Posted by: Indonesian Children | October 17, 2010

Keratokonus Disebabkan Karena Alergi ?

Keratokonus Disebabkan Karena Alergi ?

Abstract

Many study was to determine if atopy is a risk factor for keratoconus. Other potential risk factors were also studied and included age, sex, race, eye rubbing, mitral valve prolapse, handedness, collagen vascular disease, ocular trauma, pigmentary retinopathy, Marfan’s syndrome, Down’s syndrome, and a history of contact lens wear. Atopy was less common in patients with unilateral keratoconus, and keratoconus occurred more frequently on the side of the dominant hand. There was a significantly lower frequency of HLA B7 in the keratoconus group than in the controls. No abnormalities of essential fatty acid metabolism were found in keratoconus patients with or without atopy.  Atopy may contribute to keratoconus but most probably via eye rubbing associated with the itch of atopy. No other variable measured was significantly associated with the aetiology of keratoconus.

Keratokonus

Keratokonus adalah perubahan bentuk (penipisan) kornea yang terjadi secara bertahap, sehingga bentuknya menyerupai kerucut.  Keratokonus mulai terjadi pada usia 10-20 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti kelainan ini belum diketahui.  Tetapi beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa keratokonus sering berkaitan dengan alergi.

Keratokonus lebih sering ditemukan pada pemakai lensa kontak dan penderita rabun dekat.  Penelitian menunjukkan bahwa keratokonus kemungkinan terjadi karena beberapa hal berikut: Kelainan kornea bawaan. Cedera mata (misalnya menggisik-gisik mata atau memakai lensa kontak yang keras selama bertahun-tahun) Penyakit mata tertentu (misalnya retinitis pigmentosa, retinopati, konjungtivitis vernal). Penyakit sistemik (misalnya amorosis kongenitalis Leber, sindroma Ehlers-Danlos, sindroma Down dan osteogenesis imperfekta).

Keratokonus terjadi jika bagian tengah kornea menipis dan secara bertahap menonjol ke arah luar sehingga bentuknya menyerupai kerucut. Kelainan kelengkungan ini menyebabkan perubahan pada kekuatan pembiasan kornea. Sebagai akibatnya terjadi astigmata sedang sampai berat dan rabun dekat.  Keratokonus juga bisa menyebabkan pembengkakan dan pembentukan jaringan parut yang menghalangi penglihatan.  Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan kornea dengan slit lamp  Untuk mengetahui kelengkungan kornea bisa dilakukan topografi kornea. Pada keratokonus stadium lanjut, penipisan kornea bisa diukur dengan pakimetri.

Keratokonus dan Alergi

Enam puluh tujuh pasien dengan keratoconus dikelompokkan berdasarkan status atopik. Keratoconus pasien dengan dan tanpa atopi tidak berbeda secara signifikan berkaitan dengan jenis kelamin, umur onset, atau tingkat keratoplasty, tetapi pasien dengan tingkat IgE yang sangat tinggi lebih rentan terhadap penolakan jaringan. Pengaruh atopy tidak biasa pada pasien dengan keratoconus unilateral, dan keratoconus terjadi lebih sering pada sisi tangan yang dominan. Terdapat kecenderungan  HLA B7 secara signifikan lebih rendah pada kelompok keratoconus daripada di kontrol. Tidak ada kelainan metabolisme asam lemak esensial ditemukan pada pasien keratoconus dengan atau tanpa atopi. Tidak ada bias kelas sosial dalam kelompok. Studi ini termasuk sibling dengan keratoconus dan atopi, dan pasien non-atopik yang kembar identik tidak memiliki keratoconus.

Penanganan
Keratokonus biasanya menyerang kedua mata. Pada awalnya, penderita bisa memperbaiki penglihatannya dengan menggunakan kaca mata. Tetapi sejalan dengan memburuknya astigmata, penderita harus menggunakan lensa kontak untuk mengurangi astigmata dan agar penglihatannya lebih baik.  Pada kebanyakan kasus, kornea akan kembali stabil beberapa tahun kemudian tanpa pernah menyebabkan gangguan penglihatan yang berat.  Tetapi pada sekitar 10-20% penderita, pada akhirnya kornea membentuk jaringan parut atau tidak dapat mentolerir lensa kontak.  Jika hal ini terjadi, maka perlu dilakukan pencangkokan kornea.

Daftar pustaka

  • Kornerup T, Lodin A. Ocular changes in 100 cases of Besnier’s prurigo (atopic dermatitis). Acta Ophthalmol (Kbh) 1959; 37:508-21.
  • Davies PD, Lobascher D, Menon JA, Rahi AHS, Ruben M. Immunological studies in keratoconus. Trans Ophthalmol Soc UK 1976;9:173-8.
  • Marechal-Courtois C. Topographic study of the cornea at different stages of  the development of keratoconus. Bull Soc Belge Ophtalmol 1967;147: 495-505.
  •  Troutman RC, Meltzer M. Astigmatism and myopia inkeratoconus. Trans Am Ophthalmol Soc 1972; 70: 265-77.
  • Woodward EG. Keratoconus-the disease and its progression. Doctoral thesis. London: City University, 1980: 11.
  • Copeman, P. W. M. (1965). Eczema and Keratoconus. British Medical Journal, 2, 977-979.
  • Brunsting LA, Reed WB, Blair HL(1955) Occurrence of cataract and keratoconus with atopic dermatitis. Arch Dermatol 72:237–241.[Abstract/FREE Full text]
  • Galin MA, Berger R(1958) Atopy and keratoconus. Am J Ophthalmol 45:904–906.[Medline]
  • Spencer WH, Fisher JJ. (1959) The association of keratoconus with atopic dermatitis. Am J Ophthalmol 47:332–334.[Medline]
  • Roth HL, Kierland RR. (1964) The natural history of atopic dermatitis. Arch Dermatol 89:209–214.[Medline]
  • Lowell FC, Carroll JM. (1970) A study of the occurrence of atopic traits in patients with keratoconus. J Allergy Clin Immunol 46:32–39.
  • Copeman PWM (1965) Eczema and keratoconus. BMJ 2:977–979.
  • Davies PD, Lobascher D, Menon JA, et al.(1976) Immunological studies in keratoconus. Trans Ophthalmol Soc UK 96:173–178.[Medline][Web of Science]
  • Rah A, Davies P, Ruben M, et al.(1977) Keratoconus and coexisting atopic disease. Br J Ophthalmol 61:761–764.[Abstract/FREE Full text]
  • Gasset AR, Hinson WA, Frias JL(1978) Keratoconus and atopic disease. Ann Ophthalmol 10:991–994.[Medline][Web of Science]
  • Harrison RJ, Klouda PT, Easty DL, et al.(1089) Association between keratoconus and atopy. Br J Ophthalmol 73:816–822.[Abstract/FREE Full text]
  • Rabinowitz YS, Nesburn AB, McDonnell PJ(1993) Videokeratography of the fellow eye in unilateral keratoconus. Ophthalmology 100:181–186.[Medline][Web of Science]
  • Williams HC, Burney PGJ, Pembroke AC, et al. (1994) The UK working party’s diagnostic criteria for atopic dermatitis. III. Independent hospital validation. Br J Dermatol 131:406–416.[CrossRef][Medline][Web of Science]
  • Karseras AG, Ruben M(1976) Aetiology of keratoconus. Br J Ophthalmol 60:522–524.[Abstract/FREE Full text]
  • Coyle JT (1984) Keratoconus and eye rubbing. Am J Ophthalmol 97:527–528.[CrossRef][Medline][Web of Science]
  •  A Rahi, P Davies, M Ruben, D Lobascher. Keratoconus and coexisting atopic disease. J MenonBr J Ophthalmol 1977;61:761-764 doi:10.1136/bjo.61.12.761
  • Davies, P. D., Lobascher, D., Menon, J. A., Rahi, A. H. S.,and Ruben, M. (1976). Immunological studies in keratotoconus. Transactions of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom, 96, 173-178.
  • Easty, D., Entwistle, C., Funk, A., and Witcher, J. (1975). Herpes simplex keratitis and keratoconus in atopic patient: A clinical and immunological study. Transactions of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom,95,267-276.
  •  Galin, M. A., and Berger, R. (1958). Atopy and keratoconus. American Journal of Ophthalmology, 45, 904-906. Goodfriend, L., Lapkoff, C. B., and Marsh, D. D. (1973). Ragweed pollen allergen Ra5: Isolation, chemical properties and genetic basis for its cutaneous activity in man (Abst.) Journal of Allergy and Clinical Immunology,51,81-82.
  • Hamburger, R. N., and Bazaral, M. (1972). IgE levels  in twins confirm genetic control in human beings (Abst.) Journal of Allergy and Clinical Immunology, 49, 91.
  •  Iaufman,H. S., and Hobbs, J. R. (1970). Immunological defects in an atopic population. Lancet, 2, 1061-1063.
  • Longmore, L. (1970). Atopic dermatitis, cataract and keratoconus. Australian Journal of Dermatology, 11, 139-141.
  •  Lowell, F. C., and Carroll, J. M. (1970). A study  of the occurrence of atopic traits in patients  with keratoconus. Journal of Allergy, 46,  32-39.
  • Manfridi, M. L. R., and Romel, L. (1966). The electrophoreticprotein picture of keratoconus. Minerva  oftalmologica, 220-221.
  • Porteous, J. R., Fisher, J. M., Lewin, K. J., and Taylor, K. B. (1974). Induction of autoallergic gastritis in dogs.  Journal ofPathology, 112, 139-146.
  • Pouliquen, Y., Graf, B., Frouin, M. A., Faure, J. P.,Robert,L.,and Junqua, S. (1972). An attempt at  interpretation of the histological and ultrastructural lesions of thecornea in keratoconus (in French) Berichte der deutschen ophthalmologischen Gesellschaft, 71, 52-57.
  • Rahi, A. H. S., Holborow, E. J., Perkins, E. S., Gungen,Y.Y., and Dinning,  W. J. (1976). Immunological investigations in uveitis. Transaction of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom,  96, 113-122.
  • Ridley, F. (1956). Contact lenses in treatment  of keratoconus. British Journal of Ophthalmology,  40, 295-304.
  • Spencer, W. H., and Fisher, J. J. (1959). The association of keratoconus with atopic dermatitis. American Journal  of Ophthalmology, 47, 332-334.
  • Taylor, B., Norman, A. P., Orgel, H. A., Stokes, C. R., Turner, M. W., and Soothill, J. F. (1973). Transient IgA deficiency and pathogenesis of infantile atopy. Lancet, 2, 111-113.
  • Turner, M. W., Brostoff, J., Wells, R. S., Stokes, C. R., and Soothill, J. F. (1977). HLA in Eczema and Hay Fever.Clinical and ExperimentalImmunology, 27, 43-47. 

 

Supported by

  • Clinic For Children Yudhasmara Foundation http://childrenclinic.wordpress.com/CHILDREN ALLERGY CLINIC https://childrenallergyclinic.wordpress.com/ 
    PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN) http://mypickyeaters.wordpress.com/ 
    JL Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat Phone :62 (021) 70081995 – 5703646   

    Clinical and Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto SpA, pediatrician

    email : judarwanto@gmail.com,

     

     

     

     

     

                                                                                                                

    Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider. 

    Copyright © 2010, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved


  • Responses

    1. […] Keratokonus Disebabkan Karena Alergi ? […]

    2. Good info ! thanks !

      Lucy

    3. […] Keratokonus Disebabkan Karena Alergi ? […]


    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Categories

    %d bloggers like this: