Posted by: Indonesian Children | October 17, 2010

Sebagian Besar Pemakai Kacamata Pada Anak Mempunyai Riwayat Alergi

Pemakaian Kacamata dan Riwayat Alergi

Sebagian Besar Pemakai Kacamata Pada Anak Mempunyai Riwayat Alergi

Abstract

Many study was to determine if atopy is a risk factor for keratoconus, myopia and astigmatismus.  The association of keratoconus, myopia or astigmatismus and atopic disease has been reported on several occasions but the only controlled clinical study that has so far been published found no evidence to support this view. Atopy may contribute to keratoconus, myopia and astigmatismus, but most probably via eye rubbing associated with the itch of atopy. No other variable measured was significantly associated with the aetiology of keratoconus. Since it is now known that atopy is often associated with changes in various immunoglobulins, particularly IgE, it was considered desirable to determine the immunological profiles of a large series of keratoconus cases in order to seek evidence for coexistence of the two conditions in one individual

Dalam waktu terakhir ini angka kejadian anak-anak memakai kaca mata sejak dini tampaknya meningkat. Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab pemakaian kacamata sejak dini. Dalam penelitian Judarwanto W didapatkan bahwa penderita myopia (kaca mata minus) atau astigmatismus (kaca mata silinder) sebagian besar mengalami riwayat alergi. 

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penderita rabun jauh atau mipoia ternyata memang berkaitan dengan alergi. Hanya saja masih belum dapat dipastikan mekanisme terjadinya kejadian tersebut. Untuk memastikan sebab akibat atau hubungan antara alergi dan pemakaian kacamata perlu dilakukan penelitian lebih jauh. Bila hal ini terbukti maka biasa saja nantinya dalam upaya pencegahan alergi akan merupakan pencegahan pemakaian kacamata sejak dini pula.

Dari pengamatan awal pada 125 anak pengguna kaca mata minus atau penderita kelainan refraksi miopia dan kelainan astimagtismus (kcamata silinder) ternyata sebagian besar atau hampir 85% ternyata mengalami riwayat alergi. Tanda dan gejala alergi yang dialami adalah dermatitis, rinitis dan asthma. Kelompok anak yang diteliti adalah anak usia 6 tahun hingga 12 tahun. Hampir sepertiganya atau sekitar 20% dari kelompok tersebut ternyata diadviskan oleh dokter memakai kacamata sejak usia 6-8 tahun.

Miopia atau astimagtismus umumnya merupakan kelainan yang diturunkan oleh orangtua atau bersifat genetik sehingga banyak dijumpai pada anak-anak usia dini sekolah. Dalam penelitian tersebut di atas ternyata sebagian besar hampir 94% salah satu orangtuanya adalah penderita kelainan refraksi pula. yang menarik orang tua yang mempunyai kelainan yang sama dengan orang tua biasanya sebagian besar hampir 96% berwajah sama dengan anaknya. Dan lebih menarik lagi orangtua dengan karakteristik sama tersebut juga sebagian besar mempunyai riwayat alergi sebelumnya.

Pemakaian Kaca Mata (Kelainan Refraksi)

Penderita yang memakai kacamata  dalam istilah kedokteran sering disebut orang yang mengalami kelainan refraksi mata. Kelainan Refraksi adalah keadaan dimana mata tidak mampu membiaskan atau memfokuskan cahaya ke retina sehingga bayangan benda yang dilihat menjadi kabur. Keadaan seperti ini disebabkan oleh kelengkungan kornea atau daya bias kornea yang abnormal, daya bias lensa dan badan kaca (korpus vitreus) yang abnormal atau sumbu bola mata yang abnormal (axial).

Jenis kelainan refraksi meliputi banyak istilah yang dipakai, berdasarkan gangguan penglihatan yang dialami rabun jauh dan rabun dekat. Ada pula yang menyebutkan berdasar lensa koreksi yang dipakai yaitu mata minus untuk myopia atau rabun jauh karena dapat dikoreksi dengan pemberian lensa kacamata minus. Sedangkan lensa kaca mata plus untuk hipermetropia atau rabun dekat karena dapat dikoreksi dengan kacamata plus dan silinder untuk astimagtismus karena dapat dikoreksi dengan kacamata silinder.

Rabun jauh (miopia/kaca mata minus)

Myopia (Rabun Jauh), keluhan yang sering timbul adalah keadaan kabur bila melihat obyek jauh. Kata myopia berasal dari kata yunani yang  berarti “memidingkan mata” karena penderiata kelainainan ini selalu memicingkan matanya untuk bisa melihat dengan jelas. Myopia paling banyak dijumpai pada anak-anak dan umumnya ada faktor keturunan dari orang tua. Lazimnya myopia terjadi karena memanjangnya sumbu bola mata, pemanjangan sumbu ini menyebabkan bekas cahaya yang dibiaskan tidak mencapai retina sehingga terfokus di depan retina. Sejalan dengan memanjangnya sumbu bola mata, derajat myopiapun akan bertambah. Pada usia anak-anak proses ini merupakan bagian dari pertumbuhan, sehingga ukuran kaca matapun terus bertanbah. Karenan itu pada anak-anak dianjurkan untuk pemeriksaan ulang setiap 6 bulan sekali. Pada golongan usia 20 – 30 tahun pertambahanya mulia lambat. Walaupun agak jarang myopia dapat pula disebabkan perubahan daya bias lensa mata atau kornea.

Astimagtismus (kaca mata silinder)

Astimagtismus (silinder), pada keadaan ini berkas cahaya dibiaskan tidak pada satu titik fokus, melainkan pada beberapa titik fokus sehingga bayangan terbentuk menjadai kabur (tidak fokus). Untuk mengatasi hal ini sipakai lensa silinder. Dalam hal ini Atimagtismua dabagi dua yaitu pertama Astimagtismus Irregular (tidak teratur) dimana banyak titik fokus dan tidak terletak pada sumbu penglihatan, keadaan ini disebabkan karena permukaan retina tidak rata atau akibat kekeruhan yan tidak merata pada lensa. Kedua Astimagtismus Regular, dimana banyak titik fokus tetapi masih terletak pada sumbu penglihatan. Pada jenis ini terdapat 2 bidang utama dengan daya bias terkuat dan terlemah.

Berdasarkan letak titik fokus terhadap retina dibedakan pula astigmatismus myopi dan astigmatismua hipermetropi. Ini penting untuk menentukan jenis lensa silinder yang dipakai, apakah silinder minus ataukah silinder plus. Karakteristik penderita astigmatism selain kabur adalah pusing bila berada di kerumunan orang banyak, atau melihat garis-garis yang rapat. Hal ini karena sumbu garis-garis tersebut tidak sesuai dengan sumbuh astigmatismnya sehingga mata berusaha untuk memfokuskan.

Gangguan Mata yang sering terjadi pada penderita alergi :

  • Pada bayi mata sering timbul kotoran atau belekan pada salah satu bagian sisi mata. Hal ini terjadi karena gangguan obstruksi duktus lakrimalis. Gagguan ini sering disertai bayi sering bersin dan tidur sering miring ke salah satu sisi karena hidung buntu. Mata dan hidung dihubungkan dengan saluran, biasanya kalau hidung terganggu mata juga terpengaruh. Selama ini gangguan seperti ini diberi obat tetas mata atau salep mata tidak akan pernah membaik. pada beberapa kasus dilakukan operasi berulang kali juga akan tetap hilang timbul. tetapi saat dilakukan penanganan alergi gangguan tersebut membaik tanpa obat.
  • Kelopak mata bagian bawah berwarna gelap atau kehitaman.
  • Mata gatal sering digaruk atau “kucek-kucek mata”. Selama ini gangguan gatal mata ini sering dianggap karena ngantuk. Pada keadaan seperti ini mata bagian bawah tampak berwarna kehitaman. Kadang mata juga berwarna merah timbul biasanya satu sisi atau ke dua sisi.
  •  Hordeolum atau bintitan. Timbul bintil di kelopak mata. Berbagai kasus tersebut selama ini masih kontroversi. Selama ini teori yang dianut penyebabnya adalah karena tangan kotor yang mengusap mata sehingga timbul infeksi. Dalam penelitian biasanya tidak didapatkan kelainan atau tanda infeksi saat dilakukan kultur pada jaringannya. Penulis selama ini tidak pernah memberikan antiobitotyika pada kasus ini tetapi membaik dengan sendirinya saat dilakukan penatalaksanaan alergi. Sebaliknya banyak kasus setelah diberi antibiotika jangka keluhan tersebut tetap timbul juga.
  • Keratokonus. Keratokonus adalah perubahan bentuk (penipisan) kornea yang terjadi secara bertahap, sehingga bentuknya menyerupai kerucut. Keratokonus mulai terjadi pada usia 10-20 tahun. Keratokonus terjadi jika bagian tengah kornea menipis dan secara bertahap menonjol ke arah luar sehingga bentuknya menyerupai kerucut.  Kelainan kelengkungan ini menyebabkan perubahan pada kekuatan pembiasan kornea. Sebagai akibatnya terjadi astigmata sedang sampai berat dan rabun dekat.  Keratokonus juga bisa menyebabkan pembengkakan dan pembentukan jaringan parut yang menghalangi penglihatan.
  • Konyungtivitis alergik. Penyakit alergi pada mata yang paling sering didapat adalah konyungtivitis alergik  (hay fever), konyungtivitis vernalis, keratokonyungtivitis atopik, dan konyungtivitis giant papilar. Keadaan penyakit dapat mulai dari konyungtivitis ringan sampai yang berat seperti keratokonyungtivitis atopik yang dapat menyebabkan kebutaan. Konyungtiva adalah mukosa permukaan bola mata, setara dengan epitel usus dan bronkus, yang berhubungan dengan sel dan berfungsi sebagai pertahanan terhadap antigen dan mikroorganisme dari luar. Konyungtiva dan jaringan limfoid di daerah tersebut akan memproses antigen sehingga timbul sel T dan sel B yang sudah tersentisasi, yang telah siap dengan respons imunnya bila timbul rangsangan dari luar. Mata merah alergi yang musiman dan mata merah alergi yang berkelanjutan adalah jenis yang paling sering dari reaksi alergi pada mata. Mata merah alergi yang musiman sering disebabkan oleh serbuk sari pohon atau rumput, oleh karenanya jenis ini timbul khususnya pada musim semi atau awala musim panas. Serbuk sari gulma bertanggung jawab pada gejala alergi mata merah pada musim panas dan awal musim gugur. Alergi mata merah yang berkelanjutan terjadi sepanjang tahun; paling sering disebabkan oleh tungau debu, bulu hewan, dan bulu unggas.  Mata merah Vernal adalah bentuk alergi mata merah yang lebih serius dimana penyebabnya tidak diketahui. Kondisi paling sering terjadi pada anak laki-laki, khususnya yang berumur kurang dari 10 tahun yang memiliki eksema, asma, atau alergi musiman. Mata merah Vernal biasanya kambuh setiap musim semi dan hilang pada musim gugur dan musim dingin. Banyak anak tidak mengalaminya lagi pada umur dewasa muda.
  • Gangguan sensoris biasanya anak mengalami mata yang mudah silau dan tidak suka cahaya yang terang seperti sinar matahari atau lampu yang sangat terang. Gangguan sensoris mata ini sering disertai gangguan sensoris pada raba dan ensitif terhadap suara (frekuensi tinggi), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • Gangguan TICK atau mata sering berkedip. Selama ini gangguan ini sering dianggap mata lelah karena seiing melihat televisi atau main game. Sampai saat ini penyebab gangguan Tick ini belum diketahui

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah. 
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam atau tidur ngorok.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
 
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. 
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. Gangguanmengunyah menelan
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • Memperberat gejala AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  atau mengalami Infeksi Telinga
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
  • Sering megalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi). Hanya mau makanan yang crispy atau renyah seperti : krupuk, biskuit dan sebagainya.  Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
 
  
Daftar Pustaka :
  • Mimura T, Yamagami S, Usui T, Funatsu H, Noma H, Honda N, Amano S. Relationship between myopia and allergen-specific serum IgE levels in patients with allergic conjunctivitis. Clin Experiment Ophthalmol. 2009 Sep;37(7):670-7.
  • T Mimura, Y Mimura, A Arimoto, S Amano, S Yamagami, H Funatsu, T Usui, H Noma, N Honda and S Okamoto. Relationship between refraction and allergic conjunctivitisRefraction and allergic conjunctivitis. Eye 23, 63-66 (January 2009) | doi:10.1038/sj.eye.6702999
  • M G Kerr Muir,  E G Woodward,  T J Leonard. Corneal thickness, astigmatism, and atopy. Br J Ophthalmol 1987;71:207-211 doi:10.1136/bjo.71.3.207
  • Peter A. Gardiner, Griffith James.ASSOCIATION BETWEEN MATERNAL DISEASE DURING PREGNANCY AND MYOPIA IN THE CHILD    Br J Ophthalmol 1960;44:172-178 doi:10.1136/bjo.44.3.172
  • Reider N. Sublingual immunotherapy for allergic rhinoconjunctivitis–the seeming and the real. Int Arch Allergy Immunol. Jul 2005;137(3):181-6. [Medline].
  •  I Toda,  J Shimazaki,  K Tsubota. Allergic conjunctivitis and dry eye. H Fujishima,  Br J Ophthalmol 1996;80:994-997 doi:10.1136/bjo.80.11.994
  • Shuhei Imayama,  Shigeru Sugai,  Yoh-Ichi Kawano,  Tatsuro Ishibashi. Increased number of IgE positive Langerhans cells in the conjunctiva of patients with atopic dermatitis Ayako Yoshida.  Br J Ophthalmol 1997;81:402-406 doi:10.1136/bjo.81.5.402
  • Shearer WT, Fleisher TA. The Immune System. In: Middleton E, Reed CE, Ellis EF, eds. Allergy: Principles and Practice. St Louis: Mosby; 1998:1-13.
  • William G Hodge. Atopy and keratoconus: a multivariate analysis Ahmed M Bawazeer. B LorimerBr J Ophthalmol 2000;84:834-836 doi:10.1136/bjo.84.8.834
  • P T Klouda, D L Easty, M Manku, J Charles, C M Stewart. Association between keratoconus and atopy. R J Harrison,   Br J Ophthalmol 1989;73:816-822 doi:10.1136/bjo.73.10.816
  • Bonini S. Advances and gaps in ocular allergies. Arch Soc Esp Oftalmol. Apr 2005;80(4):205-7. [Medline].
  • Braude LS, Chandler JW. Atopic corneal disease. Int Ophthalmol Clin. 1984;24(2):145-56. [Medline].
  • Brauninger GE, Centifanto YM. Immunoglobulin E in human tears. Am J Ophthalmol. Sep 1971;72(3):558-61. [Medline].
  • Brunsting LA, Reed WB, Bair HL. Occurrence of cataracts and keratoconus with atopic dermatitis. Arch Dermatol. 1955;72:237.
  • Friedlaender MH. Allergy and Immunology of the Eye. New York: Harper & Row; 1979.
  • Friedlaender MH. Conjunctival provocation tests: a model of human ocular allergy. Trans Am Ophthalmol Soc. 1990;87:577.
  • Garrity JA, Liesegang TJ. Ocular complications of atopic dermatitis. Can J Ophthalmol. Feb 1984;19(1):21-4. [Medline].
  • Treumer H. Reversible irregular corneal astigmation in disseminated neurodermatitis  Klin Monbl Augenheilkd. 1978 Aug;173(2):253-6. German. PMID: 703151
  • CARTER JH. Residual astigmatism of the human eye. Optom Wkly. 1963 Jul 4;54:1271-2. No abstract available. PMID: 14018959 [PubMed – indexed for MEDLINE]
  • WILLIAMS OA. Latent astigmatism in practice. Am J Optom Arch Am Acad Optom. 1963 Mar;40:143-7. No abstract available.
  • HIRSCH MJ. Changes in astigmatism during the first eight years of school–an interim report from the Ojai longitudinal study.  Am J Optom Arch Am Acad Optom. 1963 Mar;40:127-32. No abstract available. PMID: 13961193 [PubMed – indexed for MEDLINE]
  • YUN WS. Astigmatism. Chosen Ibo. 1962 Oct;7:762-4. Korean. No abstract available. PMID: 14002914 [PubMed – indexed for MEDLINE]
  • Kornerup T, Lodin A. Ocular changes in 100 cases of Besnier’s prurigo (atopic dermatitis). Acta Ophthalmol (Kbh) 1959; 37:508-21.
  • Davies PD, Lobascher D, Menon JA, Rahi AHS, Ruben M. Immunological studies in keratoconus. Trans Ophthalmol Soc UK 1976;9:173-8.
  • Marechal-Courtois C. Topographic study of the cornea at different stages of  the development of keratoconus. Bull Soc Belge Ophtalmol 1967;147: 495-505.
  •  Troutman RC, Meltzer M. Astigmatism and myopia inkeratoconus. Trans Am Ophthalmol Soc 1972; 70: 265-77.
  • Woodward EG. Keratoconus-the disease and its progression. Doctoral thesis. London: City University, 1980: 11.
  • Copeman, P. W. M. (1965). Eczema and Keratoconus. British Medical Journal, 2, 977-979.

  • Brunsting LA, Reed WB, Blair HL(1955) Occurrence of cataract and keratoconus with atopic dermatitis. Arch Dermatol 72:237–241.[Abstract/FREE Full text]
  • Galin MA, Berger R(1958) Atopy and keratoconus. Am J Ophthalmol 45:904–906.[Medline]
  • Spencer WH, Fisher JJ. (1959) The association of keratoconus with atopic dermatitis. Am J Ophthalmol 47:332–334.[Medline]
  • Roth HL, Kierland RR. (1964) The natural history of atopic dermatitis. Arch Dermatol 89:209–214.[Medline]
  • Lowell FC, Carroll JM. (1970) A study of the occurrence of atopic traits in patients with keratoconus. J Allergy Clin Immunol 46:32–39.
  • Copeman PWM (1965) Eczema and keratoconus. BMJ 2:977–979.
  • Davies PD, Lobascher D, Menon JA, et al.(1976) Immunological studies in keratoconus. Trans Ophthalmol Soc UK 96:173–178.[Medline][Web of Science]
  • Rah A, Davies P, Ruben M, et al.(1977) Keratoconus and coexisting atopic disease. Br J Ophthalmol 61:761–764.[Abstract/FREE Full text]
  • Gasset AR, Hinson WA, Frias JL(1978) Keratoconus and atopic disease. Ann Ophthalmol 10:991–994.[Medline][Web of Science]
  • Harrison RJ, Klouda PT, Easty DL, et al.(1089) Association between keratoconus and atopy. Br J Ophthalmol 73:816–822.[Abstract/FREE Full text]
  • Rabinowitz YS, Nesburn AB, McDonnell PJ(1993) Videokeratography of the fellow eye in unilateral keratoconus. Ophthalmology 100:181–186.[Medline][Web of Science]
  • Williams HC, Burney PGJ, Pembroke AC, et al. (1994) The UK working party’s diagnostic criteria for atopic dermatitis. III. Independent hospital validation. Br J Dermatol 131:406–416.[CrossRef][Medline][Web of Science]
  • Karseras AG, Ruben M(1976) Aetiology of keratoconus. Br J Ophthalmol 60:522–524.[Abstract/FREE Full text]
  • Coyle JT (1984) Keratoconus and eye rubbing. Am J Ophthalmol 97:527–528.[CrossRef][Medline][Web of Science]
  •  A Rahi, P Davies, M Ruben, D Lobascher. Keratoconus and coexisting atopic disease. J MenonBr J Ophthalmol 1977;61:761-764 doi:10.1136/bjo.61.12.761
  • Davies, P. D., Lobascher, D., Menon, J. A., Rahi, A. H. S.,and Ruben, M. (1976). Immunological studies in keratotoconus. Transactions of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom, 96, 173-178.
  • Easty, D., Entwistle, C., Funk, A., and Witcher, J. (1975). Herpes simplex keratitis and keratoconus in atopic patient: A clinical and immunological study. Transactions of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom,95,267-276.
  •  Galin, M. A., and Berger, R. (1958). Atopy and keratoconus. American Journal of Ophthalmology, 45, 904-906. Goodfriend, L., Lapkoff, C. B., and Marsh, D. D. (1973). Ragweed pollen allergen Ra5: Isolation, chemical properties and genetic basis for its cutaneous activity in man (Abst.) Journal of Allergy and Clinical Immunology,51,81-82.
  • Hamburger, R. N., and Bazaral, M. (1972). IgE levels  in twins confirm genetic control in human beings (Abst.) Journal of Allergy and Clinical Immunology, 49, 91.
  •  Iaufman,H. S., and Hobbs, J. R. (1970). Immunological defects in an atopic population. Lancet, 2, 1061-1063.
  • Longmore, L. (1970). Atopic dermatitis, cataract and keratoconus. Australian Journal of Dermatology, 11, 139-141.
  •  Lowell, F. C., and Carroll, J. M. (1970). A study  of the occurrence of atopic traits in patients  with keratoconus. Journal of Allergy, 46,  32-39.
  • Manfridi, M. L. R., and Romel, L. (1966). The electrophoreticprotein picture of keratoconus. Minerva  oftalmologica, 220-221.
  • Porteous, J. R., Fisher, J. M., Lewin, K. J., and Taylor, K. B. (1974). Induction of autoallergic gastritis in dogs.  Journal ofPathology, 112, 139-146.
  • Pouliquen, Y., Graf, B., Frouin, M. A., Faure, J. P.,Robert,L.,and Junqua, S. (1972). An attempt at  interpretation of the histological and ultrastructural lesions of thecornea in keratoconus (in French) Berichte der deutschen ophthalmologischen Gesellschaft, 71, 52-57.
  • Rahi, A. H. S., Holborow, E. J., Perkins, E. S., Gungen,Y.Y., and Dinning,  W. J. (1976). Immunological investigations in uveitis. Transaction of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom,  96, 113-122.
  • Ridley, F. (1956). Contact lenses in treatment  of keratoconus. British Journal of Ophthalmology,  40, 295-304.
  • Spencer, W. H., and Fisher, J. J. (1959). The association of keratoconus with atopic dermatitis. American Journal  of Ophthalmology, 47, 332-334.
  • Taylor, B., Norman, A. P., Orgel, H. A., Stokes, C. R., Turner, M. W., and Soothill, J. F. (1973). Transient IgA deficiency and pathogenesis of infantile atopy. Lancet, 2, 111-113.
  • Turner, M. W., Brostoff, J., Wells, R. S., Stokes, C. R., and Soothill, J. F. (1977). HLA in Eczema and Hay Fever.Clinical and ExperimentalImmunology, 27, 43-47. Supported by

    Clinic For Children Yudhasmara Foundation http://childrenclinic.wordpress.com/

    CHILDREN ALLERGY CLINIC https://childrenallergyclinic.wordpress.com/ 
    PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN) http://mypickyeaters.wordpress.com/ 
    JL Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat Phone :62 (021) 70081995 – 5703646   

    Clinical and Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto SpA, pediatrician

    email : judarwanto@gmail.com,

     

     

     

     

     

                                                                                                                

    Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider. 

    Copyright © 2010, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved

  •  


Responses

  1. […] Sebagian Besar Pemakai Kacamata Pada Anak Mempunyai Riwayat Alergi […]

  2. […] Sebagian Besar Pemakai Kacamata Pada Anak Mempunyai Riwayat Alergi […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: