Posted by: Indonesian Children | August 26, 2010

Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan

Gangguan Kulit Pada Anak

Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan 

 
Latar Belakang
  • Seorang, laki-laki usia 5 tahun sejak lahir hingga sekarang , sering mengalami gangguan kulit gatal di lokasi tertentu , kering, barair dan kadang warna putih seperti panu timbul di beberapa bagian tubuh hilang timbul . Berbagai dokter dan bermacam-macam obat telah digunakan baik salep hingga obat minum dalam jangka panjang tetapi teap saja hilang timbul setiap saat.  Berbagai dokter telah mengungkapkan penyebab alergi secara berbeda ada yang mengatakan karena debu, karena air kotor, keringat, udara panas, udara dingin atau bulu binatang. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa makanan tidak berperanan dalam gangguan tersebut.  Setelah itu berganti-ganti dokter,  terdapat salah seorang dokter mengadviskan untuk dilakukan penanganan alergi dan hipersensitifitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan gangguan buang air besarnya membaik.

 Gangguan Kulit Yang serring terjadi pada penderita Alergi atau hipersensitif makanan

Usia Bayi :

  • Sering timbul  kulit kasar kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok (sering dianggap diapers Rash) .
  • Timbul bercak putih seperti panu di kulit sekitar mata
  • Kerak di daerah rambut.
  • Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk.
  • Kotoran telinga berlebihan & berbau.
  • Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.

Usia Anak  :

  • Kulit timbul BISUL,
  • Kulit kasar kemerahan, gatal di sekitar lipatan tangan dan kaki bagian dalam.
  • bercak putih seperti panu di pipi (sering dianggap karena berenang, bila anak tidak berenang dianggap kepanasan) kadang di punggung atau tangan
  • bekas hitam seperti tergigit nyamuk. 
  • Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal.
  • Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • Kulit kering , bersisik, gatal kadang berair.

Pada penderita gangguan kulit amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)  (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
 
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. 
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  atau mengalami Infeksi Telinga
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
 
Bila tanda dan gejala  Gangguan Kulit  pada anak tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut (khususnya gangguan saluran cerna)  maka sangat mungkin Gangguan Kulit pada anak disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.
Penyebab lain yang memperberat  Gangguan Kulit Pada Anak adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya 
  
Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis Berbagai Gangguan Kulit  Pada Anak yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.  
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

 PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan Berbagai Gangguan Kulit  Pada Anak  karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.    
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.  
  • Obat-obatan simtomatis seperti pencahar, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dlamkeadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.  

Obat

  • Pengobatan berbagai Gangguan Kulit  Pada Anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila berbagai Gangguan Kulit  yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.    
  • Konsumsi obat-obatan Berbagai Gangguan Kulit berupa salep kulit steroid, non steroid dan pelembab hanya bersifat sementara. Berbagai Gangguan Kulit  Pada Anak tidak akan membaik selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

DAFTAR PUSTAKA        

  • Hanafin JM Epidemiology of atopic dermatitis. Monogr Allergy. 1987; 21:116-131
  • Sampson HA, McCaskill CC Food hypersensitivity and atopic dermatitis: evaluation of 113 patients. J Pediatr. 1985; 107:669-675
  • Sampson HA Role of immediate food hypersensitivity in the pathogenesis of atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol. 1983; 71:473-480
  • Burks AW, Mallory SB, Williams LW, Shirrell MA Atopic dermatitis: clinical relevance of food hypersensitivity reactions. J Pediatr. 1988; 113:447-451
  • Johnson E, Irons J, Patterson R, Roberts M Serum IgE concentration in atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol. 1974; 54:94-99
  • Sampson HA. Atopic dermatitis. Ann Allergy. 1992;69:469-479. Review
  • Hoffman DR, Yanamoto FY, Sellar B, Haddad Z Diagnosis of IgE-mediated reactions to food antigens by radioimmunoassay. Clin Immunol. 1975; 55:256-267
  • Mudde G, Bheekha R, Bruijnzeel-Koomen C Consequences of IgE/CD23-mediated antigen presentation in allergy. Immunol Today. 1995; 16:380-383
  • Mudde G, van Reijsen F, Boland G, de Gast G, Bruijnzeel P, Bruijnzeel-Koomen C Allergen presentation by epidermal Langerhans’ cells from patients with atopic dermatitis is mediated by IgE. Immunology. 1990; 69:335-341
  • Bieber T, de la Salle H, Wollenberg A, Human epidermal Langerhans’ cells express the high affinity receptor for immunoglobulin E (Fcepsilon RI). J Exp Med. 1992; 175:1285-1290[Abstract/Free Full Text]
  • Jurgens M, Wollenberg A, Hanau D, de la Salle H, Bieber T Activation of human epidermal Langerhans’ cells by engagement of the high affinity receptor for IgE, Fcepsilon RI. J Immunol. 1995; 155:5184-5189[Abstract]
  • Maurer D, Fiebiger E, Reininger B, Expression of functional high affinity immunoglobulin E receptors (Fcepsilon RI) on monocytes of atopic individuals. J Exp Med. 1994; 179:745-750[Abstract/Free Full Text]
  • Pasternack B The prediction of asthma in infantile eczema. J Pediatr. 1965; 66:164-165
  • Stifler WC A twenty-one year follow-up of infantile eczema. J Pediatr. 1965; 66:166-167
  • Sampson HA, Scanlon SM Natural history of food hypersensitivity in children with atopic dermatitis. J Pediatr. 1989; 115:23-27
  • AA European Task Force on Atopic Dermatitis Severity scoring of atopic dermatitis: the SCORAD index. Dermatology. 1993; 186:23-31
  • Bock SA, Atkins FM Patterns of food hypersensitivity during sixteen years of double-blind, placebo-controlled food challenges. J Pediatr. 1990; 117:561-567
  • Sampson HA, Albergo R Comparison of results of skin tests, RAST, and double-blind, placebo-controlled food challenges in children with atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol. 1984; 74:26-33
  • Sampson HA, Ho DG Relationship between food-specific IgE concentrations and the risk of positive food challenges in children and adolescents. J Allergy Clin Immunol. 1997; 100:444-451
  • Sampson HA Comparative study of commercial food antigen extracts for the diagnosis of food hypersensitivity. J Allergy Clin Immunol. 1988; 82:718-726
  • Ortolani C, Ispano M, Pastorello EA, Ansaloni R, Magri GC Comparison of results of skin prick tests (with fresh foods and commercial food extracts) and RAST in 100 patients with oral allergy syndrome. J Allergy Clin Immunol. 1989; 83:683-690
  • Bock SA, Sampson HA, Atkins FM, Double-blind, placebo-controlled food challenge (DBPCFC) as an office procedure: a manual. J Allergy Clin Immunol. 1988; 82:986-997
  • Bock S, Buckley J, Holst A, May C Proper use of skin tests with food extracts in diagnosis of food hypersensitivity. Clin Allergy. 1978; 8:559-564
  • Borchers SD, Li BUK, Friedman RA, McClung HJ. Rice-induced anaphylactoid reaction. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 1992;15:321-324. Case report
  • Talbot FB Eczema in childhood. Med Clinics North Am. 1918; 1:985-996
  • Brunner M, Walzer M Absorption of undigested proteins in human beings: the absorption of unaltered fish protein in adults. Arch Intern Med. 1928; 42:173-179
  • Wilson SJ, Walzer M Absorption of undigested proteins in human beings. IV. Absorption of unaltered egg protein in infants. Am J Dis Child. 1935; 50:49-54[Abstract/Free Full Text]
  • Engman WF, Weiss RS, Engman MF Eczema and environment. Med Clin North Am. 1936; 20:651-663
  • Sampson HA, Broadbent KR, Bernhisel-Broadbent J Spontaneous release of histamine from basophils and histamine-releasing factor in patients with atopic dermatitis and food hypersensitivity. N Engl J Med. 1989; 321:228-232[Abstract]
  • Sampson HA, Jolie PL Increased plasma histamine concentrations after food challenges in children with atopic dermatitis. N Engl J Med. 1984; 311:372-376
  • Charlesworth EN, Kagey-Sobotka A, Norman PS, Lichtenstein LM, Sampson HA Cutaneous late-phase response in food-allergic children and adolescents with atopic dermatitis. Clin Exp Allergy. 1993; 23:391-397
  • Lieferman KM A current perspective on the role of eosinophils in dermatologic diseases. J Am Acad Dermatol. 1991; 24:1101-1105
  • Mihm MC, Soter NA, Dvorak HF, Austen KF The structure of normal skin and the morphology of atopic eczema. J Invest Dermatol. 1976; 67:305-312
  • van der Heijden FL, Wierenga EA, Bos JD, Kapsenberg ML High frequency of IL-4-producing CD4+ allergen-specific T lymphocytes in atopic dermatitis lesional skin. J Invest Dermatol. 1991; 97:389-394
  • Suomalainen H, Soppi E, Isolauri E Evidence for eosinophil activation in cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol. 1994; 5:27-31
  • Magnarin M, Knowles A, Ventura A, Vita F, Fanti L, Zabucchi G A role for eosinophils in the pathogenesis of skin lesions in patients with food-sensitive atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol. 1995; 96:200-208
  • Picker LJ, Martin RJ, Trumble A, Newman LS, Collins PA, Bergstresser PR, Leung DYM Differential expression of lymphocyte homing receptors by human memory/effector T cells in pulmonary versus cutaneous immune effector sites. Eur J Immunol. 1994; 24:1269-1277
  • Werfel T, Ahlers G, Schmidt P, Boeker M, Kapp A Detection of a kappa-casein-specific lymphocyte response in milk-responsive atopic dermatitis. Clin Exp Allergy. 1996; 26:1380-1386
  • Sampson HA, MacDonald SM. IgE-dependent histamine-releasing factors. Springer Semin Immunopathol. 1993;15:89-98. Review
  • Guillet G, Guillet MH Natural history of sensitizations in atopic dermatitis. Arch Dermatol. 1992; 128:187-192[Abstract/Free Full Text]
  • Leung DYM, Hanifin JM, Charlesworth EN Disease management of atopic dermatitis: a practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol. 1997; 79:197-211
  • Bock SA The natural history of food sensitivity. J Allergy Clin Immunol. 1982; 69:173-177
  • Hill DJ, Firer MA, Ball G, Hosking CS Recovery from milk allergy in early childhood: antibody study. J Pediatr. 1989; 114:761-766[
  • Worth A, Sheikh A   Food allergy and atopic eczema. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2010 Apr 6.
  • Celakovská J, Vanĕcková J, Ettlerová K, Ettler K, Bukac J.  The role of atopy patch test in diagnosis of food allergy in atopic eczema/dermatitis syndrom in patients over 14 years of age.  Acta Medica (Hradec Kralove). 2010;53(2):101-8
  • Galli E, Ciucci A, Cersosimo S, Pagnini C, Avitabile S, Mancino G, Delle Fave G, Corleto VD. Eczema and food allergy in an Italian pediatric cohort: no association with TLR-2 and TLR-4 polymorphisms.  Int J Immunopathol Pharmacol. 2010 Apr-Jun;23(2):671-5.
  •  Simpson AB, Yousef E, Hossain J.  Evaluation of the relationship between IgE level and skin superinfection in children with atopic dermatitis. Allergy Asthma Proc. 2010 May-Jun;31(3):232-7
  • Suh KY.  Food allergy and atopic dermatitis: separating fact from fiction.  Semin Cutan Med Surg. 2010 Jun;29(2):72-8.
  •  Noh G, Jin H, Lee J, Noh J, Lee WM, Lee S.  Eosinophilia as a predictor of food allergy in atopic dermatitis. Allergy Asthma Proc. 2010 Mar;31(2):e18-24.
  • Worth A, Sheikh A.  Food allergy and atopic eczema.  Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2010 Jun;10(3):226-30.
  •  Alexander DD, Cabana MD.  Partially hydrolyzed 100% whey protein infant formula and reduced risk of atopic dermatitis: a meta-analysis.  J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2010 Apr;50(4):422-30.
Provided by
Widodo judarwanto, pediatrician
Children’s Allergy Center Online
Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak

Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/  

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.  

  

  

  

Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Responses

  1. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  2. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  3. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  4. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  5. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  6. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  7. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  8. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  9. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  10. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  11. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]

  12. [...] Gangguan Kulit Pada Anak, Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: