Posted by: Indonesian Children | May 16, 2009

ANGKA KEJADIAN ALERGI

 

     Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara  menunjukkan  penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi.

  1. Angka kejadian alergi di berbagai dunia dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia diperkirakan terdapat 50 juta manusia menderita asma. Tragisnya lebih dari 180.000 orang meninggal setiap tahunnya karena astma. BBC  tahun 1999 melaporkan penderita alergi di Eropa ada   kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat  30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari  9 juta orang.

Beberapa ahli alergi berpendapat bahwa 30%-50% secara genetik manusia mempunyai predisposisi untuk berkembang menjadi alergi. Dengan kata lain mempunyai antibody Imunoglobulin E terhadap lingkungan penyebab alergi. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa keluhan yang dia alami itu adalah gejala alergi.  Resource (Marketing Research) Limited  melakukan penelitian di Inggris bagian selatan, tahun 2000  dilaporkan  lebih dari 50% orang dewasa menderita alergi makanan. Sekitar 70% penderita  alergi baru mengetahui kalau ia mengalami  alergi setelah lebih dari 7 tahun. Sekitar 50% orang dewasa mengetahui penyebab gejala alergi setelah 5 tahun, bahkan terdapat 22% baru mengetahui setelah lebih 15 tahun mengalami gangguan alergi tersebut. Sebanyak 80% penderita alergi mengalami gejala seumur hidupnya.

Di Amerika penderita alergi makanan sekitar 2 – 2,5% pada dewasa, pada anak sekitar 6 – 8%. Setiap tahunnya diperkirakan 100 hingga 175 orang meninggal karena  alergi makanan. Penyebab kematian tersebut biasanya karena syok anafilaksis  (reaksi alergi berat), tersering karena kacang tanah. Lebih 160 makanan dikaitkan dengan alergi makanan. Para ahli berpendapat  penderita alergi di Negara berkembang mungkin lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat. Penderita astma pada tahun 1994 di Amerika serikat sekitar 14,6 juta orang, meningkat sekitar 17 juta pada tahun 1998. Astma pada anak di bawah usia 18 tahun tahun 1994 dilaporkan sekitar 4,8 juta anak. Penderita urticaria (biduran) dialami oleh sekitar 15% masyarakat Amerika setiap tahunnya. Penderita sinusitis kronik lebih banyak lagi yaitu sekitar lebih 50 juta orang. Penderita alergi kulit (dermatitis alergi) adalah paling dijumpai diantara penderita sakit kulit pada anak di bawah 11 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prof Wüthrich dari Universitas Canton Zurich tahun 2001  melaporkan bahwa kenaikan angka kejadian alergi pada anak di Eropa pada abad 20 ini meningkat secara dramatis, mulai dari 1% hingga mencapai 50% dalam beberapa tahun terakhir.  Khususnya terutama dalam sepuluh tahun terahkir meningkat sangat pesat, suatu kenaikkan yang sangat fantastik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Grafik prosentase angka kejadian alergi pada anak setiap sepuluh  tahun di Inggris sejak 1920 hingga tahun 2000.

 

Pada umumnya laporan kasus astma, hay fever dan dermatitis atopik tampaknya negara barat lebih besar dibandingkan di negara berkembang. Large Scale International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) pada tahun 1990 melakukan penelitian untuk memdapatkan prevalensi penderita alergi di seluruh dunia. Telah dilakukan penelitian terhadap 463.801 anak dari beberapa pusat kesehatan di 56 negara.

Di Indonesia angka kejadian alergi pada anak belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli memperkirakan sekitar 25-50% anak pernah mengalami alergi makanan. Di negara berkembang angka kejadian alergi yang dilaporkan masih rendah. Hal ini berkaitan dengan masih tingginya kesalahan diagnosis atau under diagnosis dan kurangnya perhatian terhadap alergi dibandingkan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atau diare yang dianggap lebih mematikan. Akibatnya terjadi kecenderungan gejala alergi pada anak diobati sebagai penyakit infeksi.

                               

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: