Posted by: Indonesian Children | January 10, 2009

ALERGI MAKANAN BERKAITAN DENGAN PERILAKU KRIMINAL ?

DIET, ALERGI, INTOLERANSI, PERILAKU, KRIMINALITAS REMAJA

ALERGI MAKANAN, PERILAKU DAN KRIMINAL PADA USIA MUDA

ILUSTRASI KASUS
Dewasa ini tindak kriminalitas di usia muda meningkat pesat. Perkelahian antar remaja dan mahasiswa semakin sering, pemukulan terhadap guru, pencurian, pemerkosaan bahkan pembunuhan sudah dilakukan anak usia SMP. Mengapa fenomena ini bisa terjadi banyak faktor yang mempengaruhinya.


BACK GROUND :

  • Kekerasan rumah tangga, perkelahian pelajar, kriminalitas dan berbagai tindakan menyimpang dan kriminal lainnya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Tidak semua orang berpotensi sama dalam melakukan tindakan tersebut. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat pola genetik tertentu yang terjadi pada pelaku kekerasan dan kriminal tersebut, meskipun sampai saat ini masih belum terungkap jelas.
  • Beberapa penelitian faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Lingkungan tersebut bisa berupa fisik, biologis dan sosial. Tetapi kebanyakan orang-orang beresiko biasanya memasuki lingkungan yang sama yang berpotensi terjadinya kejahatan tersebut. Lingkungan biologis salah satunya yang saat ini banyak diteliti adalah pola makan apakah berpengaruh terhadap tindak kriminal tersebut.
  • Terdapat beberapa faktor resiko untuk terjadi tindak kekerasan dan kriminal tersebut seperti agresifitas, emosi, impulsifitas, hiperaktif, gangguan tidur dan sebagainya. Penelitian yang dilakukan oleh Peter dkk, mengungkapkan bahwa alergi makanan sangat berkaitan dengan perilaku dan perbuatan kriminal pada saat dewasa.

DIET, ALERGI MAKANAN, PERILAKU DAN KRIMINALITAS

  • Beberapa penelitian faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Lingkungan tersebut bias berupa fisik, biologis dan sosial. Tetapi kebanyakan orang-orang beresiko biasanya memasuki lingkungan yang sama yang berpotensi terjadinya kejahatan tersebut. Lingkungan biologis salah satunya yang saat ini banyak diteliti adalah pola makan apakah berpengaruh terhadap tindak kriminal tersebut.
  • Adanya penelitianyang dilakukan Peter C dkk tahun 1997. menunjukkan kaitan diet, alergi makanan, intoleransi makanan dan perilaku kriminal di usia muda cukup menjadi informasi dan fakta ilmiah yang menarik dan sangat penting, Meskipun demikian masih belum dapat dijelaskan mengapa beberapa faktor tersebut berkaitan.
  • Terdapat beberapa faktor resiko untuk terjadi tindak kekerasan dan kriminal tersebut seperti agresifitas, emosi, impulsifitas, hiperaktif, gangguan tidur dan sebagainya. Ternyata banyak faktor resiko tersebut juga terjadi pada penderita alergi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, impulsifitas hingga memperberat gejala penderita Autism dan ADHD. Sangat mungkin beberapa faktor resiko tersebut bila terjadi bersamaan dan diikuti oleh lingkungan sosial yang negatif maka tindak kriminal lebih gampang terjadi.

Mengapa beberapa faktor resiko tersebut berpotensi sebagai tindak kriminal.

  • Keterkaitan faktor resiko dan tindak kriminal. Keterkaitan faktor resiko dan tindak kriminal tersebut biasa secara langsung atau tidak langsung.
  • GANGGUAN TIDUR. Keterkaitan faktor resiko gangguan tidur dan faKtor kriminal mungkin tidak secara langsung. Penderita gangguan tidur biasanya terjadi gangguan tidur malam maka akan terjadii kompensasi aktifitas. Kompensasi aktifitas tersebut bisa positif atau negatif. Yang negatif biasanya keluar malam, mencari hiburan malam, nongkrong di pinggir jalan, kelayapan malam. Perilaku seperti inilah yang berpotensi terjadi hal negative seperti minuman keras, obat terlarang, judi, perilaku sex menyimpang. Perilaku semua inilah yang mengakibatkan perilaku kriminal.
  • GANGGUAN KONSENTRASI. Kerterkaitan faktor resiko gangguan konsntrasi dan faktor kriminal mungkin tidak secara langsung. Penderita gangguan seperti ini tidak betah untuk baca buku, tidak betah untuk duduk diam di rumah, dan tidak betah untuk belajar. Penderita gangguan konsentrasi biasanya tidak betah tinggal di rumah, lebih senang aktifitas di luar rumah. Biasanya aktifitas di luar rumah tersebut bisa positif atau negatif. Yang negatif biasanya mirip dengan gangguan tidur yaitu mencari hiburan malam, nongkrong di pinggir jalan, kelayapan malam, mengikuti kumpulan atau kelompok ekslusif tersendiri. Perilaku seperti inilah yang berpotensi terjadi hal negative seperti minuman keras, obat terlarang, judi, perilaku sex menyimpang. Perilaku semua inilah yang mengakibatkan perilaku kriminal.
  • GANGGUAN EMOSI DAN IMPULSIF, Gangguan emosi dan impulsif sangat mudah berpotensi tindak kriminal. Di antaranya mudah tersinggung, mudah marah, mudah bertindak kekerasan seperti memukul, menampar dan melempar.

    PENCEGAHAN

  • Identifikasi faktor resiko gangguan kriminal usia muda pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, dan hiperaktif. Juga kenali tanda dan gejala pada anak. Bila beberapa tersebut bersamaan maka sebaiknya orang tua harus mencermati makanan penyebab alergi yang dapat memicu beberapa perilaku pada anak tersebut.
  • Bila faktor resiko tersebut dapat diminimalkan paling tidak bias mengurangi kecenderungan untuk terjadinya hal yang negative dikemudian hari. Kadangkala faktor resiko tersebut tidak bisa dihilangkan, tetapi paling tidak dapat diminimalkan.
  • Bila sudah tidak bisa diminimalkan lagi maka harus dicari kompensasi positif untuk mengakomodasi beberapa perilaku tersebut. Bila terjadi kegagalan dalam mengakomodasi hal yang positif maka akan terjerumus ke hal yang negatif. Misalnya anak dengan gangguan konsentrasi dan gangguan tidur, pada usia remaja akan merasa tidak betah di rumah, maka hal ini harus disiasati dengan kegiatan luar rumah yang positif seperti olahraga, kesenian dan hal positif lainnya. Anak yang tidak betah di rumah harus di arahkan dalam mencari kelompok berteman. Karena lingkungan pertemanan ini sangat berpengaruh terhadap tindak kriminal di masa depan.

    END POINT

  • TERDAPAT HUBUNGAN ANTARA DIET, ALERGI MAKANAN, INTOLERANSI MAKANAN, PERILAKU DAN TINDAK KRIMINAL USIA REMAJA.
  • IDENTIFIKASI GEJALA ALERGI, INTOLERANSI MAKANAN DAN FAKTOR RESIKO PERILAKU PADA ANAK DAN CERMATRI MAKANAN YANG BERPOTENSI TERJADINYA GANGGUAN PERILAKU.
  • BERIKAN KEGIATAN POSTIF DAN BERGUNA BAGI ANAK DENGAN KELOMPOK YANG BERESIKO.

    SPECIAL REFERENCE
    C. Peter; W. Bennett Jonathan Brostoff. The Health of Criminals Related to Behaviour, Food, Allergy and Nutrition: A Controlled Study of 100 Persistent Young Offenders.Journal of Nutritional & Environmental Medicine, Volume 7, Issue 4 December 1997 , 359 – 366

REFERENCE

1.     Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14

2.     A J Wills, G K T Holmes. Neurological complications of coeliac disease Postgraduate Medical Journal 2002;78:393-398

3.     Wills AJ, Turner B, Lock RJ, et al. Dermatitis herpetiformis and neurological dysfunction. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2002;72:259–61

4.     Luostarinen L, Pirttila T, Collin P. Coeliac disease presenting with neurological disorders. Eur Neurol 1999;42:132–5

5.     Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy, dipresentasikan pada “24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO”, 15-20 Agustus,2004.

6.     Judarwanto W. Dietery Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with Gastrointestinal Allergy. Dipresentasikan pada World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition tanggal 2 – 7 Juli 2004 di Paris Perancis.

7.     Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Headache in Children with Gastrointestinal Allergy”; dipresentasikan pada “8th Asian & Oceanian Congress of Child Neurology, Newdelhi India”, 7 – 10 Oktober, 2004.

8.     Connoly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, Autism and other neurolic disorders. J Pediatr 1999;134:607-613

9.     Vodjani A et al, Antibodies to neuron-specific antigens in children with autism: possible cross- reaction with encephalitogenic proteins from milk, Chlamydia pneumoniae, and Streptococcus group A. J Neuroimmunol 2002, 129:168-177.

10.   O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978

11.   Warren RP et al. Immunogenetic studies in Autism and related disorders. Molec Clin Neuropathol 1996;28;77-81.

12.   Egger J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-5

13.   Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177.

14.   Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342.

15.   Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.

16.   Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.

17.   Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.

18.   William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.

19.   Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003

20.   Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.

21.   Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child

22.   Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.

23.   Morfin-Maciel B, Medina A, Espinosa Rosales F, Berron R, Huerta Lopez J. Central nervous system involvement in a child with polyarteritis nodosa and severe atopic dermatitis. Rev Alerg Mex. 2002 Nov-Dec;49(6):189-95.

24.   Uhlig T, Merkenschlager A, Brandmaier R, Egger J Topographic mapping of brain electrical activity in children with food-induced attention deficit hyperkinetic disorder.Eur J Pediatr. 1997 Jul;156(7):557-61.

25.   Weiss B.In rebuttal. Food additives and hyperkinesis. Am J Dis Child. 1980 Dec;134(12):1126-8. Weiss B.In rebuttal. Food additives and hyperkinesis.

26.   Weiss B.Food additives as a source of behavioral disturbances in children. Neurotoxicology. 1986 Summer;7(2):197-208.

27.   Pelsser LM, Buitelaar JK. [Favourable effect of a standard elimination diet on the behavior of young children with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD): a pilot study]
Ned Tijdschr Geneeskd. 2002 Dec 28;146(52):2543-7.

28.   Lipton MA, Mayo JP Diet and hyperkinesis–an update..J Am Diet Assoc. 1983 Aug;83(2):132-4.

29.   Wender EH.New evidence on food additives and hyperkinesis. A critical analysis.
Am J Dis Child. 1980 Dec;134(12):1122-5.

30.   Lindsey JD, Frith GH Hyperkinesis, nutrition, and the Feingold diet: implications for rehabilitation specialists.. J Rehabil. 1982 Jul-Sep;48(3):69-71.

31.   Egger J, Carter CH, Soothill JF, Wilson J.Effect of diet treatment on enuresis in children with migraine or hyperkinetic behavior.. Clin Pediatr (Phila). 1992 May;31(5):302-7.

32.   Schnoll R, Burshteyn D, Cea-Aravena J.Nutrition in the treatment of attention-deficit hyperactivity disorder: a neglected but important aspect.Appl Psychophysiol Biofeedback. 2003 Mar;28(1):63-75.

33.   Thorley G.Childhood hyperactivity and food additives.Dev Med Child Neurol. 1983 Aug;25(4):531-4.

34.   Krummel DA, Seligson FH, Guthrie HA.Hyperactivity: is candy causal?
Crit Rev Food Sci Nutr. 1996 Jan;36(1-2):31-47.

35.   Wigal S, Swanson JM, Feifel D, Sangal RB, Elia J, Casat CD, Zeldis JB, Conners CK.A double-blind, placebo-controlled trial of dexmethylphenidate hydrochloride and d,l-threo-methylphenidate hydrochloride in children with attention-deficit/hyperactivity disorder.J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2004 Nov;43(11):1406-14.

36.   Pollock I, Warner JO.Effect of artificial food colours on childhood behaviour.. Arch Dis Child. 1990 Jan;65(1):74-7.
37. Horwitz DL.Conspectus: food colorings and hyperkinetic children.Compr Ther. 1980 Nov;6(11):3-4.

37.   Carter CM, Urbanowicz M, Hemsley R, Mantilla L, Strobel S, Graham PJ, Taylor E.Effects of a few food diet in attention deficit disorder.Arch Dis Child. 1993 Nov;69(5):564-8.

38.   Boris M, Mandel FS Foods and additives are common causes of the attention deficit hyperactive disorder in children.Ann Allergy. 1994 May;72(5):462-8.

39.   Egger J, Carter CM, Graham PJ, Gumley D, Soothill JF.Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome.Lancet. 1985 Mar 9;1(8428):540-5.

40.   Bateman B, Warner JO, Hutchinson E, Dean T, Rowlandson P, Gant C, Grundy J, Fitzgerald C, Stevenson J.The effects of a double blind, placebo controlled, artificial food colourings and benzoate preservative challenge on hyperactivity in a general population sample of preschool children.
Arch Dis Child. 2004 Jun;89(6):506-11. Erratum in: Arch Dis Child. 2005 Aug;90(8):875.

41.   Rowe KS.Synthetic food colourings and ‘hyperactivity’: a double-blind crossover study.Aust Paediatr J. 1988 Apr;24(2):143-7.

42.   Mattes JA, Gittelman R.Effects of artificial food colorings in children with hyperactive symptoms. A critical review and results of a controlled study.Arch Gen Psychiatry. 1981 Jun;38(6):714-8.

43.   Rowe KS, Rowe KJ.Synthetic food coloring and behavior: a dose response effect in a double-blind, placebo-controlled, repeated-measures study.J Pediatr. 1994 Nov;125(5 Pt 1):691-8.

44.   Schmidt MH, Mocks P, Lay B, Eisert HG, Fojkar R, Fritz-Sigmund D, Marcus A, Musaeus B.Does oligoantigenic diet influence hyperactive/conduct-disordered children–a controlled trial.
Eur Child Adolesc Psychiatry. 1997 Jun;6(2):88-95.

45.   Williams JI, Cram DM, Tausig FT, Webster E.Relative effects of drugs and diet on hyperactive behaviors: an experimental study.Pediatrics. 1978 Jun;61(6):811-7.

46.   Wender EH.The food additive-free diet in the treatment of behavior disorders: a review.J Dev Behav Pediatr. 1986 Feb;7(1):35-42.

47.   Traxel WL.Hyperactivity and the Feingold diet.Arch Gen Psychiatry. 1982 May;39(5):624.

48.   Salamy J, Shucard D, Alexander H, Peterson D, Braud L.Physiological changes in hyperactive children following the ingestion of food additives.. Int J Neurosci. 1982 May;16(3-4):241-6.

49.   Breakey J.The role of diet and behaviour in childhood.J Paediatr Child Health. 1997 Jun;33(3):190-4.

50.   Egger J, Stolla A, McEwen LM.Controlled trial of hyposensitisation in children with food-induced hyperkinetic syndrome.Lancet. 1992 May 9;339(8802):1150-3.

51.   Harley JP, Ray RS, Tomasi L, Eichman PL, Matthews CG, Chun R, Cleeland CS, Traisman E.Hyperkinesis and food additives: testing the Feingold hypothesis.Pediatrics. 1978 Jun;61(6):818-28.

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: