Posted by: Indonesian Children | September 22, 2010

Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau nonepileptic attack disorders dan Alergi-Hipersensitifitas Makanan

Kejang, Epilepsi dan Alergi – Hipersensitifitas Makanan

(Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau nonepileptic attack disorders)

Yanti, usia 5 tahun, sejak usia 2 tahun sering mengalami kejang tanpa disertai demam atau kadang disertai demam. Kejang kadang berlangsung 3 kali perminggu, bahkan penah saat demam mengalami kejang 3 kali dalam sehari. Telah dilakukan pemeriksaan CT Scan dan EEG yang telah menunjukkan hasil yang normal tanpa terdapat kelainan. Orangtua telah berpindah ke beberapa dokter dan telah diberi berbagai obat anti kejang tetapi keluhan kejang masih saja hilang timbul . Karena orangtuanya frustasi, akhirnya dibawa ke Singapura. Tetapi disana juga tidak menyelesaikan masalah, karena beberapa dokter yang dikunjungi memberikan opini yang berbeda. Opini berbeda tersebut ternyata juga dialami saat di Indonesia. Berbagai dokter ahli saraf yang dikunjungi mengatakan bahwa sebagian dokter berpendapat tetap harus diberi obat anti kejang tetapi sebagian dokter lain mengatakan tidak perlu diberi obat anti kejang karena tidak bermanfaat. Saat mengunjungi seorang dokter dan disarankan untuk mengendalikan gangguan alergi makanan dan hipersensitifitas makanannya ternyata beberapa keluhan membaik meski tanpa minum obat. Ternyata penderita tersebut menderita gangguan persarafan yang tidak khas yang sering dikelompokkan sebagai serangan kejang bukan epilepsi (Serangan kejang Non Epilepsi).

Serangan kejang bukan epilepsi (SKBE) telah lama dikenal dan sering menyulitkan para pakar di bidang neurologi atau epilepsi. Istilah yang sering digunakan adalah Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau nonepileptic attack disorders. Seangan tersebut mirip epilepsi tetapi tidak disertai lutpan muatan listrik abnormal di otak atau dalam pemeriksaan EEG normal. Gangguan-gangguan tersebut dalam penatalaksanaannya sering tidak optimal. Dalam pemberian obat antiepilepsi sering tidak berespon dengan baik. SKBE diklasifikasikan menjadi fisiologik dan psikologik.

Yang Termasuk Gangguan serangan kejang Non epilepsi yang disebabkan karena gangguan fungsi sistem otak adalah :

  • BREATH HOLDING SPELL
  • BENIGN PAROXYSMAL VERTIGO
  • RECURRENT ABDOMINAL
  • MIGREN
  • TRANSIENT GLOBAL AMNESIA
  • HIPERVENTILASI
  • SINKOP KARDIOGENIK
  • SINKOP NONKARDIOGENIK
  • GANGGUAN PEMBULUH DARAH OTAK
  • GANGGUAN GERAKAN ”MOTOR SPELL”

              *    HEADBANGING

              *    JITTERINESS

              *    BENIGN INFANTILE MYOKLONUS

              *    TICS

              *    SINDROMA TOURETTES

              *    GERAKAN CHOREIFORM

Gejala kejang yang sering dialami pada penderita alergi makanan dan hipersensitifitas makanan :

  • Serangan kejang bukan epilepsi : Kejang berulang timbul dengan demam atau tanpa demam. Pemeriksaan EEG dan CT Scan atau MRI normal. Serangan kejang yang disebabkan gangguan fungsional sistem saraf pusat ini seringkali menimbulkan banyak kontroversi pada beberapa dokter yang merawatnya
  • Breath Holding Spell : bila menangis napas sering berhenti sejenak dan bibir dan muka membiru.
  • Jittery saat bayi : tangan dan kaki mudah gemetar atau kaget saat ada suara keras
  • Epilepsi dengan berbagai tipenya. Terdapat kelainan pada pemeriksaan EEG
  • Gangguan gerak ”MOTOR SPELL”

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

(Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
 
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. 
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi). Hanya mau makanan yang crispy atau renyah seperti : krupuk, biskuit dan sebagainya.  Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  atau mengalami Infeksi Telinga. Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
 
Bila tanda dan gejala  gangguan berbagai kejang  pada anak tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) maka sangat mungkin gangguan  berbagai jenis  kejang tersebut diperberat oleh  karena alergi atau hipersensitifitas makanan.
Penyebab lain yang memperberat   gangguan berbagai kejang  pada anak tersebutadalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna 
 

Bila terdapat   tanda dan gejala  gangguan berbagai kejang  pada anak yang berulang tidak sembuh.   Bila telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli dan pemeriksaan tambahan EEG, CT Scan atau MRI tidak ditemukan penyebab pasti kelainannya, maka jangan lupa dipikirkan penyebabnya adalah alergi makanan atau reaksi dari makanan.

 
 
 
  
Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis  gangguan berbagai kejang  pada anak tersebut yang disebabkan dan diperberat   alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.  
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

 PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan  gangguan berbagai kejang  pada anak tersebut yang diperberat atau disebabkan  karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.    
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.  
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti kejang , anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Tetapi pada penderita epilepsi sebaiknya tidak dilakukan putus obat tanpa rekomendasi dokter ahli saraf anak yang merawatnya. Epilepsi pada penderita alergi biasanya pengaruh hipersensitifitas makanan hanya memperberat bukan penyebab utama. Penyebab utama epilepsi adalah gangguan aliran listrik diotak. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.  

Obat

  • Pengobatan gangguan berbagai kejang  pada anak tersebut yang diperberat atau disebabkan  karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.    
  • Konsumsi obat-obatan anti kejang, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menanganigangguan berbagai kejang  pada anak tersebut yang diperberat atau disebabkan  karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

  Daftar Pustaka

 

Link dan artikel Terkait :

Topik terkait :

 

DAFTAR PUSAKA        

 
Provided by
dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician
Children’s Allergy Center Online
Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak

Office : JL Taman Bendungan Asahan 5  Jakarta Pusat  Phone : (021) 70081995 – 5703646email :  judarwanto@gmail.com, www.childrenallergyclinic.wordpress.com/  

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.  

  

  

  

Copyright © 2010, Children Allergy Center  Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Responses

  1. [...] A, Bandyopadhyay S, Basu PK. Seizures due to food allergy. J Assoc Physicians India. 1994 [...]

  2. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  3. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… Provided by dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician Children’s Allergy Center Online Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak [...]

  4. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  5. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  6. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  7. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  8. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  9. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  10. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  11. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  12. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  13. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  14. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  15. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  16. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… Provided by dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician Children’s Allergy Center Online Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak [...]

  17. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  18. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  19. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  20. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  21. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… Provided by dr Widodo judarwanto SpA, pediatrician Children’s Allergy Center Online Picky Eaters Clinic, Klinik Kesulitan makan Pada Anak [...]

  22. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  23. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  24. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… Supported  by Widodo judarwanto, pediatrician [...]

  25. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  26. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  27. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]

  28. [...] Kejang, Epilepsi, Nonsiezure episode, Nonepilepticseizure, Nonepileptic paraxysmal disorders atau no… [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers

%d bloggers like this: