Posted by: Indonesian Children | January 10, 2009

DEATH ALLERGY OR ANAPHYLAXIS : MENINGGAL MENDADAK KARENA ALERGI?

ALERGI MAKANAN DAPAT MENGANCAM JIWA MENDADAK

.

BBC beberapa waktu yang lalu memberitakan seorang gadis berasal dari Kanada berusia 15 tahun meninggal setelah berciuman dengan teman prianya. Ternyata sang pria telah makan kacang beberapa menit sebelumnya, sedangkan si perempuan ternyata mempunyai riwayat alergi terhadap makanan kacang.

Dalam dekade terakhir ini kasus alergi tampaknya meningkat pesat. Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah diketahui. Alergi makanan dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi termasuk dapat mengancam jiwa. Kasus kematian karena reaksi alergi makanan terjadi karena reaksi anfilaksis. Setiap tahun kasus jumlah kematian yang disebabkan anafilaksis karena reaksi alergi makanan.menunjukkan peningkatan Hingga saat ini masih belum jelas diketahui penyebab pasti peningkatan tersebut. Sebuah penelitian menunjukkan implikasi penggunaan luas zat aditif protein pada makanan kemasan tampaknya ikut berperanan.5

Di berbagai negara penderita alergi makanan sekitar 2 – 2,5% pada dewasa, pada anak sekitar 6 – 8%. Di Amerika Serikat diperkirakan 100 hingga 175 orang meninggal karena alergi makanan setiap tahunnya. Reaksi anafilaksis yang dapat mengancam jiwa tidak selalu dijumpai pada semua penderita alergi 1- 4. Angka kejadian di Australia didapatkan kasus anafilaksis sekitar 1 dari 200 anak sekolah. Satu dari 6 kejadian anafilaksis terjadi di sekolah. Sepuluh dari 20 penderita anafilaksis meninggal dunia setiap tahun 6,7. . Di Indonesia kasus meninggal karena alergi makanan mungkin belum pernah dilaporkan. Hal ini bukan sekedar karena tidak ada kasus, tetapi tampaknya disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap masalah tersebut.

KARAKTERISTIK PENDERITA DAN MAKANAN YANG BERESIKO TINGGI

Penderita alergi pada anak yang beresiko terjadi reaksi anafilaksis karena alergi makanan biasanya mempunyai riwayat gangguan gastrointestinal, pernapasan, urtikaria atau angioedema setelah mengkonsumsi makanan penyebab alergi. Sebuah laporan kasus seri menunjukkan enam penderita usia anak dengan anafilaksis berat setelah terpapar makanan, enam kasus lainnya anafilaksis agak berat. Semua penderita ternyata sebelumnya tidak hanya mempunyai riwayat alergi makanan tetapi juga mempunyai riwayat asma dan reaksi alergi yang tinggi terhadap beberapa jenis makanan. Orang tua dan pengasuhnya ternyata tidak berhasil mencermati dan mengidentifikasi makanan yang berpotensi mengakibatkan reaksi alergi makanan yang serius1,5,6.

Beberapa jenis makanan tertentu dapat menjadi ancaman yang dapat mengancam jiwa pada orang tertentu. kacang, kacang-kacangan pohon (hazelnut : semacam kenari, kenari dan kacang mente). Telor dan susu sapi sering diduga yang paling sering, tetapi ikan, ikan laut berkulit keras, moluska dan kedelai juga bisa mematikan. Makanan dalam jumlah tertentu dapat menimbulkan reaksi anafilaksis. Antigen makanan mungkin juga tersembunyi di dalam jenis makanan kue, gandum, gula-gula atau makanan lain 1,5..

GEJALA KLINIS

Definisi klinis yang sering dipakai untuk anafilaksis adalah keterlibatan salah satu atau dua gangguan berat kesulitan bernapas (edema laring atau asma) dan hipotensi (pingsan, kolaps dan gangguan kesadaran)’.

Onset dan perjalanan penyakit anafilaksis dapat bervariuasi dianatara beberapa penderita, Manifestasi anafilaksis yang terjadi sangat banyak karena mengakibatkan kumpulan gejala dari gangguan beberapa organ dan fungsi tubuh. Manifestasi klinis anafilaksis yang dapat terjadi karena reaksi alergi makanan adalah urticaria (hives), eritema (kemerahan menyeluruh), eruritus (gatal yang luas) tanpa rash, angioedema (swelling), edema laring, asma, rinitis, konjungtivitis, gatal palatum dan saluran meatikus akustikus eksterna, mual , muntah, nyeri perut, palpitasi, dada berdebar, pingsan, dan gangguan kesadaran.

PENANGANAN

Tujuan utama pengobatan farmakologi adalah untuk memelihara keutuhan saluran napas dan tekanan darah. Injeksi epinefrin suntikan adalah pilihan utama tindakan awal untuk mengatasi reaksi anafilaksis. Terapi ini menekan pengeluaran mediator inflamasi dari sel mast dan basofil dan secara langsung menurunkan vasidilatasi, edema dan bronkokonstriksi. Pemberian epinefrin auto injeksi harus diberikan segera berdasarkan gejala bahaya seperti gatal diikuti pembekakkan bibir dan mulut, sesak atau leher seperti tercekik dan muntah. Sebaiknya pemberian ini dilakukan sebelum sebelum terjadi gejala distress pernapasan, stridor dan wheezing. Pemberian auto injeksi adalah pemberian obat melalaui alat suntik yang dilakukan penderita sendiri tanpa bantuan dokter atau tenaga medis lainnya2-4,9

Meskipun pemberian epinefrin auto injeksi telah drekomendasikan untuk penanganan awali, ternyata separuh dari kasus ini obat tersebut tidak tersedia saat meninggal. Beberapa penderita awalnya mempunyai gejala ringan yang dapat mengelabuhi sebelum berkembang menjadi gangguan pernapasan yang berat. Tidak satupun dari mereka sempat mendapatkan injeksi epineprine sebelum gangguan napas berat yang dapat mengancam jiwa berlanjut 1,11.

PENCEGAHAN

Pada penderita yang beresiko tinggi terjadi reaksi anafilaksis harus dengan ketat menghindari makanan yang berpotensi alergi sangat tinggi untuk dirinya. Penderita dan orangtua harus mengetahui dan mempunyai daftar tulisan istilah yang digunakan pada kemasan makanan tentang jenis protein yang terkandung. Telor mungkin ditulis sebagai albumin atau lesitin, susu sapi ditulis sebagai whey, kasein atau caseinete. Label pada makanan kemasan yang dibeli harus dilihat dengan teliti setiap hendak membeli atau memngkonsumsi. Antigens seperti kacang tanah mungkin ditemukan dengan tak diduga di dalam minyak, tepung, daging yang diproses, dan susu dan susu cream. Penderita disarankan memakai tanda pengenal gelang “medical alert” yang berisi sensitivitas makanan tertentu. .

Di rumah makan orang tua harus mengetahui informasi dengan cermat dari kalau perlu dari jurumasaknya langsung tentang semua ramuan resep yang terkandung dalam makanan yang hendak dipesan. The Canadian Restaurant and Food Service Association, Toronto, baru-baru ini memulai suatu program tentang peduli alergi. Partisipasi yang dilakukan oleh rumah makan untuk menyediakan dafatar tertulis kandungan makanan yang tersedia dan membuat tempat dan tenaga khusus yang dapat memberi informasi dan menjawab dengan baik tentang kandungan yang ada di dalam makanan 1,5.

The Allergy Asthma Information Association di beberapa negara menyediakan informasi yang terbaru tentang isi makanan dan label makanan yang terus diperbaharui dalam periode tertentu. Institusi ini juga berwenang mengawasi dan memberi peringatan kepada perusahaan yang memberikan sering label salah dan berani mencantumkan pada kemasan dengan tulisan aman untuk alergi makanan secara umum1,6.

Penderita harus selalu membawa epinefrin injeksi (Ana-Kit atau EpiPen) setiap waktu bila hendak bepergian. Sekolah adalah tempat yang digunakan dengan waktu terbanyak oleh anak dalam aktifitas sehari-hari. Hendaknya pengurus sekolah harus peduli dengan kemungkinan gejala yang dapat terjadi di lingkungannya. Upaya penyediaan obat dan informasi tentang permasalahan kesehatan ini termasuk penggunaan obat epenefrin harus diketahui oleh seorang guru yang telah ditunjuk di bidang kesehatan sekolah1

 

DAFTAR PUSTAKA.

1.     Allergy Section, Canadian Paediatric Society (CPS), Allergy Fatal anaphylactic reactions to food in children. Canadian Medical Association Journal 1994; 150(3):337-9

2.     Bochner BS, Lichtenstein LM: Anaphylaxis. N Engl J Med 1991; 324: 1785-1790

3.     Yunginger JW, Sweeney KG, Sturner WQ et al: Fatal food-induced anaphylaxis. JAMA 1988; 260: 1450-1452

4.     Sampson HA, Mendelson L, Rosen JP: Fatal and near-fatal anaphylactic reactions to food in children and adolescents. N Engl J Med 1992; 327: 380-384

5.     Colver AF, Nevantaus H, Macdougall CF, Cant AJ. Severe food-allergic reactions in children across the UK and Ireland, 1998-2000. Acta Paediatr. 2005 Jun;94(6):689-95

6.     Ad Hoc Committee on Anaphylaxis in School, American Academy of Pediatrics Section on Allergy and Immunology: Anaphylaxis at school: etiologic factors, prevalence, and treatment. Pediatrics 1993; 91: 516

7.     Allergy Capital. Food allergy and anaphylaxis in schools -why the fuss? http://www.allergycapital.com.au/Pages/schoolallergy.html

8.     Warren JB, Doble N, Dalton N et al: Systemic absorption of inhaled epinephrine. Clin Pharmacol Ther 1986; 40: 673-678

9.     Heilborn H, Hjemdahl P, Daleskog M et al: Comparison of subcutaneous injection and high-dose inhalation of epinephrine — implications for self-treatment to prevent anaphylaxis. J Allergy Clin Immunol 1986; 78: 1174-1179

10.   Simons FER, Simons KJ: The pharmacology and clinical use of H1-antagonists. N Engl J Med (in press)

11.   Stark BJ, Sullivan TJ: Biphasic and protracted anaphylaxis. J Allergy Clin Immunol 1986; 78: 76-83.

12.   BBC news. Girl dies in peanut butter kiss. http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/4481546.stm.

 

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: