Posted by: Indonesian Children | August 12, 2010

Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ?

Benarkah Gangguan Sulit Tidur Anak,

Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ?

  
Latar Belakang
  • Banyak orang tua mengeluh bahwa anaknya seringkali sulit tidur malam atau gangguan tidur yang lain. Hal itu biasa terjadi sejak bayi hingga usia di atas 5 tahun. Hal itu sering dikeluhkan kepafda dokter tetapi saat ini jarang sekali bisa dijelaskan dengan baik mengapa hal itu terjadi. Penyebab gangguan tidur sangat banyak dan bervariasi. Ternyata sebagian besar penyebab gangguan tidur pada anak disebabkan karena pengaruh alergi dan hipersensitifitas makanan. Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu gangguan anak yang selama ini menjadi membaik.
  • Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type
  • Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun terutama usia 2 tahun
  • Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.
  • Penelitian yang telah dilakukan dr Widodo Judarwanto SpA tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

Amati Tanda Dan Gejala Gangguan tidur pada anak anda 

  • Pada bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum.
  • Sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam
  • Tidur bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidur
  • Berbicara,tertawa,berteriak atau berjalan saat tidur
  • Mendadak terbangun duduk saat tidur kemdian tidur lagi
  • Mimpi buruk
  • “beradu gigi”  atau gigi gemeretak atau bruxism

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang disebabkan karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

 

  • Pada anak yang lebih besar :

[POSISI+TIDUR+COLIC.jpg]

  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA ANAK
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
 
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. 
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI

  • KESULITAN MAKAN DAN  BERAT BADAN SULIT NAIK terutama setelah usia 4 – 6 bulan
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : MUDAH SAKIT PANAS, BATUK, PILEK  (INFEKSI BERULANG) ; 1-2 kali setiap bulan). SEBAIKNYA TIDAK  TERLALU  MUDAH  MINUM ANTIBIOTIKA. PENYEBAB TERSERING INFEKSI BERULANG ADALAH VIRUS YANG SEBENARNYA TIDAK PERLU ANTIBIOTIKA.
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
 
Bila tanda dan gejala gangguan tidur tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin gangguan tidur pada anak disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.
Penyebab lain yang paling sering selain alergi dan hipersensitifitas makanan adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek, diare atau muntah dan infeksi lainnya 
 
Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis insomnia alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.  
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

 PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.    
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.  
  • Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.  

PENANGANAN 

  • Pengobatan gangguan tidur karena alergi makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila insomnia yang dialami disebabkan karena gangguan alergi makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.    
  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

DAFTAR PUSTAKA        

1. Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
2. Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
3. Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
4. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
5. Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3. Review. Japanese.
6. A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 84 No. 4 October 1989, pp. 595-603
7. A. Kahn , M. J. Mozin, G. Casimir, L. Montauk , D. Blum. Insomnia and Cow’s Milk Allergy in Infants. Pediatrics Vol. 76 No. 6 December 1985, pp. 880-884
8. A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Evaluating Persistent Sleeplessness in Children Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 85 No. 4 April 1990, pp. 629-630
9. Pajno GB, Barberio F, Vita D, Caminiti L, Capristo C, Adelardi S, Zirilli G Diagnosis of cow’s milk allergy avoided melatonin intake in infant with insomnia.Sleep. 2004 Nov 1;27(7):1420-1.
10. Morriss R.Insomnia in the chronic fatigue syndrome.BMJ. 1993 Jul 24;307(6898):264.
11. Lichstein KL Secondary insomnia: a myth dismissed.Sleep Med Rev. 2006 Feb;10(1):3-5.
12. Barr RG, Konner M, Bakeman R, Adamson L. Crying in !Kung San infants: a test of the cultural specificity hypothesis. Dev Med Child Neurol. 1991;33 :601 –610
13. Barr RG, Chen S, Hopkins B, Westra T. Crying patterns in preterm infants. Dev Med Child Neurol. 1996;38 :345 –355
14. James-Roberts I, Halil T. Infant crying patterns in the first year: normal community and clinical findings. J Child Psychol Psychiatry. 1991;32 :951 –968
15. Wessel M, Cobb JC, Jackson EB, Harris GS, Detwiler AC. Paroxysmal fussing in infancy, sometimes called “colic.” Pediatrics. 1954;14 :421 –434
16. Lehtonen L, Gormally S, Barr RG. Clinical pies for etiology and outcome in infants presenting with early increased crying. In: Barr RG, Hopkins B, Green JA, eds. Crying as a Sign, a Symptom, and a Signal. London, United Kingdom: Mac Keith Press; 2000:169–178
17. Coons S, Guilleminault C. Development of sleep-wake patterns and non-rapid eye movement sleep stages during the first six months of life in normal infants. Pediatrics. 1982;69 :793 –798
18. Giganti F, Fagioli I, Ficca G, Salzarulo P. Polygraphic investigation of 24-h waking distribution in infants. Physiol Behav. 2001;73 :621 –624
19. Coons S, Guilleminault C. Development of consolidated sleep and wakeful periods in relation to the day/night cycle in infancy. Dev Med Child Neurol. 1984;26 :169 –176
20. Hoppenbrouwers T, Hodgman JE, Harper RM, Sterman MB. Temporal distribution of sleep states, somatic activity, and autonomic activity during the first half year of life. Sleep. 1982;5 :131 –144
21. Weissbluth M, Davis AT, Poncher J. Night waking in 4- to 8-month-old infants. J Pediatr. 1984;104 :477 –480
22. Stahlberg MR. Infantile colic: occurrence and risk factors. Eur J Pediatr. 1984;143 :108 –111
23. Rautava P, Lehtonen L, Helenius H, Sillanpaa M. Infantile colic: child and family three years later. Pediatrics. 1995;96(suppl) :43 –47
24. Lehtonen L, Korhonen T, Korvenranta H. Temperament and sleeping patterns in colicky infants during the first year of life. J Dev Behav Pediatr. 1994;15 :416 –420
25. Canivet C, Jakobsson I, Hagander B. Infantile colic. Follow-up at four years of age: still more “emotional.” Acta Paediatr. 2000;89 :13 –17
26. James-Roberts IS, Conroy S, Hurry J. Links between infant crying and sleep-waking at six weeks of age. Early Hum Dev. 1997;48 :143 –152
27. White BP, Gunnar MR, Larson MC, Donzella B, Barr RG. Behavioral and physiological responsivity, sleep, and patterns of daily cortisol production in infants with and without colic. Child Dev. 2000;71 :862 –877
28. Papousek M, vonHofacker N. Persistent crying and parenting: search for a butterfly in a dynamic system. Early Dev Parent. 1995;4 :209 –224
29. Kirjavainen J, Kirjavainen T, Huhtala V, Lehtonen L, Korvenranta H, Kero P. Infants with colic have a normal sleep structure at 2 and 7 months of age. J Pediatr. 2001;138 :218 –223
30. Wolff PH. The Development of Behavioral States and the Expression of Emotions in Early Infancy: New Proposals for Investigation. Chicago, IL: University of Chicago Press; 1987
31. Kahn A, Francois G, Sottiaux M, et al. Sleep characteristics in milk-intolerant infants. Sleep. 1988;11 :291 –297
32. Shapiro CM, Devins GM, Hussain MR. ABC of sleep disorders. Sleep problems in patients with medical illness. BMJ. 1993;306 :1532 –1535
33. Harrington C, Kirjavainen T, Teng A, Sullivan CE. Cardiovascular responses to three simple, provocative tests of autonomic activity in sleeping infants. J Appl Physiol. 2001;91 :561 –568
34. McNamara F, Sullivan CE. Sleep-disordered breathing and its effects on sleep in infants. Sleep. 1996;19 :4 –12
35. Barr RG, Kramer MS, Boisjoly C, McVey-White L, Pless IB. Parental diary of infant cry and fuss behaviour. Arch Dis Child. 1988;63 :380 –387
36. Guilleminault C, Souquet M. Scoring criteria. In: Guilleminault C, ed. Sleeping and Waking Problems: Indications and Techniques. Menlo Park, CA: Addison-Wesley Publishing Co; 1982:415–426
37. Lester BM, Boukydis Z, Garcia-Coll CT, Hole WT. Colic for developmentalists. Inf Ment Health J. 1990;11 :321 –333
38. Zeskind PS, Barr RG. Acoustic characteristics of naturally occurring cries of infants with “colic.” Child Dev. 1997;68 :394 –403
39. Anders TF, Halpern LF, Hua J. Sleeping through the night: a developmental perspective. Pediatrics. 1992;90 :554 –560
40. Hoppenbrouwers T. Polysomnography in newborns and young infants: sleep architecture. J Clin Neurophysiol. 1992;9 :32 –47
41. Emde RN, Metcalf DR. An electroencephalographic study of behavioral rapid eye movement states in the human newborn. J Nerv Ment Dis. 1970;150 :376 –386
42. Bamford FN, Bannister RP, Benjamin CM, Hillier VF, Ward BS, Moore WM. Sleep in the first year of life. Dev Med Child Neurol. 1990;32 :718 –724

 
 
 
Provided by
dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician
Children’s Allergy Center Online

Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/  

   Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.  

  

  

  

Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved.


Responses

  1. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  2. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  3. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  4. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  5. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  6. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  7. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  8. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  9. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  10. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  11. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  12. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]

  13. […] Gangguan Tidur Pada Anak Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan ? […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: