupakan prosedur rutin. Pemeriksaan yang biasanya merupakan bagian dari suatu penelitian tersebut antara lain adalah IgG dan IgM spesifik, uji aglutinasi dan lisis sel darah merah, RAST (radio allergosorbent test), pelepasan histamin (histamine release), uji sensitisasi jaringan/basofil/leukosit, uji proliferasi dan transformasi blast limfosit, uji hambatan migrasi leukosit, serta esai sitokin dan reseptor sel. Uji in vitro untuk mendeteksi antibodi IgE-spesifik merupakan uji yang spesifik tetapi kurang sensitif. Pemeriksaan laboratorium mengukur aktivasi sel mast dapat dilakukan dalam 4 jam setelah onset reaksi alergi. Histamin serum mencapai puncak dalam 5 menit setelah reaksi anafilaksis dan kembali normal dalam 30 menit, sedangkan serum triptase mencapai puncak dalam 1 jam dan terus meningkat dalam 2-4 jam setelah reaksi. Adanya hasil negatif tidak menunjukkan bukan reaksi alergi akut.

Pada reaksi tipe II dapat dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mencari anemia hemolitik, trombositopenia atau neutropenia. Anemia hemolitik dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan Coombs direk atau indirek yang menunjukkan adanya komplemen dan atau hapten-obat pada membran sel darah merah.

Pada reaksi tipe III, dapat terjadi peningkatan petanda inflamasi nonspesifik seperti laju endap darah dan C-reactive protein. Pemeriksaan laboratorium yang lebih spesifik meliputi pemeriksaan komplemen (C3,C4) atau kompleks imun yang beredar. Adanya hasil negatif juga tidak menyingkirkan penyakit kompleks imun. Vaskulitis sistemik dapat diperiksa melalui uji autoantibodi. Reaksi yang berat atau persisten membutuhkan sarana diagnosis lebih lanjut, antara lain biopsi yang dapat menunjukkan infiltrasi sel inflamasi di perivaskular. Adanya infiltrasi eosinofil menunjang adanya reaksi alergi obat.

Uji diagnostik pada hipersensitivitas obat

 

 

Reaksi imun

 

Uji laboratorium

 

Terapi

 

 

Tipe I

 

Uji kulit, RAST, serum triptase

 

Penghentian obat, epinefrin, antihistamin, kortikosteroid sistemik, bronkodilator, rawat RS bila berat

 

 

Tipe II

 

Uji Coombs direk dan indirek

 

Penghentian obat, kortikosteroid sistemik, tranfusi bila berat

 

 

Tipe III

 

Laju endap darah, C-reactive protein, kompleks imun, komplemen, autoantibodi, biopsi jaringan, imunoflurosens

 

Penghentian obat, antiinflamasi non-steroid, antihistamin atau kortikosteroid sistemik atau plasmaferesis bila berat

 

 

Tipe IV

 

Patch testing, pemeriksaan proliferasi limfosit

 

Penghentian obat, kortikosteroid topikal, antihistamin atau kortikosteroid topikal bila berat

(Dikutip dari Riedl MA dan Casillas AM, 2003)

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC 

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email :  judarwanto@gmail.com\

htpp://www.childrenallergyclinic.wordpress.com/

 

 

 

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 128 other followers

%d bloggers like this: