Posted by: Indonesian Children | September 22, 2010

Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak

MAKANAN PENYEBAB GANGGUAN  OTAK DAN  PERILAKU

Widodo Judarwanto

Setelah menghindari makanan tertentu seperti coklat, keju dan makanan sejenisnya perilaku emosi, gangguan tidur dan gangguan konsentrasi si Udin secara drastis membaik. Sementara pada beberapa kasus lainnya ternyata penderita gangguan migrain, vertigi, sakit kepala, kejang yang tidak dikertahui sebabnya saat melakukan penghindaran makanan tertentu ternyta membuat berbagai keluhannya membaik tanpa minum obat. Belakangan banyak penelitian mengungkapkan beberapa jenis makanan dengan mekanisme tertentu ternyata sangat mempengaruhi gangguan fungsi otak dan perilaku anak.

Setiap mendengar keluhan gangguan kulit karena makanan, pasti alergi dianggap sebagai biang penyebabnya. Masih banyak masyarakat awam bahkan beberapa kalangan klinisi menganggap semua gangguan kulit karena makanan sering disebut sebagai alergi makanan. Padahal sebenarnya reaksi yang disebabkan karena makanan bukan hanya karena reaksi alergi makanan. Istilah umum untuk reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang masuk saluran cerna manusia sering disebut sebagai reaksi simpang makanan. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan. Reaksi simpang makanan bisa karena reaksi toksis seperti keracunan makanan. Selain itu bisa karena reaksi non toksis dengan melalui mekanisme imunologis seperti reaksi alergi makanan, penyakit celiac, gangguan absorbsi protein dan sindrom heiners. Sedangkan reaksi non toksis yang melalui mekanisme  non imunologis adalah intoleransi makanan, reaksi psikologis dan sebagainya. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan hanya sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan.

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan.  Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV.

Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi laktase, maltase  atau respon idiosinkrasi pada pejamu.

Reaksi simpang makanan yang juga sering dilaporkan adalah penyakit Celiac.  Gangguan ini melalui mekanisme imunologis. Tidak seperti alergo makanan, pada penyakit Celiac immunoglobulin E tidak berperanan dalam proses penyakit. Penyakit. Celiac adalah penyakit kronik inflamasi saluran cerna khususnya pada usus halus. Kelainan tersebut dipicu oleh reaksi lambat terhadap protein gluten. Gluten adalah bahan makanan sejenis tepung, sehingga penyakit ini disebut juga Gluten-sensitive Enteropathy. Penyakit ini terjadi pada anak laki dan perempuan. Di Eropa kasus ini cukup tinggi, yaitu sekitar 1 dari 100 orang, bahkan di Inggris sekitar 1 : 77 orang, New Zealand sekitar 1 : 88 orang, di Amerika laporan kasus tidak sebanyak di Eropa.  Kasus ini belum banyak dilaporkan di Indonesia, mungkin karena perhatian klinisi masih sangat  kurang ditambah  alat bantu diagnosis kelainan ini belum selengkap di luar negeri. Di praktek sehari-hari penulis mulai sering menjumpai penderita yang dicurigai sebagai kasus ini. Para pakar ahli pencernaan dunia melaporkan sebenarnya prosentase kasus ini di dunia tidaklah sedikit yaitu sekitar 3 – 5 promil perpenduduk.  Gejalanya ditandai dengan gangguan kenaikkan berat badan, gangguan saluran cerna dan gangguan kulit (dermatitis herpetiformis).

GEJALA REAKSI SIMPANG MAKANAN

Reaksi simpang makanan pada umumnya mengganggu saluran cerna tubuh. Beberapa gejala gangguan saluran cerna tersebut sebenarnya sudah tampak sejak lahir.  Sejak usia awal kehidupan tampak bayi sering rewel, kolik/menangis terus menerus tanpa sebab pada malam hari, sering cegukan, sering “berak geden”, kembung, sering gumoh, berak berwarna hitam atau hijau, berak timbul warna darah. Sering mengalami ganguan buang air besar, bisa sulit buang air besar (tidak tiap hari) atau sering buang air besar. Lidah berwarna putih (“like  moniliasis symtomp”) dan drooling (ngiler). Sering timbul gangguan hernia umbilikalis, scrotalis atau inguinalis.                                                                                                                                             

Tampilan klinis gangguan saluran cerna pada anak yang lebih besar adalah gangguan  nyeri perut, sering buang air besar (>2 kali/perhari), gangguan  buang air besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak ngeden), kembung, muntah, sulit berak, sering buang angin (flatus), sariawan, mulut berbau. Nyeri perut, sering diare, kembung, sering mual atau muntah, konstipasi (sulit berak) , kelaparan, haus, saliva (air liur) meningkat, canker sores (sariawan),  stinging tongue (lidah terasa pedih), drooling (ngiler), nyeri gigi, burping (sendawa), retasting foods, gejala sakit mag (nyeri perut ulu hati, muntah, mual, “gelegekan”), swallowing difficulty (kesulitan menelan), abdominal rumbling (perut keroncongan), konstipasi (sulit buang air besar), nyeri perut, passing gas (sering buang angin), timbul lendir atau darah dari rektum, anus gatal atau panas. Bila terjadi gangguan saluran cerna sering disertai kesulitan makan atau gangguan motorik kasar oral (sulit mengunyah langsung ditelan).

Reaksi simpang makanan sering disertai dengan gangguan kulit. Pada bayi  sering timbul penebalan merah di daerah pipi popok  dan telinga, timbul kerak di kulit kepala. Pada anak yang lebih besar tampak sering gatal, dermatitis, urticaria (biduran), bengkak di bibir, lebam biru kehitaman pada kaki (seperti bekas terbentur), bekas hitam seperti digigit nyamuk, timbul kulit keputihan (seperti panu) dan berkeringat berlebihan. Pada penyakit celiac gangguan kulit berupa dermatitis herpetisformis dan kulit teraba kasar atau kering. Penderita celiac biasanya mengalami gagal tumbuh atau badan kecil dan sangat kurus meskipun banyak makan. Pada penderita reaksi simpang makanan genetik yang kronis seperti penyakit celiac biasanya disertai gangguan kekurangan calsium, B12, B6 (piridoksin), vitamin E, Asam Folat, Karnitin, dan biopterin.kes

MAKANAN, LEAKY GUT  DAN GANGGUAN OTAK

Reaksi simpang makanan terjadi pada kelainan bawaan atau genetik seperti alergi makanan, penyakit celiac, intoleransi makanan dan sebagainya biasanya bersifat kronis atau berlangsung lama. Gangguan perilaku yang diduga bersifat genetik seperti Autism, ADHD dan gangguan perilaku lainnya juga sangat berkaitan dengan gangguan metabolisme makanan dan pemberian makanan tertentu. Banyak penelitian menunjukkan dengan melakukan penghindaran makanan tertentu maka gejala gangguan fungsi tubuh dan perilaku dapat diminimallkan.

Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sensitifitas terhadap makanan tertentu mengakibatkan gangguan  permeabilitas (kebocoran) pada saluran cerna atau leaky gut. Banyak penelitian terakhir mengungkapkan bahwa gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis ternyata dapat mengganggu susunan saraf pusat manusia. Gangguan saluran cerna tersebut berkaitan gangguan penyerapan dan metabolisme makanan tertentu yang mengakibatkan gangguan beberapa sistem tubuh khususnya susunan saraf pusat atau otak.

Mekanisme bagaimana gangguan saluran cerna mengganggu system susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori  mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis), pengaruh metabolisme sulfat, gangguan organ sasaran, dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi.

Teori gangguan pencernaan  berkaitan dengan sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV).  pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang  otak. Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.

Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita  berhubungan dengan kejadian epilepsi.  

Alergi sebagai salah satu penyebab reaksi simpang makanan adalah suatu proses inflamasi. Reaksi alergi tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat  mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran. Otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

Seperti pada  penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan  kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan  zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

     Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak  penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah, kecemasan, panik, sakit

 

MANIFESTASI KLINIS GANGGUAN OTAK DAN PERILAKU

Gangguan susunan saraf pusat atau otak tersebut dapat berupa neuroanatomis dan neurofisiologis. Gangguan neuroanatomis karena makanan biasanya sudah tampak sejak bayi. Pada bayi tampak lebih sensitif, sering mudah kaget dengan rangsangan suara atau cahaya, gemetar terutama tangan, kaki dan bibir, bahkan sampai epilepsi atau kejang. Pada anak yang lebih besar tampak  sering sakit kepala, vertogo, migrain, nigtagmus (mata juling) atau ticks (mata sering berkedip). Reaksi makanan pada penyakit celiac gangguan neurologis yang sering dilaporkan adalah epilepsi, myoclonic ataxia (Ramsay-Hunt syndrome), cerebellar ataxia, spinocerebellar dan cerebellar, peripheral neuropathy, myelopathy, brainstem encephalitis, dan chronic progressive leukoencephalopathy.

Selain gangguan neuroanatomis reaksi simpang makanan dapat mengganggu fungsi neurofisiologis seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, ADHD hingga memperberat gejala Autisme.

Gangguan perilaku yang sering dikaitkan dengan Reaksi Simpang Makanan.

  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala ke belakang-membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}, sering memanjat. Gejala “Tomboy” pada anak perempuan.
  • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara/tertawa/berteriak dalam tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk, gelisah saat memulai tidur, gigi gemeretak (beradu gigi), tidur ngorok 
  • AGRESIF sering memukul kepala sendiri,orang atau benda di sekitarnya. Sering menggigit, mencubit, menjambak (spt “gemes”) 
  • GANGGUAN KONSENTRASI : CEPAT BOSAN terhadap sesuatu aktifitas (kecuali menonton televisi, baca komik atau main game),  TIDAK BISA BELAJAR LAMA, terburu-buru, tidak mau antri, TIDAK TELITI, sering kehilangan barang atau sering lupa, nilai pelajaran naik turun drastis. Nilai pelajaran tertentu baik, tapi pelajaran lain  buruk. Sulit menyelesaikan pelajaran sekolah dengan baik.Sering mengobrol dan mengganggu teman saat pelajaran. BIASANYA ANAK TAMPAK CERDAS DAN PINTAR. 
  • GANGGUAN EMOSI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, suka membantah dan sulit diatur. Cengeng atau mudah menangis.  
  • GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIKTidak bisa BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK sesuai usia. Terlambat mengayuh sepeda, melompat dan mengangkat kaki atau keterlambatan dalam gerakan kaki lainnya. Berjalan sering terjatuh dan terburu-buru, sering menabrak, jalan jinjit, duduk leter W/kaki ke belakang. 
  • KETERLAMBATAN BICARA  Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, hanya 4-5 kata umur 20 bulan, kemampuan bicara hilang dari yang sebelumnya bisa, biasanya > 2 tahun membaik.
  • IMPULSIF : banyak bicara/tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain 
  • Memperberat gejala HIPERAKTIF (ADHD/ADD), AUTISME dan GANGGUAN SPEKTRUM AUTISM  lainnya  

 

 

MAKANAN PENYEBAB REAKSI SIMPANG MAKANAN

Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Molekul-molekul kecil lainnya juga dapat menimbulkan kepekaan (sensitisasi) baik secara langsung atau melalui mekanisme hapten-carrier. Perlakuan fisik misalnya pemberian panas dan tekanan dapat mengurangi imunogenisitas sampai derajat tertentu. Makanan penyebab alergi yang paling sering adalah ikan laut, telor, susu sapi, buah-buahan dan kacang-kacangan.

Terdapat juga beberapa makanan yang dapat mengganggu otak tetapi tidak melalui reaksi imunologi melainkan karena intoleransi makanan diantaranya adalah salisilat, tartarzine (zat pewarna makanan), nitrat, amine, MSG(monosodium Glutamat), antioksidan, jamur, laktose, benzoote. Makanan yang mengandung salisilat adalah ditemukan dalam  buah, saur, kacang, the, kopi, bir, anggur dan obat-obatan seperti aspirherbs, spices, spreads, teh dan kopi, jus, bir, dan minuman anggur dan obat=obatan  seperti aspirin. Konsestrasi tinggi terdapat dalam buah kering seperti sultanas. Tartarzine didapatkan pada makanan sosis, Amines sering diproduksi selama fermentasi dan pemecahan protein ditemukan dalam keju, coklat, anggur, bir, tempe, sayur dan buah seperti pisang, alpukat dan tomat. Benzoat  ditemukan dalam beberapa buah, sayur, kacang, anggur, kopi dan sebagainya. Glutamat  banyak didapatkan pada tomat, keju, mushrooms, saus, ekstrak daging dan jamur. Monosodium Glutamat sering ditemukan pada penyedap makanan : vetsin, kecap, atau makanan lannya..

Zat aditif makanan yang dapat mengganggu saluran cerna dan gangguan otak adalah bahan pengawet, bahan pewarna, bahan pemutih, emulsifier, enzim, bahan penetap, bahan pelapis atau pengkilat, bahan Pengatur pH,  bahan pemisah, perubah patiu, ragi makanan, pelarut untuk ekstraksi, bahan pemanis atau pembawa bahan anti pembekuan. Sedangkan makanan yang mengganggu pada penderita celiac adalah berupa gluten atau tepung terigu  dan makanan derivatnya.

PENATALAKSANAAN

       Penanganan terbaik pada penderita gangguan reaksi simpang makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Untuk mengetahui jenis reaksi simpang makanan, harus dilakukan anamnesis riwayat keluhan yang cermat, pemeriksaan fisik dan eliminasi provokasi. Disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratotium penunjang untuk membedakan apakah suatu alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit celiac atau reaksi makanan lainnya. Pemberian ensim, obat-obatan dan vitamin lainnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab reaksi simpang makanan tersebut. Mengenali secara cermat gejala reaksi simpang makanan dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gangguan pada saluran cerna, sistem susunan saraf pusat dan gangguan perilaku dapat dikurangi. 

Penanganan reaksi simpang makanan dengan gangguan perilaku harus dilakukan secara holistik. Selain menghindari makanan penyebab maka diperlukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak. Bila perlu harus melibatkan bidang neurologi, psikiater, tumbuh kembang, endokrinologi, alergi, gastroenterologi  dan bidang ilmu kesehatan anak lainnya

 
 
 
DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.
  2. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12  Related Articles, Books, LinkOut
  3. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156.
  4. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14
  5. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-71 
  6. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-33
  7. D S N A Pengiran Tengah, A J Wills, G K T Holmes. Neurological complications of coeliac disease Postgraduate Medical Journal 2002;78:393-398
  8. Wills AJ, Turner B, Lock RJ, et al. Dermatitis herpetiformis and neurological dysfunction. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2002;72:259–61
  9. Luostarinen L, Pirttila T, Collin P. Coeliac disease presenting with neurological disorders. Eur Neurol 1999;42:132–5
  10. Hadjivassiliou M, Gibson A, Davies-Jones GA, et al. Does cryptic gluten sensitivity play a part in neurological illness? Lancet 1996;347:369–71
  11. Lahat E, Broide E, Leshem M, et al. Prevalence of celiac antibodies in children with neurologic disorders. Pediatr Neurol 2000;22:393–6.
  12. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy, dipresentasikan pada “24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO”, 15-20  Agustus,2004.
  13. Judarwanto W. Dietery Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with  Gastrointestinal Allergy. Dipresentasikan pada World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition tanggal 2 – 7 Juli 2004 di Paris Perancis.
  14. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Headache  in Children with Gastrointestinal Allergy”; dipresentasikan pada “8th Asian & Oceanian Congress of Child Neurology, Newdelhi India”, 7 – 10  Oktober, 2004.
  15. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-2
  16. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3.
  17. Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-613
  18. Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177.
  19. Lucarelli S, Frediani T, Zingoni AM, Ferruzzi F, Giardini O, Quintieri F, Barbato M, D’Eufemia P, Cardi E. Food allergy and infantile autism. Panminerva Med. 1995 Sep;37(3):137-41.
  20. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37.
  21. El-Fawal HAN et al, Neuroimmunotoxicology : Humoral assessment of neurotoxicity and autyoimmune mechanisms. Environ Health Perspect 1999;107(supp 5):767-775.
  22. Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81.
  23. Sing VK et Al. Antibodies to myelin basic protein in children with autistic behaviour. Brain Behav Immunol 1993;7;97-103.
  24. Sing VK et al. Circulating autoantibodies to neuronal and glial filament protein in autism. Pediatr Neurol 1997;17:88-90.
  25. Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-5
  26. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177.
  27. Ward, N I.  Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342.
  28. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.
  29. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.
  30. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
  31. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
  32. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
  33. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
  34. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
  35. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J.  Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
  36. Morfin-Maciel B, Medina A, Espinosa Rosales F, Berron R, Huerta Lopez J. Central nervous system involvement in a child with polyarteritis nodosa and severe atopic dermatitis. Rev Alerg Mex. 2002 Nov-Dec;49(6):189-95.
  37. Uhlig T, Merkenschlager A, Brandmaier R, Egger J Topographic mapping of brain electrical activity in children with food-induced attention deficit hyperkinetic disorder.Eur J Pediatr. 1997 Jul;156(7):557-61.
  38. Weiss B.In rebuttal. Food additives and hyperkinesis. Am J Dis Child. 1980 Dec;134(12):1126-8. Weiss B.In rebuttal. Food additives and hyperkinesis.
  39. Weiss B.Food additives as a source of behavioral disturbances in children. Neurotoxicology. 1986 Summer;7(2):197-208.
  40. Pelsser LM, Buitelaar JK. [Favourable effect of a standard elimination diet on the behavior of young children with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD): a pilot study]
    Ned Tijdschr Geneeskd. 2002 Dec 28;146(52):2543-7.
  41. Lipton MA, Mayo JP Diet and hyperkinesis–an update..J Am Diet Assoc. 1983 Aug;83(2):132-4.
  42. Wender EH.New evidence on food additives and hyperkinesis. A critical analysis.
    Am J Dis Child. 1980 Dec;134(12):1122-5.
  43. Lindsey JD, Frith GH Hyperkinesis, nutrition, and the Feingold diet: implications for rehabilitation specialists.. J Rehabil. 1982 Jul-Sep;48(3):69-71.
  44. Egger J, Carter CH, Soothill JF, Wilson J.Effect of diet treatment on enuresis in children with migraine or hyperkinetic behavior.. Clin Pediatr (Phila). 1992 May;31(5):302-7.
  45. Schnoll R, Burshteyn D, Cea-Aravena J.Nutrition in the treatment of attention-deficit hyperactivity disorder: a neglected but important aspect.Appl Psychophysiol Biofeedback. 2003 Mar;28(1):63-75.
  46. Thorley G.Childhood hyperactivity and food additives.Dev Med Child Neurol. 1983 Aug;25(4):531-4.
  47. Krummel DA, Seligson FH, Guthrie HA.Hyperactivity: is candy causal?
    Crit Rev Food Sci Nutr. 1996 Jan;36(1-2):31-47.
  48. Wigal S, Swanson JM, Feifel D, Sangal RB, Elia J, Casat CD, Zeldis JB, Conners CK.A double-blind, placebo-controlled trial of dexmethylphenidate hydrochloride and d,l-threo-methylphenidate hydrochloride in children with attention-deficit/hyperactivity disorder.J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2004 Nov;43(11):1406-14.
  49. Pollock I, Warner JO.Effect of artificial food colours on childhood behaviour.. Arch Dis Child. 1990 Jan;65(1):74-7.
  50. Horwitz DL.Conspectus: food colorings and hyperkinetic children.Compr Ther. 1980 Nov;6(11):3-4.
  51. Mylek D. ALCAT Test results in the treatment of respiratory and gastrointestinal symptoms, arthritis, skin and central nervous system. Rocz Akad Med Bialymst. 1995;40(3):625-9
  52. Carter CM, Urbanowicz M, Hemsley R, Mantilla L, Strobel S, Graham PJ, Taylor E.Effects of a few food diet in attention deficit disorder.Arch Dis Child. 1993 Nov;69(5):564-8.
  53. Boris M, Mandel FS Foods and additives are common causes of the attention deficit hyperactive disorder in children.Ann Allergy. 1994 May;72(5):462-8.
  54. Egger J, Carter CM, Graham PJ, Gumley D, Soothill JF.Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome.Lancet. 1985 Mar 9;1(8428):540-5.
  55. Bateman B, Warner JO, Hutchinson E, Dean T, Rowlandson P, Gant C, Grundy J, Fitzgerald C, Stevenson J.The effects of a double blind, placebo controlled, artificial food colourings and benzoate preservative challenge on hyperactivity in a general population sample of preschool children.
    Arch Dis Child. 2004 Jun;89(6):506-11. Erratum in: Arch Dis Child. 2005 Aug;90(8):875.
  56. Rowe KS.Synthetic food colourings and ‘hyperactivity’: a double-blind crossover study.Aust Paediatr J. 1988 Apr;24(2):143-7.
  57. Mattes JA, Gittelman R.Effects of artificial food colorings in children with hyperactive symptoms. A critical review and results of a controlled study.Arch Gen Psychiatry. 1981 Jun;38(6):714-8.
  58. Rowe KS, Rowe KJ.Synthetic food coloring and behavior: a dose response effect in a double-blind, placebo-controlled, repeated-measures study.J Pediatr. 1994 Nov;125(5 Pt 1):691-8.
  59. Schmidt MH, Mocks P, Lay B, Eisert HG, Fojkar R, Fritz-Sigmund D, Marcus A, Musaeus B.Does oligoantigenic diet influence hyperactive/conduct-disordered children–a controlled trial.
    Eur Child Adolesc Psychiatry. 1997 Jun;6(2):88-95.
  60. Williams JI, Cram DM, Tausig FT, Webster E.Relative effects of drugs and diet on hyperactive behaviors: an experimental study.Pediatrics. 1978 Jun;61(6):811-7.
  61. Wender EH.The food additive-free diet in the treatment of behavior disorders: a review.J Dev Behav Pediatr. 1986 Feb;7(1):35-42.
  62. Traxel WL.Hyperactivity and the Feingold diet.Arch Gen Psychiatry. 1982 May;39(5):624.
  63. Salamy J, Shucard D, Alexander H, Peterson D, Braud L.Physiological changes in hyperactive children following the ingestion of food additives.. Int J Neurosci. 1982 May;16(3-4):241-6.
  64. Breakey J.The role of diet and behaviour in childhood.J Paediatr Child Health. 1997 Jun;33(3):190-4.
  65. Egger J, Stolla A, McEwen LM.Controlled trial of hyposensitisation in children with food-induced hyperkinetic syndrome.Lancet. 1992 May 9;339(8802):1150-3.
  66. Harley JP, Ray RS, Tomasi L, Eichman PL, Matthews CG, Chun R, Cleeland CS, Traisman E.Hyperkinesis and food additives: testing the Feingold hypothesis.Pediatrics. 1978 Jun;61(6):818-28.
  67. Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy. J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  68. Dzialek E. Allergologic aspects of epilepsy. Neurol Neurochir Pol. 1975 Jul-Aug;9(4):469-72. Polish.
  69. Fein BT, Kamin PB. Allergy, convulsive disorders and epilepsy. Ann Allergy. 1968 May;26(5):241-7.
  70. Frediani T, Pelliccia A, Aprile A, Ferri E, Lucarelli S. Partial idiopathic epilepsy: recovery after allergen-free diet Pediatr Med Chir. 2004 May-Jun;26(3):196-7.
  71. Frediani T, Lucarelli S,Pelliccia A, Vagnucci B, Cerminara C, Barbato M, Cardi E. Allergy and childhood epilepsy: a close relationship Acta Neurol Scand. 2001 Dec;104(6):349-52.
  72. Mukherjee A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy J Assoc Physicians India. 1994 Aug;42(8):662-3.
  73. Pelliccia A, Lucarelli S, Frediani T, D’Ambrini G, Cerminara C, Barbato M, Vagnucci B, Cardi E. Partial cryptogenetic epilepsy and food allergy/intolerance. A causal or a chance relationship? Reflections on three clinical cases Minerva Pediatr. 1999 May;51(5):153-7
  74. Rose GA. Food sensitivity and epilepsy J R Soc Med. 1993 Feb;86(2):119 PMID: 9176122 Epilepsy precipitated by food sensitivity: report of a case with double-blind placebo-controlled assessment. Clin Electroencephalogr. 1981. PMID: 7337954
  75. Dzialek E.. Allergologic aspects of epilepsy. Neurol Neurochir Pol. 1975
  76. Bardella M T, Molteni N, Prampolini L. et al Need for follow up in coeliac disease. Arch Dis Child 1994. 70211–213. [PMC free article] [PubMed]
  77. Hall K. Allergy of the nervous system : a review Ann Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
  78. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
  79. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J.  Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
  80. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
  81. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
  82. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
  83. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14

Link dan artikel Terkait :

    

 
Provided by
dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician
Children’s Allergy Center Online
Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak

Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/  

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.  

  

  

  

Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Responses

  1. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  2. [...] Nonsiezure episode « Gangguan Kesehatan Gigi, Kesehatan Mulut dan Alergi Makanan Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  3. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  4. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  5. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  6. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  7. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  8. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  9. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  10. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  11. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  12. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  13. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  14. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  15. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  16. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  17. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  18. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  19. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  20. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  21. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  22. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  23. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  24. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]

  25. [...] Waspadai Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku Anak [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers

%d bloggers like this: