Posted by: Indonesian Children | January 10, 2009

BENARKAH SULIT TIDUR KARENA PENGARUH MAKANAN TERTENTU ?

 

INSOMNIA KARENA ALERGI MAKANAN 

 

  • Atifitas tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia khususnya usia anak. Ketika seseorang tidur terjadi restorasi tubuh dan fungsi homeostasis. Tenaga yang hilang karena aktivitas sehari-hari dipulihkan kembali, pelemasan otot dan pelepasan ketegangan. Keadaan tidur juga diyakini sebagai regulasi panas tubuh dan konservasi energi.
  • Lama tidur tergantung dari usia, semakin bertambah usia seseorang kebutuhan untuk tidurnya semakin berkurang. Pada bayi dan anak kecil sebagian besar waktu digunakan untuk tidur, sedang pada lanjut usia sebaliknya. Gelombang otak (EEG) seseorang pada waktu terjaga berbentuk gelombang alpha dengan volage rendah dalam berbagai frekuensi, sedang pada waktu tertidur gelombang alpha menghilang.
  • Ganggua tidur yang sering terjadi adalah insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Gangguan tidur tersebut menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam berbagai fungsi sosial, pertumbuhan dan perkembangan anak, maupun gangguan pada fungsi lainnya. Terdapat berbagai jenis insomnia tergantung beberapa kondisi dan penyakit yang melatarbelakangi gangguan tidur tersebut. Salah satu jenis gangguan tidur tersebut adalah “Food Allergy Insomnia” atau insomnia alergi makanan.

INSOMNIA 

  • Insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Insomnia adalah bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala suatu penyakit. Terminologi insomnia sering digunakan untuk beberapa bentuk dan tipe gangguan tidur.
  • Terdapat beberapa jenis insomnia diantaranya adalah Sleep Onset Insomnia (

Delayed Sleep Phase Syndrome), Idiopathic Insomnia, Psychophysiological Insomnia, Childhood Insomnia (Limit-Setting Sleep Disorder), Food Allergy Insomnia, Enviornmental Insomnia (Enviornmental Sleep Disorder), Transient Insomnia (Adjustment Sleep Disorder), Periodic Insomnia (Non 24-Hour Sleep-Wake Syndrome, Altitude Insomnia, Hypnotic-Dependency Insomnia (Hypnotic-Dependent Sleep Disorder), Stimulant-Dependent Sleep Disorder, Alcohol-Dependent Insomnia (Alcohol-Dependent Sleep Disorder) dan Toxin-Induced Sleep Disorder.

 

INSOMNIA ALERGI MAKANAN

 

  • Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type
  • Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun terutama usia 2 tahun
  • Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.
  • Penelitian yang telah dilakukan dr Widodo Judarwanto SpA tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

 

JENIS GANGGUAN TIDUR LAIN 

  •  Somnambulisme adalah suatu keadaan perubahan kesadaran, fenomena tidur-bangun terjadi pada saat bersamaan. Sewaktu tidur penderita kadang melakukan aktivitas motorik yang biasa dilakukan seperti berjalan, berpakaian atau pergi ke kamar mandi, berbicara, menjerit, bahkan mengendarai mobil. Akhir kegiatan tersebut kadang penderita terjaga, kemudian sejenak kebingungan dan tertidur kembali. Ia tidak ingat kejadian tersebut.
  •  Night terror biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur, dengan gejala tiba-tiba bangun dengan teriakan, kepanikan atau menangis disertai ketakutan dan kecemasan. Penderita kadang terjaga tetapi mengalami kebingungan dan disorientasi. Pada saat serangan sulit dibangunkan atau ditenangkan. Sedang nightmare adalah tidur dengan mimpi yang menakutkan. Akibat mimpinya yang menakutkan itu penderita akan terbangun dalam keadaan ketakutan. Mereka yang sering mengalami episode nightmare dalam hidupnya mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan skizofrenia, namun juga mereka ini adalah orang yang kreatif dan artistik.
  •  Mudah Tertidur (Hipersomnia) Gangguan akibat tidur yang berlebihan disebut hipersomnia. Yang termasuk kelompok ini antara lain sleep apnea, narkolepsi, nocturnal myoclonus, OSA, dan sebagainya. Jika seseorang tidak dapat tidur dalam, tahap REM pun tidak akan terjadi, ketika bangun merasa lelah. Gejala utamanya mengantuk di siang hari.
  • Narkolepsi merupakan keinginan tidur yang tidak tertahankan pada siang hari, meski tidur malamnya cukup.Bisa menyerang laki-laki maupun perempuan dewasa dan muda.
  •  Nocturnal myoclonus adalah keadaan dimana terdapat pergerakan periodik dari tungkai ke bawah ketika tidur.

    

BERBAHAYAKAH GANGGUAN TIDUR PADA ANAK ? 

Sejauh ini belum ada penelitian yang memastikan sebab akibat gangguan tidur bisa menimbulkan berbagai hal yang mengganggu. tetapi seringkali bila terjadi ghangguan tidur juga disertai oleh gangguan perilaku lainnya. Atau sebnaliknya pada anak gangguan perilaku sering mengalami gangguan tidur tetapu bukan sebagai sebab akibat. Tetapi banyak penelitian yang menunjukkan bahwa gangguan tidur yang disebabkan karena alergi makanan selalu disertai dengan gangguan organ tubuh serta gangguan perilaku seperti meningkatnya. Tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut terutama bukan karena akibat langsung gangguan tidur itu sendiri tetapi lebih disebabkan karena pengaruh alergi makanan yang terjadi.

 

  • Sakit kepala, migraine, vertigo, nyeri otot dan tulang, nyeri perut
  •  agresifitas anak,
  •  gangguan emosi,
  •  hiperaktif,
  •  gangguan konsentrasi
  •  gangguan belajar
  •  memperberat gejala autism dan ADHD.

 
DIAGNOSIS INSOMNIA ALERGI MAKANAN
  
  • Diagnosis insomnia alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Allergy Behaviour Clinic Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.

PEMERIKSAAN YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  •  Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

 

PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.     

  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey, meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.  
  •  Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

PENANGANAN 

  • Pengobatan gangguan tidur karena alergi makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila insomnia yang dialami disebabkan karena gangguan alergi makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.     

  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi makanan tidak diperbaiki.DAFTAR   

 

 Daftar Pustaka

1. Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
2. Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
3. Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
4. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
5. Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3. Review. Japanese.
6. A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 84 No. 4 October 1989, pp. 595-603
7. A. Kahn , M. J. Mozin, G. Casimir, L. Montauk , D. Blum. Insomnia and Cow’s Milk Allergy in Infants. Pediatrics Vol. 76 No. 6 December 1985, pp. 880-884
8. A. Kahn , M. J. Mozin , E. Rebuffat, M. Sottiaux, and M. F. Muller. Evaluating Persistent Sleeplessness in Children Milk Intolerance in Children With Persistent Sleeplessness: A Prospective Double-Blind Crossover Evaluation. Pediatrics Vol. 85 No. 4 April 1990, pp. 629-630
9. Pajno GB, Barberio F, Vita D, Caminiti L, Capristo C, Adelardi S, Zirilli G Diagnosis of cow’s milk allergy avoided melatonin intake in infant with insomnia.Sleep. 2004 Nov 1;27(7):1420-1.
10. Morriss R.Insomnia in the chronic fatigue syndrome.BMJ. 1993 Jul 24;307(6898):264.
11. Lichstein KL Secondary insomnia: a myth dismissed.Sleep Med Rev. 2006 Feb;10(1):3-5.
12. Barr RG, Konner M, Bakeman R, Adamson L. Crying in !Kung San infants: a test of the cultural specificity hypothesis. Dev Med Child Neurol. 1991;33 :601 –610
13. Barr RG, Chen S, Hopkins B, Westra T. Crying patterns in preterm infants. Dev Med Child Neurol. 1996;38 :345 –355
14. James-Roberts I, Halil T. Infant crying patterns in the first year: normal community and clinical findings. J Child Psychol Psychiatry. 1991;32 :951 –968
15. Wessel M, Cobb JC, Jackson EB, Harris GS, Detwiler AC. Paroxysmal fussing in infancy, sometimes called “colic.” Pediatrics. 1954;14 :421 –434
16. Lehtonen L, Gormally S, Barr RG. Clinical pies for etiology and outcome in infants presenting with early increased crying. In: Barr RG, Hopkins B, Green JA, eds. Crying as a Sign, a Symptom, and a Signal. London, United Kingdom: Mac Keith Press; 2000:169–178
17. Coons S, Guilleminault C. Development of sleep-wake patterns and non-rapid eye movement sleep stages during the first six months of life in normal infants. Pediatrics. 1982;69 :793 –798
18. Giganti F, Fagioli I, Ficca G, Salzarulo P. Polygraphic investigation of 24-h waking distribution in infants. Physiol Behav. 2001;73 :621 –624
19. Coons S, Guilleminault C. Development of consolidated sleep and wakeful periods in relation to the day/night cycle in infancy. Dev Med Child Neurol. 1984;26 :169 –176
20. Hoppenbrouwers T, Hodgman JE, Harper RM, Sterman MB. Temporal distribution of sleep states, somatic activity, and autonomic activity during the first half year of life. Sleep. 1982;5 :131 –144
21. Weissbluth M, Davis AT, Poncher J. Night waking in 4- to 8-month-old infants. J Pediatr. 1984;104 :477 –480
22. Stahlberg MR. Infantile colic: occurrence and risk factors. Eur J Pediatr. 1984;143 :108 –111
23. Rautava P, Lehtonen L, Helenius H, Sillanpaa M. Infantile colic: child and family three years later. Pediatrics. 1995;96(suppl) :43 –47
24. Lehtonen L, Korhonen T, Korvenranta H. Temperament and sleeping patterns in colicky infants during the first year of life. J Dev Behav Pediatr. 1994;15 :416 –420
25. Canivet C, Jakobsson I, Hagander B. Infantile colic. Follow-up at four years of age: still more “emotional.” Acta Paediatr. 2000;89 :13 –17
26. James-Roberts IS, Conroy S, Hurry J. Links between infant crying and sleep-waking at six weeks of age. Early Hum Dev. 1997;48 :143 –152
27. White BP, Gunnar MR, Larson MC, Donzella B, Barr RG. Behavioral and physiological responsivity, sleep, and patterns of daily cortisol production in infants with and without colic. Child Dev. 2000;71 :862 –877
28. Papousek M, vonHofacker N. Persistent crying and parenting: search for a butterfly in a dynamic system. Early Dev Parent. 1995;4 :209 –224
29. Kirjavainen J, Kirjavainen T, Huhtala V, Lehtonen L, Korvenranta H, Kero P. Infants with colic have a normal sleep structure at 2 and 7 months of age. J Pediatr. 2001;138 :218 –223
30. Wolff PH. The Development of Behavioral States and the Expression of Emotions in Early Infancy: New Proposals for Investigation. Chicago, IL: University of Chicago Press; 1987
31. Kahn A, Francois G, Sottiaux M, et al. Sleep characteristics in milk-intolerant infants. Sleep. 1988;11 :291 –297
32. Shapiro CM, Devins GM, Hussain MR. ABC of sleep disorders. Sleep problems in patients with medical illness. BMJ. 1993;306 :1532 –1535
33. Harrington C, Kirjavainen T, Teng A, Sullivan CE. Cardiovascular responses to three simple, provocative tests of autonomic activity in sleeping infants. J Appl Physiol. 2001;91 :561 –568
34. McNamara F, Sullivan CE. Sleep-disordered breathing and its effects on sleep in infants. Sleep. 1996;19 :4 –12
35. Barr RG, Kramer MS, Boisjoly C, McVey-White L, Pless IB. Parental diary of infant cry and fuss behaviour. Arch Dis Child. 1988;63 :380 –387
36. Guilleminault C, Souquet M. Scoring criteria. In: Guilleminault C, ed. Sleeping and Waking Problems: Indications and Techniques. Menlo Park, CA: Addison-Wesley Publishing Co; 1982:415–426
37. Lester BM, Boukydis Z, Garcia-Coll CT, Hole WT. Colic for developmentalists. Inf Ment Health J. 1990;11 :321 –333
38. Zeskind PS, Barr RG. Acoustic characteristics of naturally occurring cries of infants with “colic.” Child Dev. 1997;68 :394 –403
39. Anders TF, Halpern LF, Hua J. Sleeping through the night: a developmental perspective. Pediatrics. 1992;90 :554 –560
40. Hoppenbrouwers T. Polysomnography in newborns and young infants: sleep architecture. J Clin Neurophysiol. 1992;9 :32 –47
41. Emde RN, Metcalf DR. An electroencephalographic study of behavioral rapid eye movement states in the human newborn. J Nerv Ment Dis. 1970;150 :376 –386
42. Bamford FN, Bannister RP, Benjamin CM, Hillier VF, Ward BS, Moore WM. Sleep in the first year of life. Dev Med Child Neurol. 1990;32 :718 –72
4

Artikel Terkait lainnya :

Berbagai kumpulan Artikel Alergi

Supported  by

Widodo judarwanto, pediatrician
 
Children’s Allergy Center Online   www.childrenallergyclinic.wordpress.com/  
Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak  www.mypickyeaters.wordpress.com/  
Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com,
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.  
            

    Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved


Responses

  1. […] GANGGUAN TIDUR ANAK DISEBABKAN KARENA ALERGI MAKANAN ? Posted on August 17, 2009 by klinikpediatri BENARKAH SULIT TIDUR KARENA PENGARUH MAKANAN TERTENTU ? […]

  2. […] BENARKAH SULIT TIDUR KARENA PENGARUH MAKANAN TERTENTU ?  […]

  3. […] BENARKAH SULIT TIDUR KARENA PENGARUH MAKANAN TERTENTU ?  […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: