Posted by: Indonesian Children | October 19, 2010

Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu”

Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu”

 

Gangguan alergi yang hilang timbul dan berlangsung lama seringkali sangat menyiksa. Memang debu termasuk salah satu faktor penyebab alergi. Tetapi banyak penderita alergi yang fobia atau menganggap berlebihan bahwa debu sebagai penyebab gangguan yang timbul, padahal penyebab utama gangguan selama ini bukan debu.  Sebagian penderita alergi yang mengalami gangguan sering bersin dan hidung buntu pasti memvonis dirinya sendiri atau divonis dokter sebagai penderita alergi debu. Tetapi bila dicermati ternyata gangguan alerginya timbul justru saat pagi dan malam hari saat debu tidak ada, atau aktifitas renovasi rumah sedang tidak ada. Sebaliknya justru saat siang hari banyak debu beterbangan di rumah keluhan alergi menghilang. Kesulitan menentukan penyebab timbulnya gejala alergi memang sering terjadi, karena banyak faktor yang berpengaruh. Faktor yang sering diabaikan sebagai penyebab alergi adalah gangguan infeksi flu dan alergi makanan. Seringkali infeksi virus atau flu juga dapat menyebabkan gangguan pilek atau hidung buntu tetapi dianggap sebagai alergi. Alergi makanan sering diabaikan sebagai penyebab karena tes alergi tidak bisa memastikan penyebab alergi makanan. 

Alergi Debu

Alergi debu  terjadi ketika sistem respon imun mengalami reaksi berlebihan ketika terpapar oleh partikel debu atau debu tungau rumah. Jenis debu yang menggangu adalah debu rumah bukan debu di luar rumah. Setelah tubuh mengembangkan antibodi penyebab alergi atau bahan alergen berupa sebuah protein hewani, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi. Ketika menghirup alergen debu atau debu tungau, sistem kekebalan tubuh merespon dan menghasilkan tanda dan gejala peradangan terutama di saluran napas.

Tanda Dan Gejala  alergi debu :

  • Tanda alergi debu sering didominasi oleh gangguan hidung seperti Bersin
  • Pilek
  • Gatal, merah atau mata berair
  • Hidung gatal, langit-langit mulut atau tenggorokan
  • Batuk
  • Pada penderita asma : Kesulitan bernapas, Dada sesak atau sakit, Suara mengi saat menghembuskan napas, Sulit tidur disebabkan oleh sesak napas, batuk atau mengi, Serangan batuk atau mengi yang diperburuk oleh virus pernapasan seperti pilek atau flu

Diagnosis

Untuk memastikan seseorang mengalami alergi debu dan dalam praktek sehari-hari bahkan sangat sulit. Karena, manifestasi alergi terjadi karena banyak faktor yang berpengaruh.

Langkah awal yag harus dilakukan untuk memastikan alergi debu adalah :

  1. Amati riwayat tanda dan gejala alergi yang timbul dengan cermat. Harus dilihat dengan seksama saat terjadi keluhan. Apakah keluhan selalu timbul setelah kontak dengan debu. Bila sebelumnya pernah tidak mengalami hal yang sama atau terjadi hanya saat tertentu saja maka sangat mungkin bukan alergi debu.
  2. Bila keluhan tersebut tidak selalu timbul saat bersentuhan dengan debu maka harus dicari penyebab lain. Penyebab lain bisa karena infeksi virus flu atau karena alergi penyebab lainnya seperti alergi makanan.
  3. Secara sepintas tampaknya mudah untuk membedakan alergi dan infeksi. tetapi faktanya penderita bahkan dokter sering melakukan kesalahan bahwa alergi sering dianggap infeksi atau sebaliknya infeksi sering dianggap alergi. Infeksi atau flu atau infeksi virus lainnya tidak harus mengalami demam, kadang tidak demam atau hanya badan hangat atau teraba sumer. Biasanya keluhan batuk, pilek, dan ingus keluar lebih banyak  dan lebih kental. Pada infeksi virus hari ke 3-7 kadang cairan ingus atau dahak kadang berwarna kuning atau hijau, tetapi pada awal encer seperti alergi. Gangguan pada dewasa kadang disertai badan pegal, ngilu (sering dianggap kecapekan) atau sakit kepala. Pada orang dewasa gangguan ini hanya berlangsung 12 hari dan menghilang maka sering dianggap sebagai “flu tidak jadi”.
  4. Bila terjadi gangguan saluran cerna yang menyertai atau sebelumnya sering mengalami gangguan fungsi saluran cerna maka harus dicermati bahwa gangguan alergi disebabkan karena alergi makanan.
  5. Bila dicurigai alergi debu harus dilakukan konfirmasi dengan tes kulit atau tes darah RAST debu.
  6. Debu bisa dapat menimbulkan alergi bila dalam jumlah yang cukup besar seperti bila masuk gudang, pemakaian karpet tebal yang permanen, rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, saat bongkar-bongkar kamar atau saat menyapu atau saat memakai atau mengambil barang, boneka yang sudah lama tersimpan lama di gudang atau lemari.
  7. Biasanya bukan sebagai penyebab debu bila : mainan berbulu atau boneka yang bersih sering dicuci atau dijemur, karpet tips yang tidak permanen, korden yang sering dicuci, kelambu tidur yang sering dicuci, debu membangun atau renovasi rumah tetapi bila membongkar gudang atau membongkar perabotan kamar saat renovasi hal ini dapat sebagai penyebab alergi debu.
  8. 

Fobia Alergi Debu

  • Dalam banyak kasus seringkali terlalu cepat memvonis bahwa penyebab alergi hanya karena debu.  Memang mungkin saja penderita alergi terhadap debu, tetapi fobia terhadap debu seringkali timbul berlebihan padahal belum tentu penyebab utama keluhannya adalah debu. Pada beberapa kasus seorang mengalami gangguan hidung buntu dan pilek berkepanjangan , karena fobia terhadap binatang debu, akhirnya semua tindakan memusuhi debu dilakukan dengan menggulung karpet, menghilang mainan dalam rumah, menghilang korden, atau baju digantungan.  Saat melakukan second opinion ke dokter lainnya, ternyata penderita dicurigai mengalami alergi makanan. Setelah dilakukan eliminasi provokasi makanan maka keluhan alergi membaik dan diketahui jenis makanan tertentu sebagai penyebab alergi. Ternyata meski penderita mengalami alergi debu tetapi ternyata penyebab utama keluhan alerginya selama ini justru bukan karena debu.
  • Seringkali dokter memvonis alergi pada keluhan batuk dan pilek yang berkepanjangan. Tetapi pada umumnya pasien tidak pernah mendapatkan informasi yang lengkap dari dokter apakah penyebab alergi tersebut. Hal ini terjadi karena memang untuk mencari penyebab alergi adalah merupakan kesulitan terbesar yang dialami oleh dokter dan juga penderita.  Paling tidak informasi dan anggapan yang sering timbul baik dari masyarakat awam dan beberapa dokter pasti menyebutkan debu sebagai penyebab. Saran untuk menghindari debu dan membersihkan semua ruangan rumah bahkan ditambah lagi memakai purifier udara dan AC paling canggihpun sudah diikuti tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Benarkah debu jadi penyebab ? Kalau bukan apakah memang benar alergi makanan sebagai penyebab alergi yang berkepanjangan tersebut. Penatalaksanaan Alergi  khususnya alergi pada saluran napas dan hidung sering sangat sulit dan tidak optimal. Hal ini terjadi karena sampai saat ini banyak klinisi kesulitan dalam mencari penyebab alergi.
  • Permasalahan ini terjadi karena banyak klinisi kesulitan dalam mencari penyebab alergi. Jadi fakta yang kita hadapi selama ini adalah hanyalah mengobati akibat penyakitnya tetapi tetapi tidak mencari akar permasalahan kenapa penyebab penyakit itu bisa timbul jangka panjang dan hilang timbul. Berbagai pemeriksaan alergi ternyata akurasi dan spesifitasnya sangat rendah. Hal inilah yang tampaknya menjadi penyebab utama mengapa kasus alergi sulit sekali dalam mengatasinya.
  • Debu yang paling sering dianggap sebagai penyebab alergi adalah debu rumah atau ”house dust”. Debu di luar rumah jarang dianggap sebagai penyebab alergi. Bahkan banyak orangtua menyangka bahwa batuk dan pilek berkepanjngan karena adanya proyek bangunan di sekitar rumah. Bila dicermati debu yang selama ini dianggap sebagai biang keladi penyebab alergi mungkin bisa diabaikan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa keluhan alergi seperti batuk dan pilek seringkali timbul saat malam dan pagi hari. Padahal saat malam dan pagi hari debu lebih sedikit. Reaksi alergi karena debu adalah reaksi cepat yang seharusnya lebih banyak timbul saat siang hari saat aktifitas. Fakta lain juga terjadi banyak orangtua yang telah membersihkan semua debu, boneka, karpet dan dipasang air condition plasma cluster tetapi ternyata gejala alergi batuk dan pilek tidak kunjung hilang.
  • Debu bisa dapat menimbulkan alergi bila dalam jumlah yang cukup besar seperti bila masuk gudang, rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, saat bongkar-bongkar kamar atau saat menyapu atau saat memakai atau mengambil barang yang sudah lama tersimpan lama di gudang atau lemari.
  • Gangguan karena debu termasuk reaksi cepat biasanya tidak berlangsung lama, begitu paparan debu tersebut hilang maka dalam beberapa saat keluhan tersebut akan menghilang. Bila gangguan tersebut berlangsung lama bisa dipastikan adalah reaksi lambat, keadaan seperti inilah tampaknya alergi makanan seringkali dapat dicurigai.
  • Pemeriksaan alergi berupa tes kulit, dan RAST sangat terbatas sebagai alat diagnosis.Sehingga sebaiknya tidak boleh menghindari makanan penyebab alergi berdasarkan karena tes kulit alergi. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi. Paling ideal dalam mencegah timbulnya alergi adalah menghindari pencetus atau penyebabnya. Hal ini memerlukan pengamatan yang cermat dan kerjasama yang baik antara dokter, pasien dan keluarga. Untuk mendapatkan hasil penanganan alergi yang optimal harus dipahami perbedaan antara penyebab dan pencetus alergi.

carpets-allergy

Di Swedia, pemakaian carpet berkurang tetapi justru kejadian alergi malah semakin meningkat

Alergi Makanan Sebagai Penyebab Sering Diabaikan

Sebagian besar penderita seringkali menyangkal bahwa makanan berpengaruh terhadap keluhan selama ini yang diderita. Alergi makanan sering diabaikan sebagai penyebab, karena  untuk memastikan alergi makan tidak mudah. Seringkali dalam tes alergi makanan sering tidak terdeteksi. Hasil tes negatif , belum tentu penderita tidak alergi makanan.

Bila keluhan batuk, pilek atau hidung buntu timbul hanya saat pagi dan malam hari, sedangkan saat debu banyak pada siang hari keluhan hilang anda harus mencari penyebab lain selain debu. Bila terdapat gangguan saluran cerna, maka harus dicurigai bahwa makanan berperanan dalam kejadian alergi yang ada.  Selama ini tidak pernah disadari bahwa makanan menganggu keluhan alerginya. Hal ini terjadi karena gangguan alergi makanan hanya diidentikkan dengan gangguan kulit. Kalau tanpa gangguan kulit yang berat tidak alergi makanan,

Alergi makanan dapat dicurigai sebagai penyebab gangguan manifestasi alergi selama ini bila terdapat gangguan saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :

  • Pada Bayi :  bayi mengalami Gastrooesepageal Refluks,  Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada Anak dan Dewasa : Pada usia anak  keluhan muntah semakin berkurang tetapi masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. Sering mengalami MUAL pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering GLEGEKAN, sering KEMBUNG, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering NYERI PERUT. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”.

Untuk memastikan penyebab alergi makanan bukan dengan tes kulit. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.  Bila terdapat gangguan saluran cerna seperti tersebut di atas , seharusnya anda curiga bahwa makanan adalah penyebab gangguan alergi anda selama ini. Untuk memastikan makanan penyebab alergi makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.  Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.  ”Eliminasi Provokasi Makanan terbuka Sederhana” selain sebagai alat diagnosis ternyata dapat digunakan sebagai pendekatan terapi. Penderita disarankan untuk makanan yang aman dan menghindari makanan yang beresiko dalam 3 minggu. Setelah keluhan alergi tersebut membaik dilakukan ”provakasi” atau pemberian salah satu makanan tersebut setiap minggu. Bila keluhan tersebut timbul lagi, dan bila pengalaman tersebut terjadi dua kali atau lebih dapat dipastikan bahwa makanan tersebut sebagai penyebab alergi.

Penanganan

  • Bila telah dipastikan mengalami alergi debu maka harus menggunakan materi tempat tidur yang mudah dibersihkan/dicuci. Bersihkan perlatan tidur setiap minggu dengan air panas 55° Celcius. Menggunakan dry-cleaning pada suhu >55° Celcius selama 20 menit untuk membunuh tungau.
  • Pindahkan semua materi yang mudah berdebu seperti mainan, peralatan yang tidak mudah dibersihkan.
  • Vacuum setiap minggu. Memvacuum dapat membantu meningkatkan kelembapan pada karpet dan tempat tempat yang mudah menjadi tempat perkembngan tungau debu.
  • Jaga kelembapan rumah antara 30-50%. Kelembapan rumah dapat diukur menggunakan higrometer yang tersedia pada toko-toko peralatan.
  • Ganti karpet dengan lantai kayu, linoleum atau lantai keramik dan jaga lantai tetap bersih.
  • Ganti penutup peralatan dengan yang mudah dibersihkan.
  • Bila terdapat gangguan saluran cerna maka sangat mungkin penyebab utama gangguan alergi yang ada bukan debu. Sebaiknya lakukan eliminasi provokasi makanan untuk menentukan penyebab gangguan alergi yang ada benar berasal ari makanan.

 

Supported  by

Widodo judarwanto, pediatrician
Children’s Allergy Center Online
Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak

Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/  

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.  

  

  

  

Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved

About these ads

Responses

  1. malam pak…
    saya mo sharing bayi ku kembar sepasang ( 8 bulan )mempunyai perilaku yang beda yang cowok suka nangis apalagi kl malam suka gelisah padahal da di kasih minum n hidungnya seperti tersumbat dan suaranya macam tenggelam tapi ngk ada ingusnya hidungnya bersih, sedangkan kakaknya mulai umur 2 bulan sering muntah abis minum susu botol dan kalau minum belum habis da tidur mulutnya terbuka n dotnya masih di mulut padahal baru bangun tidur ,mulai usia jalan 4 bulan bayiku yang cewek mulai malas minum susu kl di kasih dotnya di emut tapi susunya ngk keluar sampe 1 jam seperti itu ,..kl da 4 atau 5 jam dari minum susu awal baru mau ngedot ,da chek ke dsa sini ktnya penyebab muntah karna perut gembung,n malas minum karna lidahnya putih n di kasih kandistatin.setelah lidahnya bersih kok jadi mogok minum susu sampe skrg usia 8 bulan usia 6 bulan di kenalin mpasi tetap jg nolak makan ,…priksa ke dsa lg ktnya ada lendir di tenggorokan n di kasih mucopect lendirnya keluar tapi sikit tetap jg nolak minum susu n makan,.kl bayiku bersuara kadang suaranya serak n suka batuk tapi jarang memang,kl di paksa makan n minum susu bayiku menangis n muntah jg akhirnya terpaksa di tunggu tidur dulu baru di kasihpake dot karna dia tidur ngk sadar ngedot n susunya habis kl di tengah jalan bangun ya lidahnya lgsg nolak,..
    bb bayiku susah naik,..waktu nimbang usia 6bulan yg cewek 6,8 kg ,7 bulan yg cewek 7,1 kg lahir 2,8 kg n cowok 7,9 kg lahir 3,2 kg,waktu usia 2 bulan yg cowok 6kg knapa usia 7 bulan cuma 7,9 ya….
    awalnya rumah sakit ngasih susu buat bayiku unmum karna bab nya keras di ganti jd sgm skrg lactogen gold2…
    usia bayiku skrg jalan 9 bulan tapi kok belum bs duduk sendiri ya n bayiku yg cowok dulunya suka liat ke atas jd matanya agak juling gmna solusinya ya ?
    n bayiku yg cewek masih nolak minum n makan ,gmana solusinya ya?
    bayiku kl di kasih biskuit lgsg muntah dia maunya yang lembek n biskuitnya di encerin pake air,..
    bayiku yg cowok ini kl makan selalu nangis dan kl da minum susu suka berhenti dulu kadang muntah jg…

    • Coba baca Pencegahan Alergi Sejak Dini : Kenali Gejala dan Tanda Alergi sejak Lahir. http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/08/17/pencegahan-alergi-sejak-dini-kenali-gejala-dan-tanda-alergi-sejak-lahir/. Bila terdapat gangguan saluran cerna maka sangat mungkin semua gejala yang ada berkaitan dngan alergi makanan dan hipersensitif makanan. Lakukan eliminasi provokasi makanan selama 3 minggu dan amati berbagai gejala yang timbul seperti daftar di atas. Coba lakukan eliminasi provokasi makanan selama 3 minggu makan makanan di daftar basic elimination dan step one, makann dalam daftar step two dan high risk dihindari dulu. nanti daftar makanan akan dikirim lewat email.

  2. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  3. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  4. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  5. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  6. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  7. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  8. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  9. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  10. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  11. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  12. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  13. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  14. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]

  15. [...] Alergi Debu dan “Fobia Alergi Debu” [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers

%d bloggers like this: