Posted by: Indonesian Children | February 1, 2009

BENARKAH ANDA TIDAK ALERGI MAKANAN ATAU HIPERSENSITIFITAS MAKANAN?

ALERGI MAKANAN PADA ORANG DEWASA

DAN GANGGUAN PADA SEMUA ORGAN TUBUH DAN PERILAKU

 

KENALI GEJALA ALERGI PADA ORANGTUA MAKA ANAK JUGA AKAN BERESIKO ALERGI.

 JANGAN SAMPAI PENYAKIT YANG SANGAT MENGGANGGU TERSEBUT AKAN DIALAMI OLEH ANAK ANDA.

 

 

Ketika anak anda di vonis alergi oleh dokter seringkali orangtua langsung mengatakan bahwa dirinya tidak alergi. Memang alergi adalah penyakit keturunan, tetapi benarkah anda tidak mengalami alergi ? Resource (Marketing Research) Limited  melakukan penelitian di Inggris bagian selatan, terdapat 22% baru mengetahui setelah lebih 15 tahun mengalami gangguan alergi tersebut. Bayangkan di negara maju saja orang baru menyadari bahwa dirinya mengidap alergi setelah 15 tahun pindah berbagai dokter dan mengalami gejala tersebut.

 

Angka kejadian alergi di berbagai dunia dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia diperkirakan terdapat 50 juta manusia menderita asma. Tragisnya lebih dari 180.000 orang meninggal setiap tahunnya karena astma. BBC  tahun 1999 melaporkan penderita alergi di Eropa ada   kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat  30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari  9 juta orang.

Beberapa ahli alergi berpendapat bahwa 30%-50% secara genetik manusia mempunyai predisposisi untuk berkembang menjadi alergi. Dengan kata lain mempunyai antibody Imunoglobulin E terhadap lingkungan penyebab alergi. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa keluhan yang dia alami itu adalah gejala alergi.  Di Amerika penderita alergi makanan sekitar 2 – 2,5% pada dewasa, pada anak sekitar 6 – 8%. Setiap tahunnya diperkirakan 100 hingga 175 orang meninggal karena  alergi makanan. Penyebab kematian tersebut biasanya karena syok anafilaksis  (reaksi alergi berat), tersering karena kacang tanah. Lebih 160 makanan dikaitkan dengan alergi makanan. Para ahli berpendapat  penderita alergi di Negara berkembang mungkin lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat. Penderita astma pada tahun 1994 di Amerika serikat sekitar 14,6 juta orang, meningkat sekitar 17 juta pada tahun 1998. Astma pada anak di bawah usia 18 tahun tahun 1994 dilaporkan sekitar 4,8 juta anak. Penderita urticaria (biduran) dialami oleh sekitar 15% masyarakat Amerika setiap tahunnya. Penderita sinusitis kronik lebih banyak lagi yaitu sekitar lebih 50 juta orang. Penderita alergi kulit (dermatitis alergi) adalah paling dijumpai diantara penderita sakit kulit pada anak di bawah 11 tahun.

 

ALERGI MAKANAN

Pengertian atau definisi alergi makanan harus dipahami dengan baik. Anggapan yang terjadi di masyarakat sekarang ini bahwa setiap reaksi yang ditimbulkan oleh makanan langsung dianggap sebagai alergi makanan. Pendapat seperti itu tidak sepenuhnya benar. Reaksi atau gejala yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan tertentu selain karena alergi makanan, bisa disebabkan juga bukan oleh alergi makanan.

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan.  Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV.

Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologis.

Resource (Marketing Research) Limited  melakukan penelitian di Inggris bagian selatan, tahun 2000  dilaporkan  lebih dari 50% orang dewasa menderita alergi makanan. Sekitar 70% penderita  alergi baru mengetahui kalau ia mengalami  alergi setelah lebih dari 7 tahun. Sekitar 50% orang dewasa mengetahui penyebab gejala alergi setelah 5 tahun, bahkan terdapat 22% baru mengetahui setelah lebih 15 tahun mengalami gangguan alergi tersebut. Keadaan ini menunjukkan bahwa sebenarnya alergi belum mendapat perhatian dengan baik, Bayangkan, di negara maju seperti Inggris gejala alergi yang ada itu baru dideteksi sesudah puluhan tahun, apalagi di Indonesia !

 

MANIFESTASI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN

Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua organ tubuh dan sistem fungsi tubuh. Tetapi seringkali keluhan alergi yang diderita pada usia dewasa sudah mulai banyak berkurang dibandingkan usia anak atau usia muda. Sehingga sering orang tua saat ini tidak merasa mempunyai keluhan alergi, tetapi saat kecil mengalami banyak keluhan alergi.

      Untuk mengetahui resiko alergi pada anak kita harus mengetahui bagaimana gejala alergi pada orang dewasa. Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua organ tubuh dan sistem fungsi tubuh. Disamping tanda dan gejala alergi yang berkaitan dengan organ tubuh manusia, terdapat beberapa tanda umum pada penderita alergi. Menurut Richard Mackarness, 1992 berpendapat terdapat 5 gejala kunci pada alergi dewasa adalah :

1.    Berat badan yang berlebihan atau sebaliknya berat badan kurang.

2.    Kelelahan terus menerus dalam beberapa saat dan tidak lenyap walaupun telah beristirahat.

3.    Terjadi pembengkakan di sekitar mata, tangan, abdomen, pergelangan kaki.

4.    Denyut jantung yang cepat dan berdebar-debar, khususnya setelah makan

5.    Keringat yang berlebihan walaupun tidak berolahraga.

 

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI PENDERITA   ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN

 

 

ORGAN/SISTEM TUBUH

GEJALA DAN TANDA

1

Sistem Pernapasan

Batuk (terutama malam hari dan pagi hari) lama dan berulang, BRONKITIS KRONIS, sesak(astma). Sering berdehem (batuk kecil)

1

Sistem Telinga Hidung Tenggorok

Sering nyeri tenggorokkan, sering berdahak, pilek, bersin, hidung buntu, sinusitis, polip, “hidung bengkok”. Telinga gatal, nyeri atau berair.

2

Sistem Pembuluh  Darah dan jantung

Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan), nyeri dada sering dikira HEART ATTACK LIKE SYMPTOMS, colaps (jatuh), pingsan, tekanan darah rendah, arhitmia (denyut jantung tidak teratur)

3

Sistem Pencernaan

Nyeri perut, sering diare, kembung, muntah, sulit berak (tidak berak setiap hari), sering buang angin , sariawan, mulut berbau,

4

Kulit

Sering gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman, bekas hitam seperti digigit nyamuk, kulit timbul bercak putih (seperti panu), pernah alergi obat.

5

Sistem Saluran Kemih dan Genitalia

Sering kencing terutama malam hari, nyeri kencing, vagina: keluar cairan, bengkak, kemerahan, nyeri, sakit bila berhubungan, KEPUTIHAN

6

Sistem Susunan Saraf Pusat

Sering sakit kepala, migrain, short lost memory (sering lupa hanya sesaat, nama orang, lupa menaruh barang ), floating (melayang), Gangguan Tidur (sulit tidur / insomnia, sering mimpi buruk (terutama bertemu binatang (ular, yang seram2), malam sering terbangun), susah konsentrasi, claustrophobia (takut ketinggian), depresi, sering merasa terasing atau sendiri

Perilaku : impulsif (bicara berlebihan), sering terburu-buru,sering marah, mood swings

7

Sistem Hormonal

Kulit berminyak (atas leher), kulit kering (bawah leher), jerawat, endometriosis, Premenstrual Syndrome, kemampuan sex menurun, Chronic Fatique Symptom (sering lemas seperti tak bertenaga), Hipoglycemia like syndrome (sering lemas tak bergairah/seperti kurang gula darah),

Gampang marah, Mood swing, sering terasa kesepian, rambut rontok

8

Jaringan otot dan tulang

Nyeri tulang, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri dada (heart attack like synptoms/gejala seperti sakit jantung), nyeri pinggang belakang, otot leher/bahu kaku, gerakan jalan terbatas/seperti pincang.

9

Gigi dan Mulut

Sering nyeri gigi dan gusi terutama gigi belakang (tanpa gigi berlubang/sering dikira karena gigi geraham yang tumbuhnya miring / teeth impacted), sering sariawan luka dimulut..

10

Mata

Sering mata gatal (sering menggosok mata), sering bintilan di mata, timbul warna hitam di bawah kelopak mata. mendadak tidak bisa baca, terasa kabur yang bersifat sementara  (terutama saat hamil)

 

Bila  minimal 3 keluhan tersebut  pernah / sering terjadi pada anda tanpa pernah tahu penyebabnya sebaiknya anda segera berkonsultasi dengan Dokter Alergi  anda. Bila terdapat orang tua terdapat gejala alergi maka sebaiknya harus mewaspadai tanda dan gejala alergi pada anaknya.

 

 

DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN

Alergi makanan pada orang dewasa sering diabaikan. Selama ini penyebab alergi pada orang tua dianggap karena debu. Memang benar, alergi makanan lebih sering terjadi pada anak. Tetapi bukan berarti alergi makanan tidak dialami oleh orang tua.

Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak kecil dan dengan  eliminasi dan provokasi.

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab alergi sangat banyak dan beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih. Diantaranya adalah uji kulit alergi, pemeriksaan darah (IgE, RASt dan IgG), Pemeriksaan lemak tinja, Antibody monoclonal dalam sirkulasi, Pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), Kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), Provokasi intra gastral melalui endoskopi, biopsi usus setelah dan sebelum pemberian makanan.

Diagnosis pasti alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya dengan tes alergi baik tes kulit, RAST, Immunoglobulin G atau pemeriksaan alergi lainnya. Pemeriksaan tersebut mempunyai keterbatasan dalam sensitifitas dan spesifitas, Sehingga menghindari makanan penyebab alergi atas dasar tes alergi tersebut seringkali tidak menunjukkan hasil yang optimal. 

Pada tes kulit seringkali yang terdeteksi adalah proses alergi reaksi cepat (reaksi terjadi kurang 8 jam). Seperti, bila makan udang dalam beberapa jam timbul gatal-gatal. Tetapi proses alergi makanan reaksi lambat (reaksi terjadi lebih dari 8 jam) seringkali negatif atau tidak terdeteksi. Sehingga sering terjadi pada tes kulit yang positif hanyalah debu yang merupakan alergi tipe reaksi cepat dan makanan lainnya negatif. Fenomena inilah yang mengakibatkan timbul persepsi bahwa gejala alergi sebagian besar disebabkan karena debu dan ALERGI MAKNAAN TIDAK DIANGGAP SEBAGAI PENYEBAB ALERGI PADA ORANG DEWASA.

            Untuk memastikan penyebab alergi makanan bukan dengan tes kulit. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan  eliminasi dan provokasi.

            Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.

            ”Eliminasi Provokasi Makanan terbuka Sederhana” selain sebagai alat diagnosis ternyata dapat digunakan sebagai pendekatan terapi. Penderita disarankan untuk makanan yang aman dan menghindari makanan yang beresiko dalam 3 minggu. Setelah keluhan alergi tersebut membaik dilakukan ”provakasi” atau pemberian salah satu makanan tersebut setiap minggu. Bila keluhan tersebut timbul lagi, dan bila pengalaman tersebut terjadi dua kali atau lebih dapat dipastikan bahwa makanan tersebut sebagai penyebab alergi.

            Berbagai ”kontroversi” dan pendapat negatif sering timbul dalam pendekatan diagnosis tersebut. Apakah bila melakukan program tersebut penderita tidak akan kurang gizi? Jawabannya, pasti tidak. Karena, beberapa jenis makanan yang dihindari tersebut ada pengganti makanan yang aman lainnya dengan kandungan gizi yang tidak jauh berbeda. Misalnya buah jeruk bisa diganti apel dan sebagian besar sayuran. Telor dan ayam sementara diganti daging sapi atau daging kambing. Kacang tanah sementara diganti kacang kedelai, ikan laut sementara diganti ikan air tawar atau dalam usia di atas setahun dan alergi tidak berat dapat diganti ikan salmon. Intervensi tersebut akan berpengaruh terhadap gizi anak bila hanya menghindari makanan tersebut tanpa mengetahui atau mengganti dengan makanan yang aman.

            Bahkan setelah tiga minggu mengikuti program tersebut, sebagian besar terjadi kenaikkan berat badan yang cukup bermakna. Karena selama ini makanan penyebab alergi tersebut meskipun bergizi ternyata sebagian besar juga mengganggu fungsi saluran cerna yang berakibat terjadi gangguan penyerapan dan kesulitan makan.

            Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya  tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.

Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Bioresonansi, Hair Analysis Testing in Allergy,  Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

Selain itu terdapat juga pemeriksaan alternatif lainnya untuk mencari penyebab alergi makanan diantaranya adalah Metode Refleks Telinga Jantung, Cytotoxic Food Testing, ELISA/ACT, Analisa Rambut,  Iridology dan Tes Nadi.

Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam penanganan alergi makanan sesuai dengan pengalaman klinis tiap ahli atau peneliti. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab alergi makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard”.

Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam penanganan alergi makanan sesuai dengan pengalaman klinis tiap ahli atau peneliti. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani alergi makanan. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab alergi makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard”.

 

PENCETUS ALERGI

           Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari,olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan.

Faktor hormonal juga memicu terjadinya alergi pada orang dewasa. Faktor hormonal itu berpengaruh sebagai pemicu alergi terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga banyak ibu hamil mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya.

 

Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab  serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus  maka  keluhan atau gejala alergi  yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul. Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan.

Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan,  kelelahan atau aktifitas berlebihan  seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin mungkin keliru.

 

PROGNOSIS

            Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi alergi makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena alergi makanan juga akan ikut berkurang. Selanjutnya pada usia di atas 5 atau 7 tahun  alergi makananpun akan berkurang secara bertahap. Meskipun alergi makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti udang, kepiting, kacang tanah dan makanan tertentu lainnya.

 

Provided by

DR WIDODO JUDARWANTO SpA
children’s ALLERGY CLINIC

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email :  judarwanto@gmail.com,

htpp://www.childrenallergyclinic.wordpress.com/

Allergies, who wants them. But unfortunately we have them.

 

 

 

Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: