Posted by: Indonesian Children | January 10, 2009

DAYA TAHAN TUBUH DAN ALERGI MAKANAN

 

INFEKSI BERULANG PADA ANAK : MENGAPA ANAK

 

 TERTENTU MENGALAMI SAKIT BATUK, PILEK DAN

 

 DEMAM ?

 

 

ILUSTRASI KASUS

  • Orang tua si Udin sangat kawatir, sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit . Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek dan panas. Kekawatiran orangtua beralasan karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit.
  • Tertular sakit di sekolah sering dijadikan biang keladi penyebabnya. Tetapi bila dicermati memang infeksi sering tertular di sekolah tetapi tidak semua anak mengalami mudah tertular penyakit, mungkin di antara satu kelas yang mengalami sekitar 20-30% anak.
  • Manifestasi tersebut biasanya diistilahkan sebagai infeksi berulang
  • Seringkali dokter memvonis infeksi berulang ini sebagai gejala alergi karena gejalanya mirip dan berlangsung hilang timbul. Memang seringkali penderita infeksi berulang terjadi pada penderita alergi, tetapi sebenarnya hal yang berbeda.

    BACKGROUND

  • Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif jarang terjadi.
  • Penderita infeksi berulang pada anak sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis, otitis media, gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis. Gangguan perilaku sering menyertai penderita gangguan ini diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan mengganggu absensi sekolah. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

    PENGERTIAN INFEKSI BERULANG

  • Tampaknya hingga saat ini belum ada definisi baku yang tepat dalam menjelaskan kriteria infeksi berulang pada anak. Dikatakan infeksi berulang pada anak bila infeksi sering dialami oleh seorang anak. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.
  • Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut.

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

  • Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis. Pertahanan fisik berupa kulit dan selaput lender sedangkan kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung. Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan selaput lender. Pertahanan fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).
  • Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh.

 

FAKTOR PENYEBAB

  • Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang pada anak, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (penderita alergi) atau kekurangan) atau penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas. Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu didapatkan perbedaan pada kerentanan terhadap infeksi. Anak laki-laki lebih sering mengalami gangguan ini.
  • Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun.

 
SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI

  • Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa ”overactive” system kekebalan (alergi) dan “underactive” sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri.
  • Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahan tubuh yang dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme pertahanan tubuh.
  • Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini. Alergi dapat mengganggu semua organ tubuh dan perilaku anak. Tampilan klinis penderita alergi dengan gangguan saluran cerna adalah sering muntah, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor. Gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat badan. Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan. Gangguan perilaku yang menyertai adalah anak sangat aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, agresif, gangguan tidur malam, ”ngompol” malam hari atu sering kencing. Gangguan motorik dan koordinasi yang dialami adalah terlambat bolak-balik, duduk dan merangkak, sering terjatuh, terlambat berjalan dan keterlambatan motorik lainnya. Sedangkan keterlambatan motorik mulut adalah gangguan mengunyah dan menelan, atau keterlambatan dan gangguan bicara.
  • Pemberian ASI ekslusif seharusnya tidak mengalami infeksi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Tetapi ternyata masih saja terdapat bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Penulis telah mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center,, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah, buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.


PENDERITA YANG BERESIKO TERJADI INFEKSI BERULANG ADALAH :

 
Penderita gangguan saluran cerna secara jangka panjang seperti :

  • Pada anak dan bayi :
    o sering muntah atau penderita Gastrooesepageal refluks (GER), sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, tidak BAB tiap hari, kalaupun tiap hari tetapapi sering ngeden, berbau dan berwarna gelap, hitam atau hijau, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor.
    o Sering terdapat jamur di selangkangan
    o Sering sulit makan.
  •  Pada orang dewasa :
    o Dispepsia atau gangguan saluran cerna atau sering disebut sakit mag
    o Manifestasi klinis sering mual, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor.

    DIAGNOSIS ALERGI
  • Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Allergy Behaviour Clinic Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.

    INFEKSI BERULANG SERING DIKELIRUKAN DENGAN ALERGI

  • Banyak penderita infeksi berulang sering dianggap sebagai alergi. Memang benar bahwa infeksi berulang pada anak sering terdapat pada penderita alergi. Tetapi banyak klinisi yang menganggap manifestasi klinis infeksi berulang tersebut dianggap sebagai gejala alergi. Karena untuk membedakan gejala alergi dan infeksi ringan kadang seringkali sulit karena gejalanya hampir sama.
  • Perbedaannya gejala alergi lebih ringan dibandingkan dengan infeksi. Biasanya penderita datang ke dokter dengan keluhan infeksi, karena gejala alergi biasanya penderita jarang berkunjung ke dokter karena ringan. Kaalupun datang ke dokter karena gejala alergi berulang tidak sembuh secara jangka panjang.

    AKIBAT YANG DITIMBULKAN

  • Penderita yang sering mengalami infeksi berulang beresiko mendapatkan terapi ”overdiagnosis TBC” atau di masyarakat awam sering dianggap sebagai penyakit ”flek”. Overdiagnosis TBC artinya diagnosis TBC yang diberikan terlalu cepat padahal anak bwelum tentu mengidap penyakit TBC.
  • Sering mengalami pembesaran TONSIL atau menagalami tonsilitis kronis pada orang awam sering diistilahkan penyakit amandel.
  • Sering mengalami overtreatment antibiotu\ika padahal penyebab infeksi berulang adalah infeksi virus yang tidak perlu antibiotika.
  • Sering mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher atau belakang kepala.

    PENCEGAHAN

  • Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi. Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI.
  • Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Cermati anggota keluarga dirumah yang juga sering mengalami infeksi tenggorok, sering batuk dan sering pilek. Kalu tidak ada berarti memang daya tahan tubuh anak yang lemah. Bila ada gangguan saluran cerna dan disertai gejala alergi maka hal tersebut harus diperbaiki.
  • Bila anak mengalami sulit makan disertai gejala saluran cerna atau alergi maka sebaiknya jangan pergi ke tempat yang beresiko terjadi penularan seperti kolam renang, tempat bermain anak di mall atau di penitipan anak.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat mungkin akan memperparah masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit.
  • Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi.

    DAFTAR PUSTAKA
    · Wald ER, Guerra N, Byers C. Frequency and severity of infections in day care: three-year follow-up. J Pediatr 1991;118(4 (Pt 1)):509-14
    · Nafstad P, Hagen JA, Pie L, Magnus P, Jaakkola JJK. Day care centers and respiratory health. Pediatrics 1999;103:753-8
    · Heikkinen T, Ruuskanen O, Ziegler T, Waris M, Puhakka H. Short-term use of amoxicillin clavulanate during upper respiratory tract infection for prevention of acute otitis media. J Pediatr 1995;126:313-6
    · Uhari M, Kontiokari T, Koskela M, Niemelä M. Xylitol chewing gum in prevention of acute otitis media: double blind randomised trial. BMJ 1996;313:1180–4
    · American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Influenza Immunization of Children. Pediatrics 2004;113(5):1441-7
    · Straetemans M, Sanders EAM, Veenhoven RH, Schilder AGM, Damoiseaux RAMJ, Zielhuis GA. Pneumococcal vaccines for preventing otitis media. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(1):CD001480
    · Palmu AA, Verho J, Jokinen J, Karma P, Kilpi TM. The seven-valent pneumococcal conjugate vaccine reduces tympanostomy tube placement in children. Ped Inf Dis J 2004;23(8):732-8. In: The Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL) 2005, Issue 1.
    · Fahey T, Stocks N, Thomas T. Systematic review of the treatment of upper respiratory tract infection. Archives of Diseases in Childhood 1998;79:225–230
    · Judarwanto W. Recurrent Infection in Infant under 6 months old with breastfeeding.
    · Morris P. Antibiotics for persistent nasal discharge (rhinosinusitis) in children. Cochrane Database Syst Rev. 2002;(3):CD001094
    · Yang KD, Hill HR. Neutrophil function disorders: pathophysiology, prevention, and therapy. J Pediatr 1991;119:343-54.
    · Wheeler JG, Steiner D. Evaluation of humoral responsiveness in children. Pediatr Infect Dis J 1992;11:304-10.
    · Fielding JE, Phenow KJ. Health effects of involuntary smoking. N Engl J Med 1988;319:1452-60.
    · Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Halonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing in the first six years of life. The Group Health Medical Associates. N Engl J Med 1995;332:133-8.
    · Boyce WT, Chesterman EA, Martin N, Folkman S, Cohen F, Wara D. Immunologic changes occurring at kindergarten entry predict respiratory illnesses after the Loma Prieta earthquake. J Dev Behav Pediatr 1993;14:296-303.
    · Conley ME, Stiehm ER. Immunodeficiency disorders: general considerations. In: Stiehm ER, ed. Immunologic disorders in infants and children. 4th ed. Philadelphia: Saunders, 1996:201-52.
    · Moss RB, Carmack MA, Esrig S. Deficiency of IgG4 in children: association of isolated IgG4 deficiency with recurrent respiratory tract infection. J Pediatr 1992;120:16-21.

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: